KPAI: Kami Apresiasi Perubahan Paradigma PPDB DKI Jakarta, Tidak Lagi Berdasarkan Nilai Akademik – strategi.id
Nusantara

KPAI: Kami Apresiasi Perubahan Paradigma PPDB DKI Jakarta, Tidak Lagi Berdasarkan Nilai Akademik

Strategi.id - KPAI: Kami Apresiasi Perubahan Paradigma PPDB DKI Jakarta, Tidak Lagi Berdasarkan Nilai Akademik

Strategi.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta tidak lagi didasarkan oleh Prestasi Akademik  seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan melalui Zonasi PPDB. Perubahan paradigma ini sangat diapresiasi KPAI, karena Pemprov DKI Jakarta dalam PPDB 2020  berkomitmen untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan pendidikan yang berkualitas tanpa melihat nilai akademik,namun didasarkan zona dan usia. 

Menurut Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti saat melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta terkait pengaduan ke KPAI, penetapan zonasi PPDB DKI Jakarta tidak sesuai dengan Permendikbud No. 44 Tahun 2020 dan ada pengadu yang keberatan dengan kriteria usia

“Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, menjawab pertanyaan KPAI, bahwa  kriteria pertama seleksi dalam Jalur Zonasi adalah tempat tinggal/domisili calon peserta didik harus berada dalam zona yang telah ditetapkan pada SK Kepala Dinas Pendidikan No. 506 Tahun 2020 tentang Penetapan Zonasi Sekolah untuk Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2020/2021” kata Retno dalam pers release, Rabu (17/06/20).

Retno menjelaskan apabila jumlah pendaftar PPDB Jalur  Zonasi melebihi daya tampung, maka dilakukan seleksi berdasarkan usia, urutan pilihan sekolah, dan waktu mendaftar.  Usia yang lebih tua akan didahulukan. Sistem sekolah pun dirancang sesuai dengan tahap perkembangan anak, karena itu, disarankan agar anak-anak tidak terlalu muda ketika masuk suatu jenjang sekolah dasar.

“Jadi dalam PPDB DKI Jakarta tidak ada syarat nilai akademik seperti selesksi tahun-tahun sebelumnya,” ujar Retno. 

Dia juga memaparkan menurut Kadisdik DKI Jakarta, kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang memberlakukan seleksi usia  dilatarberlakangi oleh fakta di lapangan bahwa masyarakat miskin justru tersingkir di Jalur Zonasi lantaran tidak dapat bersaing secara nilai akademik dengan masyarakat yang mampu.

“Oleh karena itu, kebijakan baru diterapkan, yaitu usia sebagai kriteria seleksi setelah siswa tersebut harus berdomisili dalam zonasi yang ditetapkan, bukan lagi prestasi” ujarnya.

Retno juga menjelaskan terkait adanya keberatan masyarakat atas kebijakan seleksi kriteria usia, bukan nilai akademik, dijelaskan oleh pihak Disdik, bahwa Pemprov DKI Jakarta  tidak mengabaikan prestasi siswa.

“Karena  tersedia Jalur Prestasi untuk menyeleksi siswa berdasarkan prestasi akademik maupun non-akademik. Prinsipnya, Pemprov DKI Jakarta berupaya menjamin keseimbangan antara variabel prestasi dengan kesempatan bagi masyarakat miskin untuk mengakses pendidikan yang berkualitas di sekolah negeri,” ungkap Retno.

Ia juga menjelaskan terdapat peningkatan kuota Jalur Afirmasi untuk jenjang SMP dan SMA, dari 20% menjadi 25 % dan jenjang SMK dari 20% menjadi 35%.  Selain itu, disediakan 40% kuota di Jalur Zonasi yang dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat yang berada di zonasi tersebut. Sedangkan untuk kuota Jalur Prestasi jenjang SMP dan SMA sebanyak 30%, dan jenjang SMK 60 %. Sementara porsi 5% sisanya untuk Jalur Perpindahan Orang Tua atau Guru.

“Meskipun Disdik DKI Jakarta menertapkan jalur zonasi 40% dibawah ketentuan Permendikbud yang seharusnya minimal 50%, namun  jika dihitung peningkatan di jalur afirmasi maka zonasi total 60%, karena  ada penambahan kuota  jalur afirmasi yang diperuntukan bagi  tenaga kesehatan covid 19 yang meninggal dalam tugas sebesar 5%, bahkan jalur afirmasi untuk SMK kuotanya ditambah 15%,” tutupnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top