Kriteria Generasi Millenial yang Pantas Menjadi Menterinya Jokowi - strategi.id
Corong

Kriteria Generasi Millenial yang Pantas Menjadi Menterinya Jokowi

Strategi.id - Kriteria Generasi Millenial yang Pantas Menjadi Menterinya Jokowi

Strategi.id – Generasi millennial yang akan mengisi calon menteri di kabinet Jokowi-Maruf amin, setidak-tidaknya harus memiliki tiga hal; ramah, gigih dan tahan banting.

Jika melihat debat capres dan cawapres kemarin, di periode ini Jokowi kelihatannya akan banyak melakukan lompatan dan terobosan yang lebih masif untuk mengejar kelambatan ekonomi dan hal-hal lain yang membuat program nawacita 2014-2019 kemarin tidak tercapai maksimal.

Para Menteri Jokowi-JK hari ini pasti tahu betapa lelahnya membantu Jokowi selama hampir lima tahun ini. Lihat saja menteri PUPR yang harus sigap setiap waktu berada di lapangan untuk memastikan seluruh pembangunan infrastruktur dapat selesai sesuat target.

Meski memimpin proyek-proyek besar yang didalamnya tentu banyak bersinggungan dengan berbagai kelompok sosial, tapi tidak pernah terdengar ia mengeluh. Bahkan di usianya yang mencapi 64 tahun ia masih terlihat gagah atas kegigihannya tersebut.
Atau barangkali kita bisa melihat menteri KKP yang terkesan galak dan sering marah-marah itu.

Di balik apa yang terekam media, ternyata Menteri KPP sampai sekarang masih sering nongkrong santai dan berdialog dengan nelayan. Walau digempur habis-habisan karena kebijakannya yang merugikan dan menguntungkan sebagian pihak, tetapi ia tetap berlaku ramah meski hatinya sangat marah.

Jika mereka saja bisa sesemangat itu, bagaimana dengan calon menteri millennial?

Secara pengalaman mungkin di bawah mereka, tetapi secara semangat kerja harusnya menteri millennial jauh berlipat-lipat di atas para menteri yang ada sekarang.

Calon menteri millennial yang akan membantu Jokowi harus sudah selesai dengan dirinya sendiri dan kepentingan praktis kelompoknya. Dalam lima tahun ke depan ia harus rela menghabiskan masa mudanya semata-mata untuk kepentingan Negara.

Selain harus memiliki kecakapan keilmuan, calon menteri millennial itu harus memiliki kecakapan karakter yakni berani, tegas, gesit, tangkas, ramah berkolaborasi dan pandai membaca peluang.

Karena seorang menteri bekerja tidak sendiri, maka calon menteri millennial juga harus punya jaringan ahli yang tepat, jaringan bisnis global, dan barisan politik yang kuat.

Untuk dapat mengoperasinalkan visi misi Presiden dengan tepat dan cepat, seorang menteri harus memiliki semua itu dan harus bisa mengatur ritme tiap-tiap jaringan bekerja.

Calon menteri millennial juga harus benar-benar paham tentang keberadaannya di ruang politik nasional. Jadi apapun yang dilakukannya, baik itu masalah pribadi sekalipun akan menjadi konsumsi publik dan sewaktu-waktu bisa menghantamnya turun dari tahta.

Apalagi sekarang di era post truth yang amat gaduh, sejengkal saja ada yang menteri yang masuk ke ranah itu, semua orang akan berusaha untuk menjatuhkannya.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa yang akan melakukan itu juga berasal dari dalam kabinet sendiri.

Jokowi tidak membutuhkan menteri millennial yang sekedar cantik atau tampan, tapi Jokowi butuh menteri millennial yang bisa jadi teladan, beda dan menggoda. Sebab untuk apa memasukan menteri millennial jika tidak bisa membuat beda dan tidak bisa “menggoda anak-anak muda lainnya untuk lebih tulus berbakti pada Negara.

Indonesia tidak butuh menteri millennial yang banyak wacana tapi miskin implementasi. Publik ingin melihat bagaimana larinya menteri muda itu ditengah para dedengkot politik kaum tua yang juga ikut berkompetisi.

Millenial sendiri semakin tidak sabar menunggu siapa yang dipilih dan sebanyak apa yang mampu dilakukannya nanti? apa akan menjadi kebanggaan bersama dalam sejarah kepemudaan kita, atau harus ikut menanggung malu karena dipercundangi teman segenerasinya sendiri.

Penulis: 
Dhimas Kaliwattu (Manager Program Indonesia Controlling Community)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top