La Peste - strategi.id
Dialektika

La Peste

Strategi id - La Peste ( Foto : FB Joko Widodo /Ist)
Strategi id - La Peste ( Foto : FB Joko Widodo /Ist)

Strategi.id – Ada banyak sejarah wabah berskala global, nasional maupun lokal, sebelum wabah Covid-19 yang kini melanda penduduk dunia. Semuanya mencekam, menakutkan dan membekukan kebudayaan.

Kaum agamawan, rohaniawan dan spiritual menganggapnya sebagai kutukan atau dosa yang harus ditanggung manusia. Karenanya mereka harus menebusnya dengan doa-doa atau persembahan.

Baca Juga : RT/RW Ujung Tombak Warga Tangkal Virus Korona

Para ilmuwan dan ahli pengobatan menganggap wabah ini disebabkan kesalahan cara hidup manusia atau juga sebab-sebab alamiah yang dapat diatasi dengan cara-cara ilmiah. Bukan dengan cara ritual.

Tak ada yang bisa disalahkan dari semua upaya untuk mengatasi wabah. Agama maupun cara ilmiah selalu memberikan stimulus pada manusia untuk optimis bahwa masalah akan dapat teratasi dengan sendirinya. Meski, seperti Covid-19 ini, tetap tak terjelaskan sebab dan bagaimana demikian cepatnya dia mencengkeram dunia.

Seperti cerita kota Oran yang tiba-tiba terserang wabah Sampar tanpa diketahui sebelumnya.

Baca Juga : Pepesthen Korona dan Bencana Kemanusian

Sebuah absurditas di mana tak satu orang pun dapat menjelaskan bagaimana ketenangan kota tiba-tiba terusik dengan berjangkitnya Sampar. Tak ada satu pun yang bisa menjelaskan sebab wabah berjangkit. Penduduk seakan tak dapat berbuat apa-apa. Hanya dapat menerima saja.

Ilmuwan dan dokter yang kerap memiliki jurus sakti dengan rumus molekulnya, adalah harapan. Apa lacur, dalam genangan wabah dan gelapnya kepanikan manusia, dokter tidak lagi menjadi penyembuh penyakit melainkan hanya mendiagnosa dan memutuskan pengisolasian penderita wabah.

Baca Juga : Mudahkan Impor Atau Kita Harus Siapkan Eskavator

Albert Camus tak sedang menggurui siapapun tentang moral lewat gambaran kondisi absurd manusia pada Novel “La Peste” (Sampar) 1947.
Ya, absurditas yang digambarkannya adalah bahwa penyakit Sampar bukanlah akibat dari suatu sebab.
Yang jelas, kondisi itu berujung pada penyingkiran, pengucilan, pengisolasian dan akhirnya pembekuan kehidupan manusia.

Jika demikian, apakah wabah dapat memberi hikmah pada manusia untuk menjaga keberlangsungan kehidupan? Atau wabah sengaja diciptakan untuk membekukan kehidupan demi sebuah penaklukan?.

Penulis: Ismail Arief Suryopranoto (Pengamat Sosial dan Budaya).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top