Legenda Aktivis " Bos" Rahman Tolleng - strategi.id
Tokoh

Legenda Aktivis ” Bos” Rahman Tolleng

Strategi.id- Aktivis Demokrasi, Rahman Tolleng, meninggal pada Selasa, (29/1/19) pukul 05.25 di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta. Berdasarkan pesan berantai di jejaring WhatsApp, Rahman Tolleng akan dibawa ke rumah duka di Jalan Cipedes Tengah 133, Bandung, Jawa Barat.

Sejumlah tokoh mengucapkan duka atas meninggalnya Bang Rahman Tolleng atau yang akrab dipanggil dengan sebutan “boss” oleh teman dekat beliau  baik lewat WhatsApp,tweeter maupun Facebook.

Baca Juga : Pengamat Indonesia Public Institute : Media Mitra Capres Bukan Musuh

Lewat akun twitternya, Goenawan Mohamad menulis, “Rahman Tolleng, aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) sejak akhir tahun 1950-an meninggal pagi ini di Jakarta. Pejuang demokrasi yang konsisten, tanpa pamrih, berkali-kali gagal — tanpa putus asa. Sahabat yang tak selamanya sepaham.”

Kemudian, ucapan senada juga disampaikan Ulil Abshar Abdalla. Ia menulis, “Kabar duka pagi ini: Rahman Tolleng, salah satu tokoh penting angkatan 66, wafat jam 5-an. Ikut berduka yg mendalam. Saya mulai bersahabat dengan sosok yg tajam pandangan-pandanganya ini ketika mengikuti pertemuan mingguan Forum Demokrasinya Gus Dur di tahun 90an.” 

Mantan Menristrek A S Hikam mengucapkan “Selamat jalan Bang Tolleng, semoga husnul khotimah. Jika nanti bertemu alm GD, lanjutkan diskusinya dan tertawalah seperti dulu ketika menikmati guyon beliau. Alfatihah..” dalam akun FB-nya.

Terakhir, Chatib Basri pun mengucapkan duka. Lewat Twitter, ia menulis “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Duka yang amat dalam pagi: telah meninggal dunia sahabat, kakak dan guru saya A. Rahman Tolleng. Nama yang akan tercatat dalam sejarah politik Indonesia. Saya akan selalu kenang, diskusi dan obrolan politik kita. Selamat jalan Bos.”

Rahman Tolleng dengan ciri khasnya selalu merokok mengunakan cangklong dikenal sebagai politikus idealis. Dorongan berpolitiknya datang dari rasa ke Indonesiaan yang bersemi ketika dia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar di Watampone, Sulawesi Selatan di penghujung 1945. Hampir setiap petang, bersama teman sepermainannya, ia mengintip sekelompok anak muda berlatih baris-berbaris di jalan raya. Mereka mengenakan pakaian putih dengan emblem merah-putih tersemat di dada.

Semasa hidup, Tolleng pernah menjabat sebagai Direktur Penerbitan Grafiti Pers pada 1991. Adapun dalam karir politiknya, Tolleng pernah menjadi anggota DPR Gotong Royong (DPRGR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada 1968-1971.Beliau juga pernah memimpin Pemred Harian Suara Karya serta turut menjadi saksi transformasi Sekretariat Bersama Golongan Karya menjadi Golkar. Kemudian menjadi anggota DPR/MPR pada 1971-1974

Rahman Tolleng memang dikenal di kalangan politikus, pers, hingga dunia penerbitan buku. Berikut strategi.id (29/1/2019) rangkum kilas balik Rahman Tolleng yang diperoleh dari berbagai sumber.

Aktivis Mahasiswa

Pria kelahiran Sinjai, Sulawesi Selatan, 5 Juli 1937 itu dicari-cari di era Orde Lama karena memprotes Dekrit Presiden Soekarno. Sesudah G-30-S, ia menggerakkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia di Bandung

Pada 1955-1959, Rahman Tolleng pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung, Jurusan Apoteker (1955-1959), meski tidak tamat. Pernah juga terdaftar sebagai salah seorang mahasiswa Universitas Padjajaran, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, namun juga tidak selesai.

Baca Juga : Mengenal Ubedilah Badrun Pengamat Sosial Politik Mantan Aktivis FKSMJ

Kemudian pada era Orde Lama, dirinya pernah menjadi buronan politik karena menentang rezim Nasakom Soekarno. Sesudah peristiwa Gerakan 30 September 1965, dirinya bergabung Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Bandung. Mewakili Sekretariat bersama organisas-organisasi mahasiswa local, dirinya duduk sebagai salah seorang Ketua Presidium KAMI pusat.

Pada 1965-1966, Rahman Tolleng ikut menggerakkan KAMI, yang juga aktif mendorong kaum muda melakukan perubahan.

Pada pertengah  1966, bersama Riandi dan Awan Karmawan Burhan menerbitkan mingguan Mahasiswa Indonesia. Roger K Paget, salah seorang pengamat pers Indonesia ketika itu, sempat berkomentar, “berkat mutu dan sikap radikalnya, Mahasiswa Indonesia dengan cepat memiliki reputasi sebagai koran intelektual yang banyak dibaca.”.

Namun sayang,  koran Mahasiswa Indonesia diberangus Orde Baru pada tahun 1974.

Transformasi Golkar

Menjelang pemilu 1971, putra saudagar dan pelaut Bugis ini terlibat dalam proses transformasi Sekretariat Bersama Golkar menjadi Golongan Karya. Karir politiknya maju pesat. Peristiwa Malari, 15 Januari 1974, menjadi titik balik baginya.

Rahman menjadi salah satu saksi sejarah peristiwa 15 Januari (Malari) 1974.  Saat itu di duduk sebagai Pemred Suara Berkarya

Ia dianggap terlibat dalam demonstrasi menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Tolleng ditahan bersama sejumlah intelektual dan pemimpin mahasiswa masa itu. Meski akhirnya dibebaskan, ia mulai terpinggirkan dari pentas politik. Bahkan, ia di-recall sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan kehilangan jabatan di Dewan Pimpinan Pusat Golkar.

Aktivitas Politik

Sebelumnya, pada awal 1990-an, bersama sejumlah intelektual aktivis, Rahman Tolleng mendeklarasikan lahirnya Forum Demokrasi (Fordem), yang selama bertahun-tahun menjadi wadah bagi sebagian aktivis prodemokrasi.

Fordem mengajukan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden alternatif menggantikan Soeharto waktu itu. Gus Dur akhirnya berhasil menjadi Presiden menggantikan BJ Habibie.

Baca Juga : Korupsi Kemenpora, Indonesia Muda Desak KPK Usut Dana Asian Games 2018

Namun, Fordem pun lambat-laun menghilang. Namun, Rahman Tolleng tak kenal menyerah. “Perjuangan politik adalah perjuangan nilai,” tandas mantan Ketua Dewan Pertimbangan Fordem ini.

Bagi ayah dua anak ini, usia bukan rintangan untuk tetap giat di dunia politik. “Kita adalah angkatan yang musti punah/Agar tumbuh generasi yang lebih sempurna di atas makam kami,” tulis GM.

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Atas