LIPI : Elit Partai Berperan Besar Dalam Mencuatnya Isu SARA – strategi.id
Nusantara

LIPI : Elit Partai Berperan Besar Dalam Mencuatnya Isu SARA

strategi.id – Hasil survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terhadap 145 orang ahli politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam, menunjukkan bahwa isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) menjadi besar karena dikapitalisasi dan dimanipulasi elite politik.

“Hasil survei LIPI menunjukkan bahwa isu SARA tidak signifikan terjadi di tingkat akar rumput. Isu SARA terjadi di Pilkada DKI karena kecenderungan manipulasi dan dikapitalisasi elite politik,” ujar peneliti LIPI, Prof. Syarif Hidayat dalam penjelasan hasil survei LIPI di Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) tidak terlalu signifikan terjadi di tingkat akar rumput. Dalam hasil survei LIPI yang dilakukan pada April hingga Juli 2018, terungkap besarnya gelombang SARA justru dipolitisasi para elite politik.

Penelitian itu dilakukan di 11 provinsi, yakni Sumatera Barat, Lampung, Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Bali, Sulawesi Tengah, NTB, NTT, Maluku, dan Papua. Survei dilakukan dengan menggunakan teknik non-probability sampling atau sampel ahli dipilih berdasarkan kriteria tertentu

Menurut peneliti LIPI, Prof. Syarif Hidayat, hasil survei ini juga membuka perilaku persekusi yang belakangan terjadi di masyarakat. Menurutnya, mayoritas persekusi yang terjadi disebabkan penyebaran berita hoaks sebesar 92,4%, ujaran kebencian 90,4%, radikalisme 84,2%, kesenjangan sosial 75,2%, perasaan terancam oleh orang atau kelompok lain 71,1%, sedangkan aspek relijiusitas 67,6% dan ketidakpercayaan antarkelompok/suku/agama/ras 67,6%.

Pernyataan Prof. Syarif Hidayat diukung jug dengan pernyataan Kordinator survei ahli LIPI Esty Ekawati mengatakan politisasi SARA dinilai menjadi yang tertinggi sebagai faktor penghambat Pemilu 2019.

“Para ahli mengatakan potensi yang bisa menghambat penyelenggaraan pemilu yang terttinggi adalah politisasi SARA dan identitas mencapai 23,6 persen,” ujarnya, di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Selasa (7/8).

Di urutan kedua, lanjut Esty, ada konflik horizontal antar pendukung paslon (12,3 persen).

Karenanya dia mengatakan, solusi yang diperlukan untuk menekan berkembangnya isu SARA adalah dengan mengelola dan mengendalikan perilaku elite politik.

Peneliti LIPI Prof Syamsuddin Haris juga mengimbau para elite politik untuk tidak mempolitisasi isu SARA demi kepentingan sesaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top