Manajemen Krisis Komunikasi – strategi.id
Dialektika

Manajemen Krisis Komunikasi

Strategi.id - Manajemen Krisis Komunikasi

Strategi.id – Krisis bisa hadir dalam berbagai wujud salah satunya seperti yang sedang terjadi saat ini, yaitu wabah virus corona Covid-19. Pandemi ini telah memaksa banyak negara melakukan lockdown atau pembatasan mobilitas warganya yang tentunya berdampak pada aktivitas perekonomian, politik, dan social negara tersebut. Salah satu negara yang terkena wabah virus corona Covid-19 adalah Indoensia. Itu sebabnya pemerintah Indonesia mengkategorikan ini sebagai krisis non alam berupa pandemi sehingga memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Krisis dapat terjadi secara alamiah, tidak terprediksi, dan tidak selalu merupakan hal yang buruk. Dalam menghadapi krisis, optimisme untuk menyusun langkah-langkah agar dapat keluar dari krisis merupakan modal utama. Pemberitaan media massa yang positif dapat membangun optimisme dan pola pikir masyarakat bahwa krisis tidak selalu memiliki sisi negatif.

Dampak yang ditimbulkan terjadi pada banyak perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan pelayanan serta produk. Maka perusahaan perlu melakukan berbagai upaya untuk mengatasi hal tersebut selama pandemik virus corona Covid-19 masih terjadi tak terkecuali di Indonesia. Banyak perusahaan atau organisasi harus mencari strategi untuk mengatasi masalah ini karena sifatnya yang lama dan melanda negara dan masyarakat di belahan bumi saat ini.

Kejadian krisis, apapun bentuknya, bisa berpotensi mengancam keberhasilan bisnis dan tentunya berdampak negatif pada keuangannya. Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan yang tepat agar bisnis tetap bisa bertahan di tengah krisis.

Menurut Ardianto, (2013) bahwa krisis adalah situasi-situasi yang ditandai dengan keterkejutan dan mengancam nilai-nilai penting, serta mengharuskan membuat keputusan dalam waktu singkat. Krisis juga dapat diartikan sebagai sebuah situasi atau kejadian besar dengan dampak negatif yang secara potensial mempengaruhi sebuah organisasi atau industri, termasuk publiknya, produknya, jasanya atau nama baik.

Dalam konteks Indonesia, situasi ini harus dihadapi melalui kebijakan-kebijakan yang melindungi masyarakat dan tatanan yang ada di dalamnya. Apabila krisisnya berlangsung lama dan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah tidak tepat maka ini menyangkut reputasi dan kredibilitas pemerintah. Dalam lingkup yang lebih kecil, hal ini sejalan dengan pengertian Hafied Cangara (2017) bahwa krisis adalah suatu kejadian yang tak terduga dan bisa merugikan reputasi, citra, dan kredibilitas perusahaan, organisasi atau individu.

Artinya krisis tidak hanya terjadi pada perusahaan atau organisasi karena mengalami penuruan pelanggan, melainkan krisis bisa terjadi pada semua bidang usaha, organisasi sosial politik, dan juga bidang pelayanan publik. Cara penyelesaiannya hampir sama tetapi berbeda pendekatan karena konteks yang berbeda.

Dalam kondisi ini manajemen krisis merupakan strategi yang sangat dibutuhkan oleh setiap organisasi atau perusahaan yang terkena dampak dari kejadian krisis. Selain menyangkut persepsi, reputasi dan citra, maka krisis itu harus ditangani dengan cepat dan tepat dengan terukur serta komunikasi yang tekun.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Timothy Coombs (2012) mendefinisikan krisis sebagai persepsi akan kejadian yang tidak dapat diprediksi yang mengancam harapan pemangku kepentingan yang secara serius dapat mempengaruhi kinerja sebuah organisasi dan menghasilkan output negatif.

Dalam krisis menurut saya kunci utamanya adalah komunikasi. Perlu komunikasi yang terus menerus dari pemerintah ke masyarakat, tentu melalui saluran-saluran yang digunakan.

Komunikasi tidak boleh terhenti di tengah jalan, bosan dan instan tetapi dengan kemampuan diseminasi informasi yang inovatif juga. Dalam bencana seperti ini perlu kemampuan atau keahlian komunikasi Krisis. Sebab komunikasi krisis adalah pengumpulan, pemrosesan, dan penyebaran informasi yang diperlukan untuk menangani situasi krisis. Sebuah fitur penting dari komunikasi krisis adalah pengelolaan komunikasi organisasi yang kompleks.

Tujuan dari manajemen krisis adalah untuk menghentikan dampak negatif dari suatu peristiwa melalui upaya persiapan dan penerapan beberapa strategi dan taktik (Kriyantono, 2015).

Maka dalam konteks ini, pemerintah membutuhkan public relations yang berperan sebagai pemecah masalah (problem solver) yaitu dalam menangani persoalan dan krisis yang terjadi saat ini. Public Relations bisa dimaknai sebagai penasehat ahli (ekspert prexciber) yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi untuk mencari solusi dalam proses merumuskan dan mengimplementasikan strategi menangani krisis.

Public Relations juga bertindak sebagai fasilitator komunikasi (communication facilitator) atau mediator yang dalam masa krisis anatar pihak-pihak yang ada di dalamnya. Public Relations sebagai teknisi komunikasi (communication technician) berfungsi journalist in resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan method of communication.

Teori manajemen krisis umumnya didasarkan pada bagaimana menghadapi krisis (crisis bargaining and negotiation), membuat keputusan di saat krisis (crisis decision making) dan memantau perkembangan krisis (crisis dynamics). Sebab esensi dari manajemen krisis adalah upaya untuk menekan faktor ketidakpastian dan faktor resiko hingga tingkat yang paling rendah.

Penulis: Rialdo Rezeky
Dosen FIKOM Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top