Mantan Aktivis 98 Trisakti Hendro Cahyono Blak-Blakan Soal Kerusuhan 1998 - strategi.id
Corong

Mantan Aktivis 98 Trisakti Hendro Cahyono Blak-Blakan Soal Kerusuhan 1998

Strategi.id - Mantan Aktivis 98 Trisakti Hendro Cahyono Blak-Blakan Soal Dalang Kerusuhan 1998

Strategi.id – Julianto Hendro Cahyono masih mengingat dengan jelas tragedi mengerikan yang terjadi di depan kampusnya, Universitas Trisakti, pada Selasa 12 Mei 1998. Hendro saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiwa Fakultas Ekonomi sekaligus Ketua Senat Universitas Trisakti (1997-1998).

“Waktu itu saya dibawa oleh teman saya ke lantai 9 Ruang Purek III, karena habis tertembak peluru karet. Saat kerusuhan itulah empat adik kelas saya tertembak oleh peluru tajam,” kata Hendro mengenang hari berdarah hampir dua dekade lalu saat ditemui wartawan, (2/5/19).

Baca Juga : Wiranto Tantang Prabowo dan Kivlan Sumpah Pocong soal 98

Keempat mahasiswa Trisakti yang tewas tersebut adalah Hafidin Royan, Elang Mulia Lesmana, Hery Hartanto, dan Hendryawan. Hendro menduga keempatnya tewas bukan karena timah panas yang dilontarkan secara membabi-buta, melainkan karena mereka memang dibidik.

“Karena mereka ditembak di daerah yang mematikan. Royan itu ditembak di bagian kepala sampai menembus otak,” kata Hendro. Ia mengatakan penembakan terjadi saat mahasiswa Trisakti menggelar unjuk rasa di kampus. Aksi berawal dari mimbar bebas serta aksi damai di dalam kampus sebelum akhirnya letupan senjata membuat mahasiswa berlarian.

Hendro mengatakan sebelum korban berjatuhan di Trisakti, gerakan mahasiswa yang menuntut reformasi telah bergulir di sejumlah daerah. Bahkan, gerakan tersebut telah merenggut sejumlah nyawa.

“Sebelum Soeharto terpilih jadi Presiden pada Sidang Umum MPR 1997, gerakan mahasiswa sudah ada embrionya di daerah-daerah. Jauh sebelum 12 Mei 1998, mahasiswa UNS Solo sudah demo, begitu juga di Bogor dan Yogyakarta. Itu udah berdarah-darah,” katanya.

Lantas, seperti apa situasi di Kampus Trisakti saat itu dan bagaimana empat mahasiswa bisa tewas? Siapa pula dalang di balik kerusuhan 1998?

Yuk! Simak wawancara eksklusif bersama pelaku sejarah sekaligus saksi hidup kerusuhan 12 Mei 1998.

1. Apa sih pemicu kerusuhan 12 Mei 1998?

Pergerakan mahasiswa hadir karena kita kena imbas krisis ekonomi global, Korea Selatan, Thailand, Filipina, kemudian Indonesia. Titik kulminasinya saat melihat rezim Soeharto tidak lagi konsisten membangun Indonesia. Sistem politik tersentralisasi oleh Golkar dan ABRI. Soeharto terpilih lagi menjadi presiden hasil Sidang Umum MPR 1997. Harga dolar meroket tinggi dari sekitar Rp2400-2600 menjadi Rp16 ribu. Harga sembako melambung tinggi. Terus utang negara yang terus bertambah.

Akhirnya, krisis yang melanda Indonesia bergulir seperti snow ball. Pemerintah utang dengan IMF untuk menutupi utang yang ada. Pada saat itu, ketua IMF-nya adalah Michael Camdessus. Itu tersebar di fotonya, dia melihat Pak Harto menandatangani taken perjanjian sambil menyilangkan tangan. Waktu itu jadi joke untuk mahasiswa, ini kan lu (kamu) sama konglomerat lu (kamu) yang ngrusak ekonomi, kenapa jadi gue yang nanggung utangnya? Itu kita seolah udah gak punya harga diri banget.

2. Apa yang membuat mahasiswa bersatu melawan rezim kala itu?

Jadi sistem kala itu sifatnya represif terhadap yang kritis. Satu-satunya yang bisa kritis adalah mahasiswa, karena cuma mereka yang punya gerakan intelektual dan moral yang bebas untuk mengkritisi pemerintahan. Waktu itu gerakan mahsiswa masih bersifat bawah tanah, karena memang gak boleh politik praktis, tapi memang lama-kelamaan semakin membesar gerakannya.

Mahasiswa juga beragam ideologinya waktu itu. Tapi karena ada satu main issue, yaitu reformasi atau revolusi bagi teman-teman yang mengusung ideologi kiri, akhirnya gerakan mahasiswa bersatu. Tapi memang saat itu gerakan mahasiswa masih sporadis, belum terstruktur. Itu sudah terlihat gerakannya di berbagai daerah.

3. Bagaimana kisah Trisakti menjadi gong reformasi?

Nah waktu itu gongnya memang Kampus Trisakti. Kalau bicara siapa yang duluan, memang kita paling akhir, karena selama tiga bulan terakhir, saya berusaha terus mengonsolidasikan bersama teman-teman lain. Sebelum peristiwa 12 Mei 1998, yang memakan empat orang korban, setiap fakultas sudah mengadakan aksi damai berupa mimbar bebas di setiap fakultasnya sejak Februari 1998, jadi di waktu kuliah ada orang cuap-cuap. Saat itu ada drum band-nya juga di Plaza Trisakti.

Nah, hingga 12 Mei 1998, itu saya berhasil mengonsolidasikan 18 jurusan dan 9 fakultas. Kami pun sempat berdebat dengan jajaran rektorat supaya mereka mendukung reformasi. Akhirnya senat guru besar mengadakan rapat khusus untuk mendukung gerakan mahasiswa.

12 Mei 1998, kita kompak, baik sekolah tinggi dan akademinya menggelar aksi. Dulu memang demo gak boleh di luar kampus sama Pak Wiranto selaku Panglima ABRI dan Pak Dibyo Widodo selaku Kapolri. Mereka keras banget sama gerakan mahasiswa.

Kita waktu itu sepakat untuk buat demo besar, semacam aksi damai, bagi-bagi bunga terus long march dari Kampus A ke DPR. Walau kita tahu DPR dan MPR masih tercemar Orba, tapi minimal kita menyuarakan. Setiap harinya saja polisi sudah stand by depan kampus terus.

Saat itu memang saya kebetulan izin kepada Kapolres Jakarta Barat, Pak Timur Pradopo, karena memang rencananya aksi di dalam kampus. Eh pas mimbar bebas semakin gede, udah akhirnya teman-teman pada long march, polisi dikit yang ngawal karena memang kita izinnya di dalam kampus. Gak jauh long march, sekitar 300-500 meter, kami ketahan di depan Kantor Walikota Jakarta Barat. Itu ketahan dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore, ketutup sama barikade polisi.

Saya tetap nego ke Pak Timur, karena memang ini sejarah bagi Trisakti ada massa segede ini dan turun ke jalan. Waktu itu Pak Timur bilang “Dek Hendro, ini kalau sampai setengah lima gak bubar, saya rangsek ini semua!”.

Ya saya tetap nego, karena memang gak ada bentrok dan jarak antara petugas dengan mahasiswa itu kelihatan sekali ada jaraknya.

4. Lantas, bagaimana detik-detik kerusuhan bisa terjadi?

Hari semakin sore, gak lama setelah Pak Timur ngomong, datanglah itu pasukan dari Polda pada bawa motor. Kemudian ada lagi pasukan dari Brimob. Waktu itu dipimpin oleh Kolonel Arthur Damanik, sedangkan Pak Timur pangkatnya hanya Letkol. Jadi pengendalian massa langsung pindah.

Nah di situlah bentrokan terjadi. Kita ditembak-tembakin, kita didorong pakai motor, teman-teman pada lari ke kampus. Untuk sore itu massanya gak sebanyak pagi hari, paling hanya sekitar 5 ribu orang. Itu gue ikut lari juga, takut juga kan kita. Sampe akhirnya gue kena tembakan peluru karet di bagian punggung kanan belakang oleh Brimob dari jarak satu meter.

Dalam keadaan sakit itu gue dipopong sama temen gue untuk dibawa ke lantai sembilan ruang Purek III. Dalam keadaan sakit gue lihatin itu bentrokan. Polisi pada naikin fly over Grogol sambil nembak teman-teman gue. Itu tembakan gak berhenti dari jam lima sampai jam sembilan malam. Mereka nembak udah kayak nembakin rusa. Ada ratusan korban gas air mata dan peluru karet, ada juga 41 orang terkena peluru tajam dan empat di antaranya meninggal dunia.

Berita ada empat orang meninggal itu jadi headline di stasiun televisi. Gue juga tahu pas dibawa ke RS Pertamina. Awalnya gue mau dibawa ke RS Sumber Waras, tapi gue bilang ‘Jangan, nanti bisa hilang gue’ karena memang Sumber Waras waktu itu jadi rumah sakit buat evakuasi korban kerusuhan. Semua korban itu baru dievakuasi pas jam setengah 10 malam.

Gue tahu ada temen gue meninggal pas di rumah sakit lihat di TV. Gue yakin banget yang nembakin itu bukan polisi sembarangan, karena mereka (mahasiswa) ditembak di daerah mematikan. Ada yang ditembak di kepala sampai tembus ke otak. 

5. Apakah terbesit anda bakal kehilangan nyawa?

Wah udah gak mikir begituan lagi (hilang atau tewas). Bismillah aja, lillahi ta’ala. Sejak teman gue ditembak, mungkin ini bagian dari takdir gue. Yang penting kita niat baik, itu pegangan hidupnya. Kita cuma bisa pegangan sama Allah aja waktu itu.

Syukur Alhamdulillah, ayah dan ibu dukung aktivitas saya. Begitu orang tua saya tiba di rumah sakit, melihat keadaan saya, saya langsung duduk menandakan kalau saya sadar. Itu ibu saya hampir pingsan. Tapi ayah saya langsung bilang, “Kalau kamu merasa apa yang kamu perjuangkan itu benar, kamu harus kembali ke kampus besok subuh,”.

Gue juga dikabarin kalau selama tiga bulan jadi target operasi (TO) Kopassus. Jadi selama tiga bulan, sebelum kerusuhan 12 Mei, itu gue gak balik ke rumah. Belakangan gue tahu kalau gue dilindungin sama Marinir, mereka menyamar di sekitar gue untuk ngelindungin.

6. Setelah kerusuhan 12 Mei 1998, apa yang terjadi?

Keesokan harinya, teman-teman dari kampus lain datang, termasuk Syafiq Alaiha. Mereka menginginkan agar jenazah dimakamkan sambil dibawa long march. Tapi kan sejak pagi jenazah sudah dibawa ke rumah duka.

Memasuki 13 Mei, itu gerakan mahasiswa sudah mau dinodai. Banyak massa dari luar datang. Waktu itu gue sempet orasi terus bilang ‘Temen-temen mahasiswa yang berjaket, jangan sampai ada yang keluar kampus dan terprovokasi’, karena memang banyak massa yang gak pake jaket saat itu. Tujuan mereka itu berbuat vandal. Akhirnya mereka merusak lampu jalan sampe bakar ban di depan Trisakti.

Nah ini yang menarik, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Ada truk sampah berhenti depan kampus, gue lihat kalau sopirnya pakai baju Pemda. Dia turun terus gue lihat siram, entah air, bensin, atau minyak tanah, terus dibakarnya itu truk dan dia kabur.

Terus ada truk Fuso, itu sopirnya loncat dan pedal gasnya kayak ditiban sama batu bata untuk tabrak-tabrakin massa. Jadi memang dia sengaja mau menodai gerakan mahasiswa. Sebagian dari massa memang kecewa karena mahasiswa gak mau gabung dengan mereka.

7. Apa yang dilakukan petugas keamanan di tengah kericuhan?

Tanggal 14 Mei, gue sama tujuh orang teman pergi ke Komnas HAM untuk menyerahkan barang bukti yang sudah dibawa oleh TGPF, berupa proyektil peluru, pakaian, kronologis, pokoknya segala macam bukti. Sekembalinya, gue dicegat sama polisi dalam perjalanan ke kampus. Dia bilang, “Bapak kalau ke Slipi bisa mati karena sudah dikepung massa, mereka sudah buat kerusuhan,”. Saat itu pokoknya saya harus balik ke kampus, saya siap menanggung resiko yang ada.

Di jalan, gue lihat itu massa udah bawa parang sama golok digesekin ke aspal. Kita nekat aja, ya udah saya bilang ke yang lain kita harus pakai jaket mahasiswa. Pas dia mau bacok, dia kaget karena lihat jaket biru ada lambang Trisaktinya. Wah mereka langsung angkat tangan sambil bilang hidup mahasiswa, hidup reformasi.

Cuma ya itu, kerusuhan massa waktu itu sudah ngambil-ngambilin barang elektronik. Padahal ada petugas keamanan sudah siap dengan senjatanya, tapi mereka diam aja.

8. Seperti apa kronologi menjelang lengsernya Soeharto?

Waktu itu teman-teman sepakat untuk menduduki DPR/MPR sebelum tanggal 19 Mei. Nah 18 Mei ketua-ketua Senat kampus se-Jabodetabek ada juga dari UGM datang nemenuin Pak Harmoko selaku ketua DPR lain, ada juga anggota DPR lainnya. Kita minta agar Soeharto turun.

Sebelum ketemu Harmoko, kita dihadang sama Pemuda Pancasila waktu itu diketuai oleh Yoris Raweyai sama Jawara Banten, mereka udah pada bawa golok. Tapi saya bilang kita jangan lawan karena kalah pasukan. Keesokan harinya, kita sepakat untuk bawa massa dari masing-masing kampus. Ya sudahlah tuh, saat rame-rame mahasiswa menduduki DPR, Pemuda Pancasila sama Jawara Banten kalah jumlah massa.

Nah pas kerusuhan 12 Mei itu, Soeharto sedang ada di Mesir dia baru kembali 15 Mei. Nah 13 Mei-nya itu ada kumpul di Kostrad yang dipimpin langsung oleh Prabowo, ada Adnan Buyung, ada Fadli Zon juga.

Nah, sekembalinya Soeharto 15 Mei, dia langsung mengadakan kumpul bersama tokoh agama dan tokoh nasional, waktu itu ada Nurcholis Madjid, Cak Nun, Ketua MUI dan masih banyak lagi. Saat itu dia merasa ada yang tidak beres, dia merasa orang-orang di sekelilingnya main mata untuk melengserkan dia. 

Setelah dia kembali dari perhelatannya ke Mesir dan sebelum mengundurkan diri dari kursi kepresidenan, Soeharto memberian surat semacam Supersemar kepada Wiranto yang menandakan ABRI bisa ambil alih kekuasaan dalam kondisi negara darurat.

Kembali ke tanggal 20, itu rapat terus terjadi. Akhirnya dia siap untuk mengundurkan diri. Itu kita nginep dari tanggal 20 untuk menunggu hasil rapat. Akhirnya tanggal 21 pada pestalah waktu itu mahasiswa di Gedung DPR.

Nah, pas 23 Mei itu, karena DPR terlalu lama diduduki, akhirnya keluar tank Angkatan Darat. Saat itu pula berhadapan sama tank Angkatan Laut. Di situ saya salut banget sama angkatan laut karena mendukung mahasiswa untuk reformasi. Marinir juga yang melindungi saya selama saya jadi TO, waktu itu KSAL-nya Arief Koeshariadi.

9. Menurut anda, siapa dalang penembakan pada 12 Mei 1998?

Sebenarnya ini masih menjadi pertanyaan yang ingin kita ungkap ya. Tapi, TGPF yang kita bentuk mendesak DPR untuk membentuk Pansus untuk mengusut kasus ini. Itu jenderal-jenderal sempat dipanggil, termasuk Prabowo dan Kapolres Timur.

Waktu itu saya salut dengan Prabowo, dia sangat gentlemen, datang kayak cowboy sendirian. Tapi sayang, ngeselinnya, dia juga gak berani ngomong siapa dalangnya. Dia hanya menangis, berlinang air mata, takut akan kariernya dicopot.

Hendro menceritakan Pansus saat itu juga memanggil Timur Pradopo. Namun Timur juga tidak mengungkap siapa dalang penembakan terhadap mahasiswa Trisakti.

Kemudian, tahun 2003, sekitar jam tujuh, saya pernah dipanggil oleh Wiranto ke rumahnya di Bampu Apus. Di situ dia bilang kalau bakal mendirikan partai dan ingin jadi presiden.

Di situ gue dengerin maksudnya apa dan gue bilang “Kalau Bapak mau jadi presiden pakai mekanisme demokrasi ya silahkan. Tapi sebelum saya bergabung ke partai Bapak, saya mau tahu dulu, ini demi pelurusan sejarah bangsa dan demi seluruh cucu-cucu saya, saya mau dengar siapa dalang kerusuhan 1998?”.

Di situ dia langsung serius mukanya. Ya saya tegaskan kalau saya gak bisa gabung ke partai dia (karena Wiranto tidak menyebut siapa dalang kerusuhan 1998), karena ini pertanggungjawaban gue dunia-akhirat, sampai ada teman gue yang meninggal. Kalau denger ungkapan dia, berarti dia tahu kan pelakunya dan kamu pahamlah maksud saya kan.

10. Reformasi telah lahir, rezim telah berganti, tapi sudahkah keadilan ditegakkan?

Kita terus mendorong Pansus DPR, kita terus meminta agar membentuk lembaga Ad Hoc, kita juga membentuk Paperti yaitu paguyuban yang menaungi aktivis Trisakti 98. Nah, saya ini sekarang kader Partai Demokrat dan saya sebelumnya pernah ikut pemilu legislatif juga, tapi kalah.

Ketika saya bargain dengan SBY agar masuk ke Demokrat, saya merasa ironis karena mereka yang mengaku sebagai “korban” atau kambing hitam atas insiden 12 Mei, itu jadi tokoh bangsa semua. Misalnya Pak Timur kan diangkat oleh SBY jadi Kapolri. Nah saya minta agar waktu itu Pak Timur dicopot dari Kapolri, akhirnya dicopot dia walau usianya masih bisa menjabat. Saya juga meminta kepada SBY untuk mengusut kasus 12 Mei sampai tuntas, meski gak ada kejelasan.

Baru-baru ini, saya habis bertemu dengan Mensos Idrus Marham. Saya mengajukan agar keempat rekan yang gugur diangkat menjadi pahlawan nasional dan tanggal 12 Mei diperingati sebagai Hari Mahasiswa. Jadi saya kira, upaya-upaya seperti itu masih menjadi cara saya untuk berjuang mencari keadilan untuk teman-teman saya.

Baca Juga : Time : Soeharto Dan Kerajaan Orde Baru

Baru-baru ini, teman-teman dari Paguyuban Persaudaraan Trisakti (Paperti) 1998 sama Pengurus Pusat Ikausakti bertemu dengan Mensos Idrus Marham. Kita mengajukan agar keempat rekan yang gugur diangkat menjadi pahlawan nasional, meski mereka sudah diakui sebagai perjuang reformasi. Kemudian, untuk 12 Mei kita mengajukan agar diperingati sebagai Hari Mahasiwa Nasional.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top