Memaknai Narasi Curang - strategi.id
Dialektika

Memaknai Narasi Curang

Strategi.id – NARASI Curang yang keras terdengar di Sosmed saat ini, tentu di latari asumsi yang berbeda dengan Narasi Kemenangan. Tapi disini kita hanya membatasi pembicaraan tentang Narasi Curang saja.

Narasi Curang tentang Pemilu Serentak saat ini yang di alamatkan kepada KPU sebagai penyelenggara PEMILU yang banyak beredar di kalangan Netizen saat ini lebih banyak di dasari dari hasil Rekapitulasi yang di entry kedalam Situng yang memang sudah ada sejak tahun Pemilu tahun 2014 lalu.

Baca Juga : Jokowi Menjawab, Dari Tudingan Curang hingga Suara Kecil di Sumbar

Disini perlu kita pahami dulu, bahwa para operator untuk mengentry data dari Salinan C1yang diterima KPU, wajib mengentry data sesuai Salinan C1 tersebut terlepas dari ada salah atau sudah benar hasil rekapan tsb yang di buat di TPS.

MUNGKIN kah ada kesalahan dalam menulis dan menjumlah angka di tiap TPS ??tentu sangat mungkin, mengingat dalam PEMILU serentak yang kali ini, ada 5 Surat suara, untuk setiap Pemilih. yaitu satu untuk Pilpres dan 4 suarat suara untuk Legislatif.

LETAK SALAH TULIS

Begitu jadwal pencoblosan ditutup, selanjutnya tugas KPPS melakukan penghitungan perolehan suara, yang di tuangkan kedalam Kertas PLANO C1 dan disaksikan oleh para saksi-saksi, baik saksi Parpol, saksi DPD, Saksi Capres, Panwaslu, dan masyarakat sekitar yang hadir,

Sehingga Perolehan suara yang di tulis dalam Kertas PLANO C1 ini, dapat dikatakan sudah BENAR sesuai dengan apa yang real terjadi, karena jika ada saksi yang keberatan saat penghitungan suara per suara, itu dapat protes atau complain, dan proses hitungan dapat di ulang kembali.

Selanjutnya berdasarkan data dari kertas PLANO C1 tadi, Petugas KPPS membuat salinannya sebanyak minimal 4, yaitu 2 untuk PPS Kelurahan, satu untuk Panwas, satu untuk arsip KPPS. Sisanya tergantung jumlah saksi parpol yang hadir. Semakin banyak saksi parpol yang hadir dan menyerahkan surat mandat, semakin bertambah banyak pula salinan yang harus dibuat.

Nah disinilah sering ada KEKELIRUAN dalam menyalin data dari kertas Plano C1 ke formulir Salinan C1.

Kekeliruan menyalin itu dapat disebabkan banyk hal, diantaranya mungkin karena kelelahan fisik dan mental, mengingat banyaknya lampiran yang harus disalin dan jam kerja yang sangat panjang bisa 20 jam s/d 36 jam, tanpa istirahat.

Sebagai contoh, misalnya untuk untuk formulir Model C1- DPR RI saja, ada sekitar lima lembar halaman yang masing-masing halaman harus ditandatangani semua anggota KPPS dan para saksi. Banyaknya halaman tergantung dari banyaknya caleg yang terdaftar dalam surat suara, begitu juga C1-DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kota yang jumlah lembar halamannya juga sama banyaknya. Masih ada pula beberapa formulir lain yang harus ditandatangani setiap halaman dan dibuatkan salinannya beberapa kali.

NAMUN demikian yang harus kita garis bawahi, bahwasannya Kekeliruan menyalin itu, hanyalah pada formulir Salinan C1 yang dari Kertas PLANO C1, bukan yang ada pada kertas PLANO C1 yang disimpan dalam dalam Kotak suara yg disegel untuk dikirim pada tingkatan berikutnya.

Baca Juga : Seknas Prabowo-Sandi Siap Menang Atau Kalah Asal Tidak Curang

KOREKSI KESALAHAN

Jika ditemui Kesalahan dalam penulisan di Formulir C1, maka Koreksi atau revisinya tidak bisa dilakukan serta merta dalam situng, TETAPI harus dilakukan dengan melihat C1 yang asli di Forum Resmi rapat Pleno Terbuka (Penghitungan Manual) dengan disaksikan oleh para Saksi baik saksi dari masing-masing pasangan Capres, Papol dan DPD, Panwaslu, PPK, dan Masyarakat umum lainnya, ketentuan ini dapat kita lihat di PKPU 4 tahun 2019 Pasal 22.

Jika dianggap masih ada kesalahan berdasarkan UU no 7 tahun 2017 pasal 378 dan 379 jo PKPU 4 tahun 2019 pasal 74 dan 75 dapat dilakukan HITUNG ULANG di Kecamatan yang akan dituangkan dalam Form Model DA1. Jadi Instrumen untuk memperbaiki sebuah kesalahan relatif sudah berlapis.

Karena nanti dari Form Model DA1 di tingkat Kecamatan, akan naik ke Pleno Terbuka di Tingkat Kota dengan Form DB!, Selanjutnya di Pleno Terbuka lagi di Tingkat Provinsi dengan Form DC1, Dan Terakhir di Pleno terbuka di tingkat Nasional di KPU RI yang akan di tuangkan kedalam form DD1.

Jadi, dengan adanya rapat pleno terbuka untuk setiap jenjang penghitungan perolehan suara, rasanya relative kecil jika kecurangan dapat dilakukan oleh siapapun peserta pemilu, karena setiap saksi yang hadir tentu memiliki data pembanding dari formulir salanan C1 yang dimilikinya.

Baca Juga : Membawa-Bawa Tuhan Dalam Pilpres

PENUTUP

Tapi seandainya narasi Curang itu adalah ungkapan dari Ketidakpuasan hasil yang diperoleh, itu tentu hal lain lagi, dan ini sifat dasar dari manusia, pada hakekatnya TIDAK begitu suka dengan berita yang tidak menyenangkan, kendati itu fakta adanya.

Hanya saja ketika hal ini di ”mainkan” seolah sesuatu yang benar terjadi, di tengah masyarakat di era digital ini, yang rentan di terpa oleh situasi Post truth dalam menggunakan social media, dimana informasi tak berdasar dapat diterima menjadi sebuah kebenaran, karena orang lebih suka menggunakan keyakinan dan perasaan pribadi dibandingkan fakta-fakta yang obyektif dalam menyikapi suatu opini, ini sangat berbahaya dalam konteks pencerdasan kehidupan bangsa, dan konteks persatuan bangsa. Karena seperti yang kita baca dalam sejarah, ahli Propaganda Nazi Joseph Goebbels, mengatakan bahwa “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan ! Sedangkan kebohongan sempurna, adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja.”

Semoga ini tidak terjadi dalam sejarah perjalanan Sistem Demokrasi di Negara kita.

Penulis Dr Usmar , Dosen di beberapa kampus di Jakarta dan Pengamat Sosial Politik Ekonomi Indonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top