Kategori: Corong

Membawa-Bawa Tuhan Dalam Pilpres

Strategi.id – Polarisasi di dalam Pilpres 2019 saat ini, bukan saja menghadirkan 2 kubu pasangan calon Presiden, melainkan juga menyuguhkan klaim representasi ideologis. Sesekali muncul terminologi pertarungan Pancasila vs Khilafah, di waktu yang lain terucap Nasionalis vs Islam dan lain-lain. Politisasi agama bukan barang baru bagi politik Indonesia, mulai dari partai politik islam hingga organisasi kampung berlabel halal pun mewarnai konstalasi politik dan turunannya.

Baca Juga : Hoax dan Pilpres di Era Post Truth

POLITISASI AGAMA
Politisasi agama adalah politik manipulasi mengenai pemahaman dan pengetahuan keagamaan dengan menggunakan cara propaganda, indoktrinasi dan kampanye ke hadapan publik agar terjadi migrasi pemahaman. Kemudian dilakukan tekanan untuk mempengaruhi konsensus keagamaan dalam upaya memasukkan kepentingan sesuatu ke dalam sebuah agenda politik, pemanipulasian masyarakat atau kebijakan publik.

Dalam konteks ini, agama hanya dijadikan alat legitimasi politik untuk melegalkan segala bentuk kecurangannya dalam mencapai tujuan politiknya. Agama sebagai alat pembenaran lebih disukai dari pada sebagai alat menggapai kebenaran itu sendiri.

Tanpa ada keraguan dan rasa berdosa sedikit pun, ayat-ayat al-Qur’an dan teks-teks al-Hadist dijadikan alat kampanye untuk menunujukkan bahwa diri dan kelompoknya lah yang paling Islam, sedangkan yang lain tidak Islam. Sehingga dibangunlah sebuah opini, bahwa hanya dirinya dan kelompoknya yang pantas dipilih dan dibela dalam kontestasi politik yang berlangsung (baca: pemilu), sedangkan yang lain, tidak.

Ajaibnya, kelompok-kelompok yang mengaku agamis ini akan menyerang lawan-lawan politiknya dengan tuduhan menentang ketentuan yang digariskan Tuhan dalam agama.

POLITIK DAN ISLAM
Politik sama sekali tidak diharamkan dalam Islam, bahkan dalam Islam dikenal konsep siyasah atau “fiqih Siyasah”. Menurut Prof Ahmad Sukardja, dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Ajaran, fikih siyasah adalah salah satu disiplin ilmu tentang seluk beluk pengaturan kepentingan umat manusia pada umumnya dan negara pada khususnya, berupa hukum, peraturan, dan kebijakan yang dibuat oleh pemegang kekuasaan yang bernafaskan ajaran Islam.

Yang dimaksud dengan “kekuasaan yang bernafaskan islam” bukan berarti politisasi islam, bahkan membawa-bawa Tuhan demi memaksakan kepentingan kelompoknya yang katanya lebih islami menang. Apalagi mengatasnamakan Alquran dan hadis demi memaksakan berdirinya negara islam atau Daulah islam.

Alquran mengajarkan antara lain prinsip tauhid, permusyawaratan, ketaatan kepada pimpinan, persamaan, keadilan, kebebasan beragama, dan sikap saling menghormati antar sesama manusia. Tetapi Alquran tidak menetapkan satu sistem pemerintahan yang baku yang harus dianut umat Islam, kapan dan di mana pun mereka berada. Kajian mengenai sistem dan tatalaksana pemerintahan itu berkembang dan berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu masa ke masa yang lain, sesuai dengan kondisi dan situasi yang berbeda-beda.

Dari penjelasan diatas, sistem politik islami tidak mengajarkan tentang “politisasi islam”, melainkan “Islamisasi Politik”. Politisasi Islam, seperti “memanfaatkan” simbol islam dalam berpolitik, merupakan hal terlarang. Apalagi, tujuan dan aktifitas berpolitiknya tidak terkait sama sekali dengan tuntunan islam. Artinya, ketika ada tindakan menyalahkan kelompok lain, apalagi membawa dalil-dalil yang dipaksakan padahal tidak terkait sama sekali dengan tuntutan islam, demi kepentingan politik belaka, hal tersebut justru bertentangan dengan islam.

Baca Juga : “Deligitimasi” Pesta Demokrasi

Atas nama membela agama bahkan membela Tuhan, kelompok-kelompok “agamis” ini sering mengintimidasi lawan-lawan politiknya. Sejatinya… “Tuhan yang Maha Besar, Maha Agung, tidak perlu dibela. Yang memerlukan pembelaan adalah manusia yang ditindas dan dianiaya”, demikian kata KH. Abdurrahman Wahid. Pemimpin yang islami, politik yang islami adalah yang mampu membuat kebijakan-kebijakannya membela orang-orang miskin, orang-orang tertindas, teraniaya dan mampu mengangkat derajatnya. Bukan yang berkedok islam demi memenuhi syahwat politiknya. Bukankah fenomena ini kental terasa di Pilpres 2019? Wallahu alam bishowab.

Oleh: Muhammad Saefullah Maksum Dosen FIKOM Univ.Prof.Dr.Moestopo (Beragama)

Share
Diwartakan Oleh:
Bobby San

Berita Terbaru

Kondisi dan Masa Depan Generasi Z Dibahas Seru di SMPN 30 Jakarta

Strategi.id - Sebagai generasi yang saat lahir ke dunia dan ketika dunia telah mengalami proses digitalisasi serta terinternetisasi secara massif,…

23 August 2019 16:00

Jokowi: Pemerintah Akan Terus Jaga Kehormatan dan Kesejahteraan Papua

Strategi.id- Presiden Joko Widodo pada sore hari ini, Senin, 19 Agustus 2019, menyampaikan keterangan di hadapan para jurnalis, di Istana…

20 August 2019 22:00

Mahathir : Uni Eropa Membully Negara Miskin Lewat Larangan Perdagangan Sawit

Strategi.id- Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menilai kebijakan larangan sawit di Eropa merupakan bentuk penjajahan baru yang dilakukan benua biru. Dalam sebuah…

20 August 2019 21:00

Harga dan Spesifikasi Lengkap Honda ADV 150

Strategi.id- Sebagai bentuk jawaban atas kebutuhan masyarakat Indonesia yang memiliki aktivitas tinggi dalam melintasi berbagai kondisi medan jalan, akhirnya PT…

20 August 2019 19:00

Fenomena Akar Bajakah Penyembuh Kanker

Strategi.id- Akar Bajakah menjadi fenomena di berbagai kalangan di Tanah Air. Terutama setelah tiga pelajar SMAN 2 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, meraih…

20 August 2019 16:00

Realisasi BTN Untuk Program Satu Juta Rumah Baru Sebesar 53,1% Dari Target 800.000 Rumah

Strategi.id- Aset PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tumbuh di level 16,58% secara tahunan (year-on-year). Aset BBTN meningkat dari…

20 August 2019 12:00