Membendung Massifnya Polarisasi di Media Sosial - strategi.id
Nusantara

Membendung Massifnya Polarisasi di Media Sosial

Strategi.id - Membendung Massifnya Polarisasi di Media Sosial
Strategi.id - Membendung Massifnya Polarisasi di Media Sosial

Strategi.id – Kantor Staf Presiden menerima peserta Lomba Media Matters yang merupakan sub-acara dari lomba nasional Pekan Komunikasi Universitas Indonesia. Lomba ini mengangkat tema Populism on the Eye of The Structure. 

Populisme sebagai Moda Politik Identitas di mana di dunia digital sekarang ini membuat semua orang dapat ‘berpolitik’ dengan memproduksi dan mengkonsumsi kontennya sendiri yang dapat mempengaruhi masyarakat banyak demi kepentingannya masing-masing.

Polarisasi di media sosial bukanlah hal baru yang dihadapi Indonesia. Terlebih saat pesta demokrasi lima tahunan yang akan berlangsung dalam hitungan hari namun euphoria yang ada sudah menggelora sejak jauh-jauh hari yang menyebabkan munculnya berita hoaks.

Baca Juga : Mahasiswa Harus Ikut Sukseskan Pemilu dan Jauhi Hoaks

Pemerintah dalam upaya untuk membendung polarisasi media sosial melakukan banyak hal seperti mengatur Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, atau penegakan hukum melalui KUHP, Undang-Undang No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial.

Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden Binny Buchori, mengakui upaya untuk meredam polarisasi yang semakin massif di media sosial belakangan ini bukanlah hal yang mudah.

“Dalam menciptakan ruang publik yang sehat, untuk menciptakan narasi yang positif itu pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, kuncinya kerjasama dengan stakeholder seperti media konvensional, dan teman-teman muda sekalian,” jelas Binny di Ruang Rapat Utama Bina Graha saat company visit dalam kegiatan Pekan Komunikasiyang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia, Senin (8/4/2019).

Di hadapan 25 peserta lomba yang terdiri dari mahasiswa Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Tenaga Ahli Madya Deputi IV KSP. Roy Septa Abimanyu sepakat bahwa kekuatan pemerintah dalam menghadapi polarisasi tidak sebanding dengan kecepatan volume informasi yang beredar di masyarakat.

“Volume untuk itu (polarisasi) di banding kemampuan negara dalam mengawasi dan menegakkan hukum dalam bermedia sosial. Kemampuan ini masih tertatih-tatih meskipun di Indonesia sudah terorganisir dalam mencegah berita palsu, fitnah, dan sebagainya. Tapi tetap saja kecanggihan teknologi selalu akan mengungguli kemampuan manusia secara kolektif,” ungkap Roy.

Untuk itu, Roy menekankan pentingnya literasi media digital saat menghadapi fenomena yang sedang terjadi belakangan ini. “Jadi sekarang seperti apa posisi di Indonesia tentang hoax atau alam post truth.Hal-hal semacam itu bisa diselesaikan ketika kita meningkatkan literasi. Misalnya pembelajaran soal ciri-ciri berita hoaks,”.

Baca Juga : UGM Terpilih Jadi Tuan Rumah Olimpiade Kedokteran Internasional

Tidak hanya polarisasi di media sosial, salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan ini adalah semburan kebohongan (firehose of falsehood). Seperti yang diketahui, semburan kebohongan merupakan sebuah teknik propaganda yang mempunyai empat strategi utama, yaitu: kontroversi dan provokasi yang massif.

Dengan sumber berita yang beragam, repetisi pesan yang cepat dan konsisten, mengabaikan data dan fakta. Isi pesan yang inkonsisten atas substansi.

Tidak hanya berdiskusi, di akhir pertemuan seluruh peserta diajak untuk melakukan office tour. Yang merupakan salah satu rangkaian acara dari lomba nasional Pekan Komunikasi Universitas Indonesia. Untuk mengetahui lebih dalam dan jelas mengenai Kantor Staf Presiden.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top