Menabuh Gendang, Siapa Memainkan dan Dimainkan? - strategi.id
Dialektika

Menabuh Gendang, Siapa Memainkan dan Dimainkan?

Strategi.id - Menabuh Gendang, Siapa Memainkan dan Dimainkan?

Strategi.id – PDIP kembali dikelilingi prahara. Setelah bertubi-tubi dianggap dibalik layar kebijakan negara yang tidak populis dan cenderung menyengsarakan rakyat. Sebagai partai pemenang pemilu, kini dihujat sebagai partai komunis. Setidaknya disinyalir partai yang didalamnya berkerumun orang-orang PKI. Sama halnya dengan Bung Karno ditengah pemerintahannya bersama PNI-yang menjadi salah-satu cikal-bakal PDIP, dituding PKI dan akhirnya menggulingkan kekuasaannya. Seperti menjadi siklus sejarah, ia terus berulang dalam alur cerita dan skenario yang “up to date”.

Belum lama, baru saja terjadi peristiwa pembakaran bendera partainya saat berkuasa. Sejauh ini Megawati Soekarno Putri selaku pimpinan partai dan orang berpengaruh dalam roda pemerintahan, tidak menunjukkan sikap reaksioner dan seperti biasa mengedepankan aturan main konstitusi dengan mengedepankan pendekatan jalur hukum. Megawati orang yang selalu berhati-hati dan terbiasa memimpin dibawah tekanan. Tapi ia selalu berusaha belajar dari sejarah, mencari jalan tengah, dan seperti Bapaknya bertahan pada ideologi dan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa diatas segalanya.

Terdzalimi jauh sebelumnya dan tertindas pada peristiwa 27 Juli 1996 , hingga menyebabkan kematian beberapa kadernya saat berhadapan dengan penguasa otoriter dan repressif. PDI P tetap tenang dan tidak terprovokasi. Itulah hebatnya PDIP dan tidak semua partai mampu melakukannya. Mungkin dari situlah Megawati bisa bercermin dan mengambil langkah-langkah strategis mengelola PDI P sekaligus perspektif kenegaraannya dalam situasi yang boleh dibilang lumayan genting dan krusial ini. Terutama ditengah mosi ketidakpercayaan dan hujatan kebencian yang terorganisir sebagian besar rakyat kepada pemerintahan sekarang. Terlebih dengan opini yang semakin besar terbentuk bahwa PDI P anti Islam.

Pegalaman penderitaan panjang dan intim dengan kesabaran itu, memang membentuk karakter dan kebesaran partainya. Meskipun dalam perjalanan partai selalu saja ada orang dalam yang menggerus partainya. Menjadi penghianat partai dan berusaha, menghancurkannya dari dalam.

PDI P memang rentan dibonsai oleh orang luar yang berada di dalam. Cara itu yang dianggap efisien dan efektif oleh kepentingan terselubung, setelah intervensi dari luar baik mobilisasi isu dan tekanan politik selama ini belum berhasil mengebiri PDI P.

Kekhawatiran terhadap tumbuhkembangnya partai itu utamanya lebih karena faktor ideologis, bukan soap perolehan suara kursi yang besar. Karena itulah PDI P bukan sekedar menjadi aset nasional, lebih dari itu menjadi irisan internasional, dan tak terpisah dari kepentingan global. Tentu saja, bukan semata karena sebuah partai, ini bicara Indonesia yang didalamnya kebijakan dan orientasi negara sangat dipengaruhi oleh partai politik terutama yang berkuasa.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Megawati dengan PDI P dalam ikut menyelenggarakan kekuasaan, tidak terlalu jauh berbeda dengan kepemimpinan dan partai berkuasa sebelumnya. Menjadi berbeda adalah PDI P mengusung ideologi yang notabene secara substantif tidak menjadi bagian dan sub-koordinat ideologi kontemporer dunia lainnya. Katakanlah kapitalisme dan komunisme yang hingga kekinian menghegemoni dan mendominasi kehidupan global termasuk Indonesia. Misalnya kekuatan dan Kepentingan Amerika dan sekutunya, juga Tiongkok disisi lain yang mencengkeram Indonesia. Entah lewat atas nama investasi, ataupun penguasaan ekonomi dan politik lainnya yang menguasai hajat hidup orang banyak.

PDI P seperti halnya negara bangsa Indonesia harusnya “inhern” dan memiliki satu kesatuan memperjuangkan Panca Sila dalam mencapai tujuan nasional. Sayangnya justru praktek kehidupan bernegara tercerabut dari akarnya nilai-nilai Panca Sila. Mungkin begitu hebatnya pengaruh ideologi kapitalisme global yang trendnye juga seiring sejalan dilakukan oleh faham liberal dan komunis.

Kemudian kondisi itu semakin diperparah oleh komparador-komparador kepentingan asing. Tidak sedikit orang Indonesia yang menghianati nasionalisme bangsanya sendiri. Konstitusi diperjual-belikan dengan modus merancang undang-undang berdasarkan pesanan korporet multi trans. Semakin banyak orang ramai-ramai menjual dirinya, masa depan anak-cucunya dan negaranya sendiri. Pembiaraan perilaku yang tidak sesuai dan mengangkangi nilai-nilai Panca Sila, terkesan menjadi strategi Panca Sila tidak boleh digugat harus tetap ada. Soal prakteknya biarlah orientasi materi dan kebendaan lainnya merupakan tarikan nafas bagi manusia Indonesia. Panca Sila tak akan diganti, ia tetap ada tapi dibiarkan lepas.

Demikian tantangan terbesar dan begitu kompleks bagi negara Indonesia, khususnya PDI P sebagai “The Rolling Party”. Megawati Soekarno Putri, mampukah ia melawati ujian dan jalan terjal lagi bagi kebangsaan Indonesia?. Selamat Berjuang untuk Demokrasi dan Nasionalisme Indonesia!!

Penulis: Yusuf Blegur (Pengamat Sosial)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top