Menapak 2020 - strategi.id
Corong

Menapak 2020

Strategi.id -Tahun ini perekonomian Indonesia dimulai dengan defisit APBN 2019, sebesar Rp. 319 T. Disusul bobolnya Jiwasraya Rp.13,7 T dan Asabri Rp. 10 7 T.

Pengaruh dari luar cukup signifikan. Bila perang dagang AS vs RRC berlanjut maka tekanan pada perekonomian kita semakin besar. Untung saja sesikit mereda sehingga rupiah menguat.Trump sibuk menghadapi impeachment di dalam negeri dan perang melawan Iran di Timteng. Aksioma politik luar negeri AS adalah Timur Tengah tidak boleh damai. Kebergantungan banyak negara pada AS adalah keharusan.

Baca juga :Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto Hadiri Natal TMP Bersama Korban Banjir di Teluk Gong

Putin unhappy karena perdana menterinya Medvedev mundur. Ia harus mencari pengganti yg handal dan ber visi. Medvedev buat Putin diibaratkan Djuanda bagi Soekarno. Sikap Putin sebagai penyeimbang di Timteng membuat Trump tidak bisa leluasa. Ini yg menyebabkan disamping dua sebab diatas, ia melunak menghadapi RRC.

Artinya buat Indonesia pengaruh luar di 2020 tidak berbahaya bahkan cukup baik. Sementara itu RRC sendiri perlu mengonsolidasi diri setelah babak belur. Jadi RRC tak akan berbuat macam macam.

Rusia nelalui Rosneft tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bekerja sama dengan Pertamina menyelesaikan Kilang Tuban. Sampai proyek selesai dan beroperasi, akan aman. Mengapa ? British Petroleum BP memounhai saham 20% di Rosneft. Jadi global ekonomi di dunia memang mengarah ke kapitalisme.

Jokowi sendiri sigap merangkul Uni Emirate Arab yg akan berinvestasi diberbagai bidang sebesar Rp. 314,9 T untuk share 80%. Ini hebat. Namun Jokowi harus segera menyiapkan 20% setara Rp. 78,725 T. Tanpa kesiapan itu jangan mimpi dana dari UEA bisa turun. Jokowi boleh saja kesal dan mempertanyakan mengapa kilang tak kunjung dikerjakan oleh presiden-presiden terdahulu. Masalahnya adalah modal dalam negerinya tak kunjung dipersiapkan. Jadi Jokowi dan tim ekonominya harus bertindak out of the box. Untuk itu cara Turki dan Mexico boleh di coba.

Baca Juga : Perlunya Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam Perpolitikan Tanah Air

Upaya dalam mempermudah datangnya investor sudah jauh lebih baik. Hanya masalah kepercayaan selalu jadi ganjalan. Atiran harus mantab, jangan selalu berubah, penegakan hukum tegas dan win-win solution harus dijaga utk semua pihak.

Karena itu masalah Jiwasraya (dan Asabri) harus segera diselesaikan. Tidak menunggu pihak manajemen baru menyelesaikannya yg tanpa batas waktu. Ini justru merusak kepercayaan. Namun pihak yg merugikan harus dikejar terus dan mengembalikan semua dana curiannya serta dihukum berat.

Baca Juga : Mengenang Perginya Aktivis Kiri-Islam Indonesia yang Humanis, Agus Lenon

Inilah pekerjaan rumah pemerintahan Jokowi dalan 1-2 bulan kedepan. Bila Bung Hatta dahulu hanya mendayung diantara dua karang maka saat ini Jokowi mendayung diantara banyak karang kanan kiri depan dan belakang.

Penulis: ADIJOYO NITIMIHARDJO, Ph.D (Pemerhati masalah politik ekonomi/Co-founder FOKUS WACANA UI)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top