Menemukan Kembali Makna Kemerdekaan – strategi.id
Dialektika

Menemukan Kembali Makna Kemerdekaan

Strategi.id – Kata-kata MERDEKA pernah menjadi begitu sakral dan mewarnai hari-hari awal perjalanan bangsa ini. Begitu banyak jargon, semboyan dan seruan yang menggemakan kata MERDEKA dalam beragam ekspresi di berbagai peristiwa seperti antara lain, MERDEKA ATAOE MATI! SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!

Bahkan Preambule Undang-Undang Dasar 1945, dalam Alinea pertama kalimat pertama, secara tegas mencantumkan, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Begitu sakralnya kata tersebut sehingga mampu menjadi elan vital yang sanggup menggerakkan energi seluruh anak bangsa untuk berjuang dan rela berkorban membangun perlawanan terhadap penjajahan dan ketertindasan demi sebuah kata, “MERDEKA…!!!”. Kentalnya pemahaman terhadap pemaknaan kata tersebut merasuk kedalam setiap sel darah dan tulang sumsum serta jiwa raga segenap anak bangsa.

Saat ini, di usia 73 tahun Kemerdekaan Negara Indonesia muncul pertanyaan kontemplatif, “Masihkah tersisa arti dan makna kata MERDEKA di hati sanubari kita para pewarisnya?!”, “Apakah setiap bongkah batubata yang kita susun menjadi rumah masih disertai kenangan atas bagaimana Kemedekaan ini diraih?!”, “Apakah setiap bulir nasi yang masuk ke mulut kita masih diimani oleh semangat yang sama seperti yang dimiliki oleh para pejuang kita?!”, “Apakah setiap sen yang masuk ke dalam kantung kita bisa dipertanggungjawabkan kepada jiwa-jiwa para pejuang kita yang telah gugur?!”.

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu semata-mata tidak untuk mengadili setiap orang dari kita. Melainkan sebagai sebuah ajakan untuk menemukan kembali makna dan hakekat dari apa sesungguhnya perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara di tengah praktek penyelenggaran tata kelola negara yang bobrok (corrupt) dan karut marut sarat dengan aroma perebutan kekuasaan atas nama demokrasi.

Partai-partai politik saling menyandera sehingga membentuk kartel politik untuk saling mengamankan kepentingan masing masing. Pelibatan rakyat dalam proses demokrasi cuma sekadar jadi kerumunan massa yang dimobilisasi sebagai ornamen politik dengan menggunakan berbagai sentimen isu-isu primordial yang dangkal, emosional dan jumud hanya melahirkan praktek mobokrasi. Tepat apa yang dikatakan oleh Thomas Jefferson, “A democracy is nothing more than mob rule, where fifty-one percent of the people may take away the rights of the other forty-nine.”

Bukan cuma itu, para pemburu rente beramai ramai ikut berjudi dengan menginvestasikan modalnya untuk memastikan privilese bisnisnya bisa terus berkembang di bawah perlindungan penguasa baru yang nantinya terpilih. Mereka ini para penggiat plutokrasi yang oleh Theodore Roosevelt dikatakan, “Of all forms of tyranny the least attractive and the most vulgar is the tyranny of mere wealth, the tyranny of plutocracy.”

Persekongkolan “threesome” antara oligarki politik, mobokrasi dan plutokrasi pada akhirnya menghidupkan sistem kleptokrasi, suatu pemerintahan yang dikendalikan oleh para pejabat korup (kleptokrat). Kekuasaan digunakan untuk mengeksploitasi rakyat dan kekayaan alam demi menambah pundi-pundi kekayaan pribadi dan memperhebat kekuatan politik mereka.

Ibarat jatuh tertimpa tangga, situasi yang sedang berlangsung masih diperparah dengan tingkah gejolak jagad yang berunjuk rasa dengan bencana-bencana alamnya semakin membuat bangsa ini sulit untuk keluar dari berbagai masalah yang menimpa perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara.

Dalam situasi penuh keprihatinan menjelang Pemilihan legislatif dan Pemilihan Presiden 2019 yang akan berlangsung tak lama lagi, tentu menjadi penting kiranya bagi segenap anak bangsa pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 73, 17 Agustus 2018, untuk mencoba melakukan perenungan guna menemukan kembali apa sejatinya makna kemerdekaan sebagai sebuah bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para Pahlawannya..
Bangsa yang menghargai para Pahlawannya adalah Bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah Bangsanya…
” 

Dalam sebuah kesempatan yang sangat langka, Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno menguraikan secara langsung mengapa dalam setiap pembukaan dan penutupan pidatonya beliau selalu meneriakkan kata MERDEKA. Beliau menyampaikan pesan yang mendalam tentang apa makna dari kata MERDEKA, “bahwa Kemerdekaan sebuah bangsa yang sesungguhnya hanya bisa tercapai ketika setiap anak bangsa mampu meMERDEKAkan dirinya dalam arti yang sebenar-benarnya”.

Dengan kemampuan retorikanya sebagai seorang orator ulung yang mumpuni, sebelum sempat ada yang menanyakan apa yang dimaksud dengan, “Mampu meMERDEKAkan dirinya dalam arti yang sebenar-benarnya”, beliau langsung menyambung uraiannya, “Yang aku maksud dengan mampu meMERDEKAkan dirinya dalam arti sebenar-benarnya adalah bahwa setiap anak bangsa ini harus mampu meMERDEKAkan dirinya dari rasa takut, takut untuk menggunakan budi nurani kemanusiaannya dalam menjalani hidup, takut untuk mengatakan sesuatu yang benar dengan sebenar-benarnya dan mengatakan bahwa sesuatu yang salah adalah salah dengan sebenar-benarnya”.

Beliau juga menambahkan, “Bahwa mampu meMERDEKAkan dirinya dalam arti sebenar-benarnya, itu juga berarti bahwa setiap anak bangsa tidak “Melik nggendong lali”, tidak terjajah oleh nafsu keinginan atas materi, kebendaan dan keduniawian yang bersifat semu dan sementara sehingga tidak berpamrih atau mengharapkan sesuatu imbalan atas setiap apa yang dilakukannya. Setiap perbuatan selalu dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan”.

Selain itu, beliau juga menandaskan, “Bahwa mampu meMERDEKAkan dirinya dalam arti sebenar-benarnya adalah ketika anak bangsa ini mampu membebaskan diri dari rasa sombong dan gila popularitas karena mereka bersikap andap asor, rendah hati; juga dari rasa takut menderita karena mereka pandai mensyukuri dan tidak mudah berputus asa; mampu membebaskan diri dari rasa ingin berkuasa dan menang sendiri dengan membuka diri terhadap segala perbedaan dan senantiasa mengedepankan semangat gotong-royong”.

Dalam kesempatan itu beliau juga mengatakan, “Manusia yang MERDEKA adalah manusia yang terbebas dari rasa dengki srei (iri hati), dahwen (suka mencerca dan menista), panasten (mudah tersinggung dan marah) dan patiopen (tidak peduli). Sehingga menjadi manusia yang selalu setiti (teliti), nastiti (cermat), surti (mengerti) dan hati-hati”. “Manusia yang MERDEKA bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BAIK, juga bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BIJAKSANA, tapi adalah manusia yang mampu bersikap BAJIKSANA ”!!!, sambung beliau.

Di akhir uraiannya, beliau menegaskan, “Jikalau bangsa ini tidak mau segera kembali kepada KESEJATIANNYA sebagai bangsa yang MERDEKA dalam arti yang sebenar-benarnya, sebagai bangsa yang tidak lagi bermental budak dan hanya jadi pengekor dan pembebek dari bangsa bangsa lain, maka tak akan pernah bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Bangsa yang adiluhung gemah ripah loh jinawi, adil makmur toto tentrem kerto raharjo. Camkan kata-kataku ini!!!!!”.

Merdeka !, Merdeka !, Merdeka !, tiga kali aku ucapkan kata-kata itu…

Penulis Mahendra Dandhi Uttunggadewa Mantan Aktivis FKSMJ’98 dan sekarang aktif sebagai Pengaman Budaya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top