Mengais Asa Idul Fitri Ditengah Pandemi Covid-19 – strategi.id
Corong

Mengais Asa Idul Fitri Ditengah Pandemi Covid-19

Strategi.id - Mengais Asa Idul Fitri Ditengah Pandemi Covid-19

Strategi.id – ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR, Takbir berkumandang dilangit dunia sebagai bukti keagungan sang pencipta Allah SWT.
Seluruh umat Islam dunia akan mengakhiri Ibadah puasa dengan Idul Fitri yang dimaknai sebagai “ berbuka Puasa, Idul fitri sendiri berasal dari dua kata “ Id” dan al Fitri”. Id secara bahasa berasal dari kata aada ya,uudu , yang berarti kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang – ulang, dimeriahkan setiap tahun.

Adapun fitri memiliki dua makna yang berbeda menurut beberapa pendapat, kata fitri bisa berarti” berbuka puasa” dan “Suci” berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang artinya “ Dari Anas bin Malik: tak sekalipun Nabi Muhammad SAW. Pergi ( untuk shalat ) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain “ Nabi SAW, makan kurma dalam jumlah ganjil.” ( HARI Bukhari ).

Dengan demikian, makna Idul Fitri berdasarkan uraian di atas adalah hari raya dimana umat Islam untuk kembali berbuka atau makan, oleh karena itu disunahkan sebelum kita melaksanakan Idul fitri sebaiknya makan dan minum terlebih dahulu sebagai bukti bahwa hari raya idul fitri 1 syawal itu akhir dari kita berpuasa satu bulan penuh

Tradisi unik Bangsa Indonesia khususnya Pulau Jawa saat – saat Idul Fitri adalah pulang kampung bagi orang yang secara mata pencaharian hidup diperantauan, tak lengkap rasanya disaat idul fitri tidak menemui sanak family untuk sekedar berjabat tangan, menikmati kue lebaran dan sedikit berbagi dari rejeki berlebih.

Ada perbedaan yang sangat mencolok di lebaran idul fitri tahun ini, seluruh umat Islam Dunia menjalaninya ditengah wabah Covid – 19, ada beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi untuk menjaga dari hal – hal yang tidak diinginkan, alih – alih lebaran bahagia dan berkumpul bareng keluarga, kita bisa membawa petaka bagi keluarga di kampung akibat terpapar Coronavirus yang mungkin saja kita bawa dari tempat kita merantau atau dalam perjalanan, baik oleh Orang dengan gejala bahkan tanpa gejala, selain itu kunci sukses kita terhindar dari Coronavirus adalah dengan physical Distancing atau menjaga jarak dari kerumunan, sulit rasanya di momen lebaran kita bisa mematuhi protokol kesehatan jika semua orang membiarkan diri untuk berkumpul bersalaman anatara satu dengan yang lain.

Dengan kita tetap dirumah dan merayakan idul fitri dirumah tidak akan mengurangi sedikitpun makna dan kemeriahaan seremoni itu sendiri, jika dalam keadaan normal sebelum Coronavirus kita bisa berkumpul dan berjabat tangan secara langsung.

Meraih asa ditengah wabah, kita tetap bersilaturahmi bersama keluarga bisa dilakukan secara virtual lewat Smart phone yang kita miliki, tetap bisa menyapa keluarga, orang tua, bahkan tangisan jika ada, tanpa harus membawa petaka buat diri sendiri keluarga dan Orang Tua, salam tempel atau berbagi sedikit rejekipun bisa dilakukan tanpa berjabat tangan yakni melalui media transfer yang tentunya hemat secara biaya dan mudah dilakukan, bayangkan jika kita lakukan secara langsung, selain butuh ongkos yang tidak sedikit, risiko dalam perjalanan dan kehabisan tenaga akibat kecapean & biaya yang tidak sedikit diperjalanan, membeli oleh – oleh bisa kita gabungkan dengan uang tempel yang sudah di cadangkan, dan jumlahnya bisa sangat besar, ataupun kita bisa alihkan jumlah penerima menjadi lebih banyak.

Salah satu cara menghentikan sebaran Coronavirus yakni kita berlaku disiplin diri, cuci tangan, pakai masker dan menghindari kerumunan, siapa lagi, kapan lagi virus ini berakhir, kalau bukan kita sendiri yang mengakhirinya, jangan gegara kebodohan kita, keluarga, Orang Tua dan tetangga menjadi korban dan musibah dari virus yang kita bawa, menurut Prof Quraish Sihab: Agama Islam telah memberikan tuntunan bagi muslim dalam menyikapi perlu tidaknya melakukan sesuatu kegiatan, yaitu menghindari keburukan atau madharat lebih diutamakan daripada mendatangkan manfaat.

Dan sebaik – baik muslim adalah yang bisa memberikan manfaat bagi muslim lainya, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW : khoirunnaas anfa’uhum linnas.” Sebaik – baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” ( Hadits Riwayat ath- Thabrani, Al- mu’jam al- Ausath, juz VII, hal.58
Dan perintah Allah SWT dalam Alqur’an “ In ahsantum ahsantum li anfusikum: Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri..” ( QS al-Isra: 17:7 ).

Selain itu Islam memberikan kemudahan bagi umatnya untuk beribadah secara sempurna ditengah wabah, bahkan Allah menjanjikan Pahala yang besar, karena pahala yang besar tergantung pada tingkat kesulitanya. Semakin berat ujian atau tantangan dalam menjalankan amal ibadah itu, kian besar pula pahalanya, hal tersebut sesuai hadis dari Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi” Walakinnaha ‘ala Qodri Nashobiki.” Artinya: pahala amal itu tergantung tingkat kesulitanya.

Melaksanakan Ibadah atau ketaatan pada Allah ditengah Wabah Coronavirus insyaAllah pahalanya lebih besar dibanding ibadah saat situasi aman dan tidak ada wabah.

Akhir kata, semoga Allah segera menghilangkan Coronavirus dari Negeri ini, agar kehidupan kita kembali normal dan kita bisa beribadah dengan baik tanpa ketakutan.

Salam Takzim

Penulis: Sopan Ibnu Sahlan (Mantan Aktivis 98)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top