Mengatur Koalisi Pun Berat, Bagaimana Mengatur Negara? – strategi.id
Nusantara

Mengatur Koalisi Pun Berat, Bagaimana Mengatur Negara?

Mengatur Koalisi Pun Tak Sanggup, Bagaimana Mengatur Negara?

Strategi.id – Kubu Prabowo-Sandiaga tampaknya sedang tidak harmonis kembali. Koalisi dengan nama Koalisi Indonesia Adil Makmur (KIAM) untuk Pilpres 2019, kembali hangat setelah Sekjen Gerindra Ahmad Muzani bilang SBY belum juga mengampanyekan Prabowo-Sandiaga. Padahal masa kampanye sudah berjalan 1,5 bulan, seperti dikutip detik.com.

Sementara Jubir Kogasma Partai Demokrat Putu Supadma Rudana, menyatakan “Sekjen Partai Gerindra memberikan informasi yang tidak utuh, tendensius dan menyesatkan publik serta berusaha menyeret Komandan Kogasma PD pada persoalan yang tidak produktif”.

Jika melihat kembali, tampak koalisi Prabowo-Sandiaga tidak sepenuhnya berjalan dalam satu jalur. Dimulai dari beberapa kader partai politik pendukung KIAM memilih mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Beberapa kader Demokrat memilih mendukung Jokowi-Ma’ruf, seperti Deddy Mizwar, yang kini resmi menjadi juru bicara Jokowi-Ma’ruf. Gubernur Jatim Soekarwo, kemudian Tuan Guru Bajang Zainul Majdi, yang juga telah menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai kader per tanggal 19 Juli 2018 lalu.

Koalisi bergerak mandiri

Gubernur yang berasal dari partai koalisi Prabowo-Sandi juga ada yang memilih bergabung mendukung Jokowi-Ma’ruf. Di antaranya, Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba yang berasal dari PKS. Kemudian ada nama Lukas Enembe. Gubernur Papua itu juga terang-terangan menyatakan seluruh kader Partai Demokrat di Papua mendukung pasangan bakal capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Dalam acara survei Polmark Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno mengatakan calegnya enggan mengkampanyekan Prabowo-Sandi. Alasannya, tidak ada keuntungan bagi PAN, seperti diberitakan oleh liputan6.com.

Dalam beberapa hari beredar surat internal PKS. Inti surat itu adalah instruksi dari elite PKS agar kadernya menkampanyekan Sandiaga Uno. Dalam surat itu hanya tertulis nama Sandi, tidak ada Prabowo Subianto.

Dalam surat yang dikeluarkan pada tanggal 17 September 2018 tertulis semua kader dari Fraksi PKS harus menginisiasi untuk memenangan Sandiaga di Pilpres 2019. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan efek ekor jas (coattail effect) bagi PKS.

Para anggota fraksi juga diharuskan mengoordinasikan jadwal kampanye ke Direktur Pencapresan PKS, Mardani Ali Sera.

“Memang ada surat edaran itu. Bukan berarti belum dilakukan kampanye pileg dan pilpres. Itu hanya menegaskan, menguatkan, jadi kebijakan dasarnya kita, PKS mendukung Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres,” kata Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid, mengutip liputan6.com.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top