Mengenal Lebih Jauh Tentang Kemasan Cerdas - strategi.id
Corong

Mengenal Lebih Jauh Tentang Kemasan Cerdas

Strategi.id - Mengenal Lebih Jauh Tentang Kemasan Cerdas

Strategi.id – Dunia berubah dengan sangat cepat, khususnya perkembangan teknologi. Kita harus bisa beradaptasi dan berkontribusi terhadap perubahan dunia menjadi lebih baik di masa depan, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Teknologi digital saat ini semakin canggih, kita tidak boleh ketinggalan serta harus mempersiapkan diri untuk memasuki persaingan global di masa depan.

Perkembangan agroindustri juga berkembang sangat pesat. Industri pengolahan hasil pertanian termasuk perikanan, peternakan, kehutanan, dan perkebunan Indonesia yang kaya berpotensi untuk bersaing secara global jika dikelola dengan baik sehingga menghasilkan mutu dan nilai tambah yang tinggi.

Dalam upaya meningkatkan nilai tambah tersebut tentunya dibutuhkan perancangan desain dan pengelolaan yang melibatkan banyak faktor termasuk teknologinya.

Kenyataan saat ini banyak agroindustri terlah berevolusi dari bentuk tradisional menjadi modern dengan menggunakan berbagai teknologi maju. Banyak produk-produk inovatif yang memiliki nilai tambah dan mutu tinggi serta lebih ramah lingkungan.

Penggunaan dan penguasaan teknologi digital sangat diperlukan di era Industri 4.0 saat ini. Perlu diketahui bahwa sistem cerdas di era ini bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia.

Perkembangan yang cukup inovatif di industri pangan adalah kemasan cerdas. Kemasan cerdas dirancang untuk tujuan memonitor dan memberikan informasi kondisi produk pangan yang dikemas tanpa harus membuka kemasannya dari waktu ke waktu.

Dalam artikel akan dibahas beberapa contoh aplikasi kemasan cerdas untuk prduk pangan.

Time-Temperature Indicator (TTI)

Prinsip kerja TTI adalah berdasarkan reaksi fisika, kimia, dan mikrobiologi. Kemasan cerdas ini akan memberikan informasi visual berupa perubahan warna dari waktu ke waktu bergantung pada suhu.

Hal ini bermanfaat saat terjadi kesalahan penyimpanan suhu pada pangan yang didinginkan atau dibekukan. Contoh kemasan cerdas yang menerapkan prinsip TTI ini adalah yang diproduksi oleh OnVu TM .

Indikator pada kemasan ini akan teraktivasi oleh adanya paparan sinar UV menjadi berwarna biru tua dan akan memudar sedikit demi sedikit seiring waktu tergantung ada atau tidaknya peningkatan suhu.

Contohnya, jika warnanya masih biru tua menunjukkan produk masih segar/baru, dan jika warnanya sudah memudar menandakan produk sudah tidak layak dikonsumsi.

Berikut ini adalah gambar kemasan cerdas OnVu TM Time-Temperature Indicator (Indikator suhu-waktu).

Indikator Gas

Kemasan cerdas jenis ini mengandung indikator komposisi gas dalam kemasan yang dapat mengalami perubahan warna karena adanya reaksi kimia atau enzimatis.

Indikator ini bekerja dan memberikan tanda ketika ada kebocoran dalam kemasan, atau untuk memverifikasi keefektifan dari penjerap oksigen (oxigen absorber).

Indikator gas dapat memberitahu ada atau tidaknya oksigen atau jenis gas lainnya. Salah satu jenis indikator oksigen akan mengalami perubahan warna ketika ada kebocoran kemasan.

Hal ini terjadi karena adanya reaksi redoks. Perubahan warna yang terjadi membantu konsumen untuk mengetahui kualitas produk seperti daging atau ikan yang dikemas vakum.

Berikut ini adalah gambar kemasan oksigen indikator O2Sense TM

Indikator dan Sensor Kesegaran

Indikator jenis ini bertujuan untuk memonitor perubahan kualitas pangan dalam kemasan karena pengaruh adanya pertumbuhan mikroba.

Prinsip kerjanya berdasarkan pada perubahan warna indikator kemasan karena akibat adanya reaksi metabolit mikroba. Metabolit mikroba dapat berupa glukosa, asam organik (misalnya asam laktat), etanol, karbondioksida, amin biogenik, senyawa nitrogen yang mudah menguap atau senawa sulfur.

Tingkat kesegaran ataupun kebusukan produk seperti daging dan buah bisa dideteksi. Berikut adalah contoh kemasan yang menggunakan sensor kesegaran.

Berikut adalah contoh gambar kemasan cerdas dengan sensor kesegaran pada buah merk Ripe SenseTM.

Kemasan Cerdas di Indonesia

Perkembangan industri pangan baik semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Walaupun kemasan cerdas di Indonesia masih terbatas, telah banyak pengembangan dan penelitian tentang kemasan cerdas yang telah dilakukan di berbagai pihak baik perguruan tinggi maupun instansi pemerintah.

Contoh kemasan cerdas yang dapat ditemui adalah sendok bayi yang dapat berubah warna ketika terkena panas.

Sendok jenis ini memanfaatkan teknologi termochromic ink (tinta yang sensitif terhadap perubahan suhu).

Dalam penelitian Hasnedi (2009) berhasil membuat kemasan cerdas pendeteksi kebusukan pada fillet ikan nila dengan bahan dasar chitosan-asetat, polivinil alkohol, dan indikator pewarna bromthymol blue. Selain itu penelitian lainnya yang dilakukan oleh Novrida et al (2013) mengenai kemasan cerdas untuk mendeteksi kerusakan pada susu melalui perubahan warna, label yang digunakan mengandung indikator warna yang dikembangkan agar dapat memantai dan mengomunikasikan informasi tentang kualitas pangan yang masih dikemas.

Prinsip kerja dari kemasan cerdas ini adalah perubahan warna yang diakibatkan oleh perubahan pH.

Produk yang telah mengalami kebusukan/kerusakan akan mengalami penurunan pH yang akan menyebabkan indikator bereaksi terhadap perubahan pH menjadi berubah warna.

Berikut adalah contoh kemasan cerdas yang menerapkan prinsip tersebut.

Berikut adalah contoh sendok yang mengalami perubahan warna saat terkena bahan panas.

Umumnya kemasan konvensional konsepnya dirancang inert artinya tahan terhadap interaksi antara pangan dengan kemasan, sedangkan kemasan cerdas memanfaatkan interaksi antara lingkungan sekitar produk pangan dengan pangan itu sendiri.

Hal ini menyebabkan keamanan pangan dengan kemasan cerdas harus dievaluasi, karena untuk menghindari kemungkinan migrasi komponen kemasan cerdas ke pangan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengatur regulasinya. Dalam Perka BPOM Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 Tahun 2011, kemasan cerdas merupakan salah satu jenis bahan yang diizinkan untuk digunakan sebagai kemasan pangan, dengan persyaratan khusus yang harus diikuti, contohnya kemasan cerdas harus mencantumkan label untuk memberitahu kepada konsumen bahwa kemasan tidak boleh dimakan.

Dengan demikian, kita harus memahami dan tidak perlu khawatir terkait keamanan kemasan cerdas ini.

Penulis: Nurmalia Ningsih
(Mahawiswa Pascasarjana Teknologi Pangan IPB University).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top