Mengguncangkan 22 Tahun Reformasi! – strategi.id
Dialektika

Mengguncangkan 22 Tahun Reformasi!

Strategi.id - Mengguncangkan 22 Tahun Reformasi!

Strategi.id – “Pada tahun 2020 ini reformasi genap berusia 22 tahun. Usia yang sebaya ketika tangan kiri ini mengepal saat mendengar Korlap melantangkan orasi Janji Mahasiswa di setiap titik-titik demonstrasi.”

Mahasiswa yang notabenenya kelompok pemuda merupakan ruh dari entitas suatu komunitas masyarakat atau bangsa. Itu sebab Bung Karno mengabadikan sosok pemuda dalam narasinya yang cukup fenomenal, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Narasi tersebut tampak relevan ketika pada 1998 silam ratusan ribu mahasiswa, bukan lagi 10 pemuda, memenuhi gedung DPR/MPR menuntut turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan. Walhasil kepemimpinan Orde Baru tumbang, tutup buku.

Pasca penurunan Soeharto dari singgasana, tidak tampak satupun pemuda-pemuda tersebut berada atau menduduki sistem pemerintahan. Mungkin ibarat ksatria pada film-film kolosal Hollywood, berjuang untuk rakyat tanpa pamrih, selesai ‘perang’ kembali ke barak (kampus). Berbeda situasi dengan periode peralihan Orde Lama ke Orde Baru pada 1966an silam. Tokoh-tokoh 1966 hampir sepenuhnya menduduki di pemerintahan.

Pertanyaannya, benarkah pemuda-pemuda 1998 itu pejuang? Atau hanya sekedar martir bagi petualang politik yang berhasil memanfaatkan situasi kala itu? Tapi faktanya situasi pasca reformasi ‘kue’ itu tidak dirasakan oleh para pemuda tersebut. Baru beberapa waktu kemudian dengan digulirkannya sistim politik pemilihan langsung, mulai bermunculan tokoh-tokoh eks ’98 yang mulai masuk ke dalam sistem negara, baik di legislatif maupun eksekutif.

Narasi Soekarno seakan belum sepenuhnya menjadi antitesa jika dikorelasikan dengan situasi 1998. Memang benar, peran pemuda (mahasiswa) pada saat itu mampu mengguncangkan Orde Baru, sayangnya tidak dilanjutkan dalam tatanan implementatif. Terlepas secara usia mereka masih muda, secara kompetensi belum teruji, dan secara praktisi belum mempuni.

22 tahun Reformasi berlalu. Para pemuda yang dahulu memilik usia dengan tingkat kebugaran fisik prima, progresif dalam memobilisasi pergerakan, dan memiliki pemikiran yang sarat dengan value idealisme, kini rata-rata sudah berusia diatas 40an tahun dan banyak yang tidak mampu untuk membayar kontrakan rumahnya. Namun semangat kebangsaan dan kerakyatan, jangan diragukan. Pertanyaannya, apakah mereka masih relevan untuk menggulirkan antitesa narasinya seorang Soekarno yang belum sepenuhnya mereka terapkan? Atau memang hanya cukup berhenti pada kata “Mengguncangkan”?

Logika sederhana. Objek yang dimaksud seorang Soekarno adalah dunia, mengguncangkan dunia, bukan skala nasional, Indonesia. Kalau berhenti sampai di situasi mengguncangkan, kondisi stabil yang seperti apa yang akan terjadi jika tidak diteruskan dengan masuk ke ranah implementatif. Seperti yang terjadi di Indonesia pasca reformasi sekarang ini.

Kini kita akui, visi Soekarno tersebut coba diterapkan di kepemimpinan seorang Jokowi di periodenya yang kedua. Jokowi menarik pemuda-pemuda milenial untuk duduk membantu menggerakkan roda pemerintahan. Namun fakta yang terjadi adalah, distorsi realisasi. Para pemuda milenial yang dipercaya Jokowi itu Justru membuat kegaduhan politik dengan kasusnya masing-masing.

Banyak pihak menjustifikasi dari kasus tersebut bahwa kaum muda ternyata tidak mampu diberikan amanah. Hal ini tentu hanya interpretasi general. Karena mereka tidak sepenuhnya mewakili kaum muda di masanya, mereka hanya dikenal memiliki karya dan prestasi. Entah dengan proses ideologisasi dan khasanah kebangsaan dan kerakyatan yang tampaknya belum teruji, mungkin juga belum di screening melalui proses seperti seniornya pada 1998 lalu.

Syahdan, apakah para pemuda harus duduk di bangku kekuasaan? Terlebih bagi mereka yang sempat berproses ‘dikawah candradimuka’? Khususon mereka para pemuda 1998 yang kini sudah berusia diatas 40an tahun? Kaum pragmatis mesti akan berfikir seperti itu. Namun yang dimaksud disini adalah ketika kita bicara pemuda maka konotasinya adalah generasi mendatang. Sebuah pola penciptaan regenerasi kepemimpinan bangsa yang harus segera diraih. Sehingga pola mengguncang-guncangkan kepemimpinan nasional tidak terus terulang dalam catatan sejarah.

Penulis: Djali Achmad ( Jurnalis / Aktivis FKSMJ 98 ).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top