Menyaksikan Adegan Indonesia - strategi.id
Corong

Menyaksikan Adegan Indonesia

Strategi.id - Menyaksikan Adegan Indonesia

Strategi.id – Betapapun kita sering disuguhi dengan sandiwara dan dagelan politik. Seperti dalam film, kita masih bisa menikmati adegan mencekam dan histeris yang acapkali diselingi gelak tawa. Kelucuan, kekonyolan, konflik, darah dan kematian menyatu, bercampur mengaduk-aduk emosi penonton. Mirip dengan saat menonton adegan film. Tatkala menyoroti soal politik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai politik yang hanya bisa dipertontonkan, bukan partisipatif apalagi mengonsep dan menciptakan bersama. Puas atau tidak puas, bagus atau tidak bagus bahkan layak atau tidaknya. Kita tidak bisa menentukan alur ceritanya, siapa pemainnya dan berapa lama durasinya. Kita terima beres dan tinggal menikmati sebagai hiburan. Kita hanya bisa sebatas menonton. Senang menikmatinya, kecewa atau menggerutu. Itu saja.

Begitu pun di dunia nyata. Begitu banyak peristiwa dan adegan yang setiap hari kita saksikan. Paling menarik ialah saat kita mencermati dunia politik. Salah satunya, kita bisa menyaksikan ada yang beroposisi dan bersikap kritis. Terlepas akibat kekalahan dalam pertarungan politik (pemilu), adanya penyimpangan penyelenggaraan negara ataupun karena tidak terakomodir dalam lingkaran kekuasaan. Ada juga yang benar-benar memilih independen, bebas mengeluarkan pendapat dan sikap politiknya. Orang yang demikianlah yang menentukan hidupnya menjadi orang merdeka.

Begitu juga dengan orang-orang yang memegang kendali negara maupun yang mendukung dan membela rezim ini. Entah karena berada dalam struktur pemerintahan dan jejaringnya yang begitu besar kekuasaannya, atau mungkin juga karena sekedar ikut menikmati remah-remah kue kekuasaan dan terlanjur menikmati zona nyaman. Meski dengan rezeki yang sedikit-sedikit tapi rutin dan periodik namun tidak serta-merta membuatnya menjadi orang kaya baru yang benar-benar sangat kaya.

Toh, terlepas dari dua kubu yang selalu memberi warna dan menyelimuti wajah kekuasaan, siapapun rezimnya. Masih ada entitas politik diluar itu. Sebuah populasi yang tidak bisa dibilang sedikit. Yaitu masyarakat yang apriori dan skeptis terhadap persoalan politik. Dalam istilah kaum intelektual biasa disebut apolitis. Cenderung tidak terstruktur, tidak terorganisir dan lebih mudah disebut massa mengambang. Mereka biasa dijumpai dalam keadaan yang masa bodoh dan tidak peduli pada persoalan politik. Bagi mereka, yang penting gue bisa kerja, bisa makan dan menghidupi keluarga. Menariknya, kelompok masyarakat ini tetap bisa menyalurkan sikap politiknya tanpa mereka sadari. Sebagian tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu (golput), sebagian bersuka ria merayakan pesta demokrasi dengan sesuka hatinya karena ajakan tokoh, ormas ataupun rayuan parpol yang dirasa pas dan cocok buat mereka. Setiap pemilu situasi itu berubah-ubah tergantung siapa yang mendekati dan mengajaknya. Lucunya, mereka bersuara dan memilih karena adanya kompensasi, biasa dalam bentuk uang atau sembako. Meski sering dinyinyir dengan ungkapan serangan fajar dan beresiko tergolong masuk kategori “money politic”. Masyarakat dan elit politik yang terbiasa dengan itu terkesan cuek dan biasa saja. Ada yang tegas menyatakan “memilih untuk tidak memilih” dan ada juga yang transaksional. Begitulah tren perilaku sosial diluar kedua kubu partisan politik dalam wajah demokrasi kita. Semuanya bersatu menjadi darah daging dari sistem politik dan peradaban yang kita bangun. Kita hanya bisa menikmati apapun prosesnya dan bagaimanapun hasilnya.

Biarkan saja perbedaan dan dinamika itu tetap ada. Kita harus menerima alam demokrasi yang kita perjuangkan sendiri dengan berbagai keuntungan dan segala resikonya. Jangan ada rasa sakit hati, dendam apalagi menebar rasa kebencian dan permusuhan diantara sesama dan yang berbeda. Sesama warga bangsa dan berbeda pandangan politiknya.

Jagalah negeri ini kalau memang masih bisa dijaga. Rawatlah persatuan dan kesatuan bangsa kalau memang masih mungkin dipertahankan. Soal keadilan, soal kesejahteraan dan kemakmuran. Biarkan saja itu menjadi sesuatu yang harus terus diperjuangkan, walaupun sulit dan tak kunjung datang.

Kita mungkin merasakan rasa sakit yang mendalam, perih yang tak terkira. Mungkin juga penderitaan jangka panjang hingga anak cucu kita kedepan. Kita tak ubahnya seperti ayam yang mati dalam lumbung padi. Masih saja ada yang hidup dalam kemiskinan di negara yang kaya raya. Sulit sekali kita menemukan pemimpin yang bisa dipercaya dan amanah. Sehari-hari kita disuguhi kontradiksi antara nilai dan tindakan. Kata-kata melayani dan mengabdi tergusur tergantikan oleh perburuan materi. Siapa yang punya uang dan kekuatan, dia yang berhak mengambil dan merasakan fasilitas. Wajah birokrasi dan tokoh-tokoh politik seperti sudah terbiasa dengan praktek-praktek suap dan korupsi.
Kekeliruan seperti melembaga. Penyimpangan dalam bentuk apapun menjadi terbiasa dan serba boleh. Hampir semua institusi pelayanan menjadi tempat tawar menawar untuk menjalankan hak dan kewajiban. Aparatur yang harusnya mengayomi dan melindungi seketika berubah berwajah bengis, rakyat tak ubahnya menghadapi kembali zaman kolonialis, ditindas dan didzolimi penguasa. Kekayaan kita dibawa keluar, sementara rakyat didalam negeri, terbatas dan kekurangan. Distorsi sudah mewabah, lintas sektoral dan dalam semua strata sosial.

Begitulah nasib Indonesia kita. Setelah Merdeka, negara kita benar-benar belum mencapai satu titik dimana kedaulatan dan kemandirian bisa dirasakan. Para tokoh dan pemuka sibuk dengan agenda politik dan kekuasaannya masing-masing. kehidupan yang hanya mengejar kepuasan materi yang memang tak pernah terpuaskan, menjelma menjadi monster yang melahap nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Elit kekuasaan dan para politisi seperti predator yang menghisap darah rakyat. Alih-alih melindungi dan memakmurkan masyarakat, penyelenggaraan kekuasaan negara justru merendahkan bahkan membunuh fisik dan mental anak bangsanya sendiri. Tak perlu disebut satu-persatu yang mati atau hilang tak ditemukan karena memperjuangkan hak dan keadilan, karena jumlah mereka memang tidak sedikit. Rakyat yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya, kini seperti menghadapi penjajah kembali dalam rupa bangsanya sendiri.

Rakyat Indonesia sepertinya harus tetap bersabar dan menerima takdirnya. Tetap menjadi negara bangsa yang terjajah dalam Kemerdekaannya. Miskin dalam kekayaannya. Menjadi kacung dalam kedaulatannya. Sesama anak bangsa terus memelihara kebencian dan larut dalam konflik sembari menyeru persatuan dan kesatuan. Kita tidak mungkin membangunkan jasad para pejuang dan pahlawan yang telah berkorban merebut kemerdekaan Indonesia. Kita tidak bisa terus menerus menangis meratapi nestapa nasionalisme kita. Kita tidak bisa juga hidup dalam mimpi-mimpi yang ideal dalam kehidupan kenegaraan kita. Kita ini bangsa apa?. Namun kepada siapa kita meminta perlindungan?. Kepada siapa kita meminta pertolongan?. Kepada para pejabat?. Pada politisi?. Tentu saja tidak bisa. Mereka bukan pemimpin, mereka hanyalah orang yang berenang-senang, menikmati hidup dan mencari kepuasan materi. Mereka hanya orang-orang yang sekedar punya harta, dilahirkan partai politik, hanya dibentuk oleh media dan pencitraan. Mereka hanya memperebutkan jabatan dan fasilitas.

Mereka tidak lahir dan berproses mengemban amanat rakyat. Mereka itulah yang tidak layak dan tidak pantas disebut pemimpin. Karena perjalanan kepemimpinan adalah perjalanan penderitaan. Pemimpin adalah menderita. Mungkinkah kita bisa menemukannya?. Hanya waktu yang bisa menulisnya.

Penulis: Yusuf Blegur ( Pemerhati Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top