Meredam Dendam dan Ganti Nyinyir Dengan Nyengir - strategi.id
Dialektika

Meredam Dendam dan Ganti Nyinyir Dengan Nyengir

Strategi.id - Meredam Dendam dan Ganti Nyinyir Dengan Nyengir

Strategi.id – Babak baru penanganan wabah pandemi Covid-19, kembali memunculkan kebijakan pemerintah dengan istilah kali ini “new normal”. Tidak sedikit orang mempertanyakan definisinya. Apakah sama dengan kebijakan terdahulunya yang disebut “social distancing”?. Apakah sekedar perluasan program seperti PSBB atau ada tambahan ketentuan atau aturan dari yang sudah ada?. Kita tidak membahas hal itu secara teknis semata. Menariknya ialah karena masih mengangkat tema seputar jarak sosial. Maka kita coba menyusuri dinamika dan dampak dari kebijakan yang sesungguhnya berakar pada hubungan sesama masyarakat yang tidak hanya pada aspek kesehatan semata, lebih dari itu soal ekonomi dan akhirnya tak terhindarkan dari soal-soal politik. Tentu saja tak bisa memisahkan diri dari soal pemerintahan dan tata-kelola negara. Pastinya ada pro dan kontra, ada oposisi ada koalisi. Ada juga “haters and lovers,” ada ” buzzer yang kinerjanya sesuai order.

Semua orang berpotensi untuk berproses dan
menjalani hidup baru, dalam keadaan normal ataupun tidak normal. Menikmati kehidupan dalam tekanan ataupun dalam kelonggaran. Dalam kesengsaraan hidup maupun dalam kesenangan hidup. Sesungguhnya kesiapan kita untuk seiring sejalan dan berdamai dengan keadaan kita, apapun dan bagaimanapun situasinya. Sangatlah ditentukan pada apa yang ada dalam diri kita, pada alam kesadaran, suasana jiwa dan kebatinan kita, bukan pada apa yang sudah kita miliki. Kesadaran itulah yang dapat memunculkan harmoni di dalam dan di luar kehidupan kita. Meskipun lebih sering terjadi, kita terbiasa meletakkan penderitaan atau kebahagiaan, terkadang juga soal keselamatan hidup dari faktor luar bukan dari dalam diri. Kita selalu bergantung pada kebendaan, materi dan fasilitas lainnya yang kita inginkan.

Dalam diri kita itulah kita bisa berproses mencipta dan memiliki yang kita butuhkan secara terus menerus seiring batas waktu hidup kita, karena yang sudah kita miliki adalah keadaan awal yang bisa berubah seiring waktu, terbuang dan bisa saja dan kapan saja kita kehilangannya. Karena tidak dibutuhkan lagi atau karena kebosanan. Bisa juga kita berikan atau diambil orang lain. Boleh jadi kita bertukar apa yang kita miliki dengan orang lain, tanpa ada rasa berkurang diantaranya. Lebih istimewa lagi ketika kita memberikan yang kita miliki kepada orang lain tanpa kita merasa kehilangan. Karena keajaiban selalu terbuka saat tanpa disadari atau diduga kita mendapat sesuatu dari pemberian orang lain.

Selain yang utama dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup yang pokok. Penting juga untuk melakukan resolusi terkait membangun suatu hubungan. Pola hubungan yang kita jalani saban hari dalam kehidupan kita, baik secara personal maupun interpersonal. Entah hubungan sosial, ekonomi, politik dan aneka pergaulan lain yang bisa bersama dan berbeda kepentingannya. Bagaimana membangun hubungan inilah yang kemudian bisa merubah diri kita dan orang disekelilingnya. Bahkan pada suatu keadaan yang lebih besar dan kompleks. Pada masyarakat atau negara misalnya, mungkin juga dunia. Hubungan yang bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan juga bagi yang merajutnya. Dalam diri kita itu yang menjadi sumber dari apa yang kita hasilkan, terkait bagaimana hubungan yang sudah terjalin dengan orang lain dan sistem di luar kita.

Menjadi faktor penting dan strategis adalah dengan terus berpikir positif dan etos kerja yang memberi kemanfaatan diri maupun banyak orang. Untuk bisa berada dalam posisi itu mutlak diperlukan jiwa besar dan pikiran bijak. Menyiapkan mental tanpa kebencian dan permusuhan. Menerima perbedaan dan tetap melakukan yang terbaik dalam kebersamaan sebagai jatidiri , umat beragama dan sebagai anak bangsa.

Membuka diri untuk mengakui kesalahan dan membiasakan berupaya memperbaiki. Memenuhi akal dan perasaan memaafkan, sembari mengambil pelajaran dan hikmahnya. Merupakan terobosan yang paling efisien dan efektif disamping lebih beradab tentunya. Apalagi di tengah krisis mentalitas dan kesadaran makna terhadap perilaku dan dinamika sosial. Keberlimpahan informasi ditunggangi juga dengan penyebaran berita bohong, kamuflase dan tendesi politik yang sempit yang mengancam harmoni, persatuan dan keutuhan sosial. Ditambah dalam cengkeraman wabah pandemi dan kemerosotan kualitas penyelenggaraan negara.

Kita tidak akan mengenal siapa diri kita sebelum orang lain merespon dan menilainya. Bukan pada pembicaraan dan pengetahuannya, melainkan pada tindakan yang berdampak pada lainnya. Mirisnya, kita terlalu banyak berkata dan berlebihan menyikapi sesuatu yang bukan mendekat pada jalan keluar, malah hanya memperkeruh dan menimbulkan masalah baru dan menambah beban. Kita menjadikan diri kita bukan sebagai benih yang memanen kebaikan tetapi justru menjadi virus yang mematikan tatanan sosial. Bukan merekatkan sosial, malah membuat kerenggangan sosial.

Sejatinya, kita bisa memperbaiki diri atas kelemahan orang lain. Kita bisa mengurangi kesalahan diri dari kebaikan orang lain. Dari orang lainlah sesungguhnya kita belajar, terhadap apa yang kita ambil dan berikan kepadanya. Itulah makna kesadaran sosial. Aku adalah engkau, engkau adalah aku. Apa yang kita buat kepada orang lain, maka kita juga yang merasakannya. Kata agama, tidak beriman seseorang kepada Tuhannya tanpa mencintai saudaranya.

Relung sosial kita harusnya memberikan porsi dan kapasitas yang lebih besar pada wilayah komunal. Dimana kebutuhan pribadi atau kelompok atau golongan tak melampaui batas dari kepentingan-kepentingan keberagaman. Bukan semata pada soal bentuk dan jumlah, melainkan tetap menjaga perbedaan yang diikat oleh rasa kebersamaan, saling menjaga dan melindungi, berdampingan dalam keharmonisan untuk mencapai tujuan sosial.

Keseharian kita, mungkin saja selalu dipertontonkan dengan sesuatu yang tidak ideal, terjungkirbaliknya nilai-nilai, dan kenyamanan dari perilaku menyimpang. Situasi dan kondisi memaksa kita untuk mengabaikan diri kita yang sebenarnya. Hidup kita terus dipaksa dengan kepalsuan, tubuh dan wajah kita dipenuhi balutan kosmetik dan riasan tebal yang menutupi kedalaman. Kita harus menelan sesuatu yang yang sesungguhnya bukan makanan kita, meminum berlebih tanpa sedikitpun menghilangkan dahaga. Kita menjadi manusia yang hanya untuk disebut statusnya, bukan rohnya, bukan jiwanya juga bukan artinya. Apakah kesadaran dan orientasi hidup kita semua sudah sebegitu permisif. Membolehkan segala hal berlaku. Tanpa batas, tanpa aturan, dan tanpa sedikitpun nilai dan etika.

Lalu, bagaimana kita menyikapinya?. Apakah sikap kita acuh tak acuh atau tutup mata saat kebenaran tidak lagi menjadi tuntunan dan panutan?. Jika itu benar-benar terjadi, apakah kita terus larut dalam kekeliruan massal yang berkepanjangan. Memaafkan atau melawan berupaya melakukan perubahan?. Atau kita pasrah menerima keadaan?, toh kita memang tidak berdaya, memperjuangkan keadilan dan kebenaran itu beresiko. Terlalu mahal harganya. Atau memang kita terlalu percaya diri, kebenaran ada di kantong kita, diluar sana adalah dagangan kejahatan.

Semoga kedepan, kita semua baik-baik saja dan Indonesia tetap menjadi rumah yang melindungi kebersamaan meski tanpa kemegahan dan kebanggaan nasional.

Penulis: Yusuf Blegur ( Pemerhati Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top