Miris! Curahan Hati Seorang Anak Papua – strategi.id
Nusantara

Miris! Curahan Hati Seorang Anak Papua

Curahan Hati Seorang Anak Papua

Strategi.id – Banyak orang yang SOMAD (sok tau amad) tentang Papua, nulis begana-begini-begono tentang Papua.

Eh,,,.. Saya hidup di Papua sejak 1995 tak mau belagu nulis tentang Papua, apalagi sok tau.

Saya hidup di daratan Serui, tau serui tidak? Daerah ujung tipis yang masyarakatnya hidup di garis bawah sejak bumi ini ada. Miskin?? sudah pasti. Tapi kami tau cara bersyukur pada Tuhan.

Stop lah menulis tentang kami anak-anak papua, jangan lagi kalian mencari nama dengan seolah-olah berempati pada kami tapi tidak melakukan apa apa.

Kalian mungkin beruntung hidup di barat indonesia. Senangnya bukan main, serba ada dan murah.

Kalian lahir pakai dokter, kami tidak.
Kalian bisa menonton tivi sejak lahir bahkan sebelum lahir, kami baru 3 tahun ini.
Kalian bisa berjalan di aspal gagah, kami?? syukur syukur bukan kubangan babi.
Tau kah kalian berapa harga sekarung beras 50 kg?? Sejuta!!

Puji Tuhan, Kami tidak terlalu biasa makan nasi yang mewah dari kecil. Beras itu mewah bagi kami, makanan orang-orang kaya. Kami cukup hidup dengan talas atau enau. Syukur-syukur kalau jagung lagi murah, sedikit mewah lah kami makan sekeluarga.

Tau tidak kenapa rumah kami cuma bak kandang sapi kalian?? Siapa yang mampu beli semen satu sak seharga 2,5 juta. Lihat uang segitu gak pernah, cuma tau baca kami disini. Boro boro mau beli semen buat rumah, mikul semen satu sak 20 km udah mati duluan kami disini.

Terus apa kami marah dengan kondisi dan ketimpangan itu?? Tidak.
Kami so biasa jadi anak tiri bahkan dianggap anak pungutan.
Kami biasa dilupakan, meski kekayaan alam kami di keruk sampai ke akar bumi. Lalu uangnya diberi untuk kalian di barat sana. Aspal kalian licin, rumah kalian terang, sekolah kalian bagus sudah, rumah sakit kalian mewah.

Kami dapat apa??
Dapat ampas dan kerusakan dari itu semua.

Kami tidak marah, kami ikhlas berbagi sama kalian, kekayaan alam kami untuk mempercantik daerah kalian.

Kemudian hari ini daerah kami mulai dibangun, rumah sakit so ada dokter, sekolah so pake sepatu. Harga beras murah sudah, beli semen so tak semahal berlian lagi. Jalan kami mulai lebar. Tapi kalian ribut!

Apa cuma kalian yang ingin rumah sakit lengkap?
Apa cuma kalian yang ingin jalan ber aspal?
Apa cuma kalian yang ingin makan nasi?
Apa cuma kalian yang ingin pasang listrik?

Heeiiiii kami jugaaa..
Kami juga manusia, manusia indonesia. Cukuplah kulit kami saja yang gelap, daerah kami jangan!

Cukup rambut kami saja yang bergelombang. Jalanan kami jangan!!

Cukuplah kekayaan alam kami saja yang kalian keruk, sifat kalian juga jangan macam beruk.

Ikhlas lah sedikit berbagi dengan kami anak-anak Papua, anak anak pelosok rimba yang juga ingin merasakan bagaimana dianggap layaknya manusia.!!

Di tangan tukang kayu yang rupanya tidaklah gagah, badannya tidaklah tegap … Tapi kami dianggap…

Kami disetarakan. Kami dihargai selayak manusia Indonesia.

Kami tidak kenal rupa tukang kayu itu, tapi hasilnya kerjanya, membuat kami kenal bagaimana kearifan, kebijaksanaan, keadilan, kesejahteraan yang merata ada dalam benak kepemimpinannya dan dia mencoba untuk berbuat yang terbaik untuk kami.

Membangun tidaklah mudah, apalagi membangun Papua. Daerah dengan struktur alam perbukitan, meliuk dan daerah yang masih beralam brutal karena tidak terjamah pembangunan selama ini.

Semua butuh waktu.. Semua butuh proses..

Tapi seorang anak desa pinggiran sungai Bengawan Solo telah berupaya dan terus berjuang untuk kemajuan kami anak-anak Papua.

Terima kasih presiden ku… Terima kasih bapak Joko Widodo.

Di tangan Anda, kami merasakan layaknya dianggap manusia Indonesia.

Salam dari Serui..

Dari anak bangsa yang pernah terpinggirkan.
(Cristian Pundulay)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top