Mulai dari Nol, Ekonomi Dunia Pasca Corona - strategi.id
Dialektika

Mulai dari Nol, Ekonomi Dunia Pasca Corona

Strategi.id - Mulai dari Nol, Ekonomi Dunia Pasca Corona

Strategi.id – Covid 19 (virus corona) masih gemar tinggal di dunia. Krisis kesehatan masih melanda sekitar 200-an negara di dunia. Krisis ekonomi sudah membayangi, bahkan mungkin dialami sebagian besar negara-negara itu. Mulai dari perlambatan putaran roda ekonomi, sampai kemunduran pertumbuhan ekonomi. Indonesia Negara kita tercinta, juga mengalami hal yang sama.

Bedanya, Indonesia dan dua negara lain (China dan India) diprediksi World Bank dan International Monetary Fund (IMF) diprediksi masih berpeluang mengalami pertumbuhan ekonomi di atas nol persen.

Paraekonom kita yang mungkin sepakat dengan prediksi itu, mungkin saja bisa sedikit tersenyum. Benar atau tidakya prediksi tersebut, sebagai Bangsa Yang Besar dan Rakyat Yang Tangguh, kita harus optimis Indonesia bisa melalui badai besar ini.

Corona hadir bagai hakim yang hendak menjaga keseimbangan alam semesta. Meski agak berat dikatakan, ada sisi positif dari pandemi virus corona. Pemerhati lingkungan bahkan ada yang mengatakan, pandemi virus corona membuat udara di bumi kembali bersih. Ini mungkin dikarenakan berkurangnya aktivitas industri yang mencemari lingkungan.

Di lain sisi, virus corona membuka peluang bagi negara-negara di dunia bertarung mulai dari nol dalam persaingan ekonomi. Mungkin beberapa harus memulai dari minus, tetapi sebagian besar mungkin akan bertarung mulai dari nol.

Jika kita kembali melihat pada sejarah, kondisi seperti sekarang mungkin sama seperti ketika Perang Dunia (PD) I dan II melnda dunia. PD II melululantahkan hampir seluruh dunia (utamanya Eropa dan Asia yang digunakan sebagai battle field), fisik infrastruktur, psikis, sosial, politik dan ekonomi hancur.

Namun PD II membawa hal yang baik bagi sebagian negara-negara bekas jajahan Bangsa Kolonial Eropa, seperti Indonesia. Bisa dibilang Indonesia adalah negara yang kemerdekaannya direstui oleh semesta. Kemerdekaan itu bukan dihadiahkan oleh penjajah kita, tetapi dihadiahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa Pencipta Alam Semesta.

Bukan suatu kebetulan Jepang menang melawan Belanda saat merebut Indonesia. Juga buakan suatu kebetulan Hirosimah dan Nagasaki (dua kota penting Jepang), hancur lebur dibom atom Amerika Serikat.

Di tengah konflik yang berkecamuk, lahirlah Indonesia dan negara-negara yang belakangan disebut dengan istilah negara dunia ketiga. Negara yang memenangkan perang, yang kalah dan yang baru merdeka sama-sama memulai dunia dari titik nol.

Semua negara yang kita lihat hebat hari ini, memulai semua dari titik nol pasca1945. Jepang dan Jerman yang dikagumi dalam perkembangan teknologi masa kini, memulai semua dari titik nol. Bahkan Jerman agak sedikit mengalami gangguan karena wilayah adminstrasi negaranya dibagi dua (Barat dan Timur), dan berada di bawah kendali Sekutu dan Uni Soviet.

Namun semua berhasil keluar dari titik nol. Membangun dan terus membangun. Sebagian membangun dengan pesat, lainnya agak lamban membangun. Bahkan ada juga yang dimanfaatkan oleh negara-negara yang sudah stabil atau/dan rezim keuangan ineternasional untuk melaksanakan kepentingannya.

75 tahun seolah proses itu berulang. Kini negara-negara di dunia (paling tidak yang terkena pandemi virus corona), berpeluang memulai ekonominya dari nol juga mungkin di bawah nol. Nah, sekarang tinggal bagaimana negara-negara itu menyusun dan bersiasat dalam memacu kembali pertumbuhan ekonomi pascapandemi ini.

Bagi Indonesia, ini mungkin kesempatan kesekian kali untuk bertarung dalam pertarungan ekomoi global. Pertanyaannya, apakah kita mau bertarung dengan sungguh-sungguh dan keluar sebagai pemenang atau kita mau main aman dan sekadar menjadi follower dari rezim keuangan dunia dan negara-negara maju?

Itu ada di tangan para pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan. Rakyat Indonesia juga memiliki peran strategis dalam keberhasilan kebangkitan ekonomi negaranya. Kini pilihan ada di depan mata, Indonesia hendak menjadi negara pengendali atau ekonomi dunia atau sekadar menjadi negara follower?

Peluang mewujudkan Indonesia menjadi 5 besar ekonomi dunia 2030 sesuai prediksi beberapa waktu lalu, juga sangat terbuka di depan mata. Dengan catatan dalam kurun waktu lima tahun jelang 2030 Indonesia tidak salah dalam melangkah dan menentukan kebijakan serta strategi ekonomi.

Saya percaya, Indonesia tidak kekurangan ekonom hebat dan parapengambil kebijakan ekonomi kita sudah diakui di dunia. Mari kita doakan mereka bisa bekerja dengan pikiran dan hati untuk Indonesia, untuk Rakyat Indonesia dari berbagai golongan (miskin, menengah dan kaya).

Tetap optimis! Indonesia bangkit! Indonesia bisa! Indonesia hebat!

Jum’at 24 April 2020.

Penulis: Amos El Tauruy (Jurnalis dan Pemerhati Ekonomi Politik Internasional).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top