Narasi Menang,Curang dan Perang Versus Metode Ilmiah - strategi.id
Nusantara

Narasi Menang,Curang dan Perang Versus Metode Ilmiah

Strategi.id-Tuduhan miring kepada 12 lembaga survey yang melist hasil ‘Quick Count’ atau Perhitungan Cepat pada Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2019 dinilai mengada-ngada dan tidak mendasar.

Hal ini terungkap dari acara “‘Talk show Quick Count’ Di Mata Akademisi” yang diadakan Alumni Orange dan Alumni Prodi Abi Unika Atmajaya Jakarta, di Kampus Unika Atmajaya,Semanggi Jakarta, Rabu ,(8/5/19).

Baca Juga : Memaknai Narasi Curang

Akademisi Universitas Padjajaran, Muradi, menyebutkan, tuduhan-tuduhan terhadap lembaga survei tersebut memang sengaja diembuskan salah satu pihak yang menginginkan menang dengan menghalalkan segala cara.

“Ada tiga narasi yang dibangun, yaitu pokoknya harus menang, ada kecurangan dan perang. Narasi itu sengaja diembus untuk membuat ketakutan di masyarakat, sehingga masyarakat kehilangan kepercayaan kepada seluruh elemen penyelenggara pemilu, termasuk kepada lembaga survei yang melakukan ‘quick count’,” ujar Muradi yang juga Aktivis 98 dari Bandung.

Sedangkan Akademisi Unika Atmajaya, Daniel Yusmic, menilai ada pihak yang mengelola narasi-narasi ketakutan yang berupaya mendelegitimasi pelaksanaan pemilu.

Baca Juga : Pengamat Kebijakan Publik Sarbini: Rencana Pemindahan Ibukota Negara Harus Dikaji Mendalam

“Ini telah men-‘downgrade’ sebuah penelitian ilmiah melalui opini-opini yang dibangun. Saya meyakini, tuduhan tersebut tidak mendasar karena kesalahan mungkin saja ada, tapi penelitian tidak pernah berbohong,” ucap Daniel.

Ditempat yang sama, Direktur eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, menjelaskan “quick count” digunakan pertama kali dilakukan di Indonesia sejak Pemilu 2004 dan tidak memiliki masalah yang berarti.

“Quick count sejak tahun 2004 telah digunakan di Indonesia dan tidak pernah ada masalah, kecuali hasil quick count yang dilakukan oleh tiga lembaga survei yang memenangkan salah satu calon pada pemilihan presiden 2014,” jelasnya.

Baca Juga : Kunjungi Kalimantan, Presiden Tindaklanjuti Pemindahan Ibu Kota

Djayadi mengatakan, hal tersebut menunjukkan bahwa metode ini bisa dipertanggung jawabkan. Sebab, katanya selama dilakukan dengan memakai prinsip-prinsip statistik dan ilmiah.

“Quick Count sendiri harusnya digunakan sebagai pembanding bagi Real Count. Jangan merasa takut untuk membuktikannya secara ilmiah,” tegas Djayadi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top