“ New Normal Sebuah Jalan Pahit” – strategi.id
Dialektika

“ New Normal Sebuah Jalan Pahit”

Strategi.id - “ New Normal Sebuah Jalan Pahit”

Strategi.id – Mengawali seluruh aktivitas hidup dengan gaya dan pola baru adalah impian semua orang dipenjuru Dunia, tak ayal orang akan melakukan apapun untuk berpindah fase gelap ke fase yang lebih Cerah dan menjanjikan,  untuk memulai aktivitas sperti sedia kala,usai wabah atau pandemic.

Hal inilah yang akhir – akhir ini muncul sebagai wacana Pemerintah bahwa kita akan memasuki Fase “ New Normal.”, namun tetap mengedepankan pola hidup sehat, New normal ,  menurut Wikipedia:  adalah  sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007 – 2008, resesi Global 2008 – 2012, dan pandemic Covid – 19.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu bahwa : Indonesia akan memasuki tatanan kehidupan baru ( New normal ), dimana masyarakat harus berdamai dan hidup berdampingan dengan Covid -19, tidak menyerah, tetapi menyeesuaikan diri ( dengan bahaya Covid – 19 ), Selasa (26/05/20).

Memahami apa yang disampaikan Presiden Jokowi sudah barang tentu wajib dibarengi analisis kritis kenapa Presiden Secara tiba – tiba memberikan himbauan bahwa Bangsa ini harus “ New Normal.” Ditengah Covid – 19, Ada 6 point analisis  yang bisa saya sampaikan:

1. Apakah ada korban Jiwa yang begitu banyak akibat Covid – 19 sehingga Pemerintah kewalahan dalam menanganinya.

2. ketidak terbukaan Jumlah korban Covid -19 baik tingkat Pusat maupun daerah

3. belum  terealisasinya Upaya pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran Covid -19 sperti Rapid test Masal 

4. Tumpang tindih kebijakan BANSOS dari Pemerintah Pusat dan Daerah .

5.Belum maksimalnya Upaya Pemerintah dalam menjamin kehidupan para Tenaga medis yang berjibaku mengobati para fasien positif Covid-19

6.Tidak Cukup memadai Anggaran yang dimiliki.

Dari point – point diatas terlihat jelas bahwa Pemerintah terkesan “ menyerah”  mengibarkan bendera putih sebagai tanda ketidak sanggupan dalam melindungi Rakyat,  sesuai amanat Undang – undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan Kesehatan ( “UU 6/2018”)..”Patut dipahami terlebih dahulu bahwa yang dimaksud Kekarantinaan kesehatan adalah Upaya mencegah dan menangkal  keluar atau masuknya penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan Kedaaruratan kesehatan masyarakat

[1] Kedaruratan kesehatan Masyarakat sendiri adalah kejadian kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa dengan ditandai penyebaran penyakit menular dan/ atau kejadian yang disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia, bioterorisme, dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar  lintas wilayah atau lintas Negara.

[2] Lebih lanjut , UU 6/2018
Mengamanatkan bahwa Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab melindungi kesehatan Masyarakat dari penyakit dan/ atau factor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan melalui penyelenggaraan kekarantinaan masyarakat.

[3] Patut dipahami bahwa Pemerintah pusatlah yang menetapkan dan mencabut  kedaruratan kesehatan masyarakat.

[4] Sebelum menetapkan kedaruratan kesehatan Masyarakat, pemerintah pusat terlebih dahulu menetapkan jenis penyakit  dan factor resiko yang dapat menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat.

[5] Kutip dari HukumOnline.com 26/5/2020
Dapat kita simpulkan bahwa Pemerintah sebaiknya memiliki pedoman, rujukan mengapa Indonesia harus New Normal..? tidak kemudian mengambil kebijakan berdasar sikap fatalistis, dengan mereduksi makna sesungguhnya tentang kehidupan baru, Jika Pemerintah hanya gunakan New normal sebagai sikap fatalistis, sebaiknya gunakan pendekatan cultural  dengan membangun semangat bersama bagaimana keluar dari kesulitan akibat Covid-19, melokalisir wilayah – wilayah yang termasuk Zona merah Covid-19,Untuk orang tidak berlalu lalang, ataupun bepergian kedaerah yang notabene Zona kuning apalagi  hijau, ini sebagai langkah strategis, guna memutus mata rantai penularan Coronavirus,
Disamping itu ada tahapan – tahapan yang mungkin bisa dilakukan untuk menggairahkan daya beli masyarakat , Contoh mengizinkan Mall – mall, Rumah Makan, Pabrik beraktivitas kembali untuk mengurangi pengangguran, khusus daerah dngan Zona hijau,  dengan Catatan tetap mengacu pada SOP Covid-19 yakni patuh terhadap protokol kesehatan ,( Physical distancing, Pakai masker dan Cuci tangan ), sementara untuk daerah dengan Zona Kuning dan merah ada kontrol yang ketat dari Pemerintah.

Jika suatu daerah  akan dilonggarkan atau dicabut status PSBB menjadi “ New Normal.” Maka ada  tahapan pemeriksaan suhu badan, wajib Masker, Cuci tangan, rapid test masal diseluruh tempat – tempat umum yang akan dicabut,dan  wajib menjaga jarak karyawan dan para pengunjung.

Sudah barang tentu Pemerintah tidak serta merta, berpangku tangan  bahkan membiarkan kemandirian perusahaan swasta, tanpa kontrol yang ketat, dan monitoring berkala yang dilakukan oleh Kepala daerah masing – masing.

New normal bisa jadi sebagai alternatif baru pasca PSBB yang dianggap oleh berbagai pihak kurang efektif dan buang anggaran  Cuma – Cuma, Masyarakat yang membutuhkan tetap ramai dan tidak terdata baik, sementara para penikmat Bantuan Sosial,  banyak salah sasaran kepada orang – orang kaya dan mampu secara ekonomi.

Namun Ibarat buah simalakama, pemerintah dihadapkan pada persoalan ekonomi, pengangguran, nilai tukar, naiknya harga bahan pokok yang menjadi penopang utama kehidupan Masayarakat, sementara tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk mempertahankan  PSBB di setiap daerah, jalan pahit yang harus diambil adalah bertahan melawan Coronavirus dengan menormalkan kembali titik – titik sebagai sumber ekonomi dan bisnis, guna menopang laju ekonomi, agar krisis tidak semakin parah, selain itu tugas pemerintah untuk mendorong optimism,  agar masyarakat tidak merasa terbebani oleh aturan main para pemangku jabatan.

Kemungkinan  Efek domino yang akan timbul adalah: semakin banyaknya sebaran Coronavirus  jika menilik ketidak disiplinan masyarakat kita, ada kecenderungan abai terhadap Virus ini, kesadaran yang rendah serta minimnya pemahaman tentang kesehatan ditambah beban ekonomi yang semakin berat, membuat masyarakat enggan mengikuti aturan yang ada.

Hari – hari kelam Bangsa Indonesia dimasa  yang akan datang ada di depan mata dan mungkin saja menghantui kita semua, sampai hari ini belum ada satupun Negara di dunia yang bisa menemukan anti Virus Covid-19, jika ini bertahan terlalu lama maka “ New Normal.” Akan menjadi bencana yang teramat parah, dimana Negara akan menanggung beban Jaminan kesehatan para korban Covid-19 sekaligus tidak sedikit biaya recovery terhadap dampak ekonomi yang ditimbulkan, kemungkinan kita akan memasuki fase “ Abnormal.” Jika konsep “ New Normal.” Gagal, atau tidak ada peubahan yang signifikan, semoga apa yang kita khawatirkan tidak terjadi, kita sbagai Aktivis sekaligus pegiat social jangan lelah untuk mendorong Pemerintah membangun   kesadaran masyarakat untuk terbiasa hidup sehat dan tetap produktif , Tugas Pemerintah membuka lapangan pekerjaan baru, menarik Investasi, menumbuhkan kepercayaan pasar, agar para korban PHK bisa mendapatkan pekerjaan kembali dan bisa menghidupi anak istri tanpa ketakutan.

Penulis: Sopan Ibnu Sahlan (Mantan ketua BEM Universitas Satyagama Jakarta 1995 – 1999).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top