Nurani 98 Kritik Pembungkaman Demokrasi Melalui Teror dan Ancaman – strategi.id
Nusantara

Nurani 98 Kritik Pembungkaman Demokrasi Melalui Teror dan Ancaman

Strategi.id - Nurani 98 Kritik Pembungkaman Demokrasi Melalui Teror dan Ancaman

Strategi.id – Seorang wartawan dari media online Detik.com sempat mendapat teror beberapa waktu lalu karena pemberitaan yang sebelumnya dibuat terkait Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) ke Bekasi pada Selasa 26 Mei 2020.

Teror yang sekaligus mengintimasi itu berisi pula mengenai ancaman pembunuhan terhadap wartawan Detik.com.

Menanggapi kasus tersebut Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Forum Pemimpin Redaksi Indonesia (Forum Pemred) mendesak pihak kepolisian untuk segera memproses pelaku teror tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap kebebasan pers dan demokrasi.

Lalu tidak lama berselang muncul kasus Agenda diskusi mahasiswa Constitusional Law Society (CLS) Fakultas Hukum UGM pada 29 Mei 2020 berjudul ‘Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan’ terpaksa dibatalkan.

Dekan Fakultas UGM Sigit Riyanto dalam keterangan tertulis mengatakan pembatalan itu lantaran pembicara, moderator dan narahubung agenda diskusi, serta ketua CLS mendapat teror dan ancaman pembunuhan sejak malam sebelumnya.

“Mulai dari pengiriman pemesanan ojek online ke kediaman, teks ancaman pembunuhan, telepon, hingga adanya beberapa orang yang mendatangi kediaman mereka,” ungkap Dekan Fakultas Hukum UGM Sigit Riyanto dalam pernyataan kepada rekan media, Sabtu (30/05/20).

“Teror dan ancaman ini berlanjut hingga tanggal 29 Mei 2020 dan bukan lagi hanya menyasar nama-nama tersebut, tetapi juga anggota keluarga yang bersangkutan, termasuk kiriman teks berikut kepada orang tua dua orang mahasiswa pelaksana kegiatan,” tambah dia.

Menangapi hal tersebut Nurani 98 yang dikomandani oleh Ray Rangkuti pengamat politik yang dulu bersama sama aktivis 98 lainnya menjadi motor perubahan mengomentari kejadian kejadian yang terjadi diiklim demikrasi ini.

Berikut pernyataan resmi dari Nurani 98 yang ditanda tangani oleh 25 aktivis 98 :

Rilis Pernyataan Sikap NURANI ’98

Pekan terakhir kita dikejutkan peristiwa-peristiwa ancaman kebebasan. Jurnalis, akademisi, aktivis mengalami teror; mulai dari diretas alat komunikasinya hingga diancam untuk dibunuh. Ketiga peristiwa berturut-turut ini tidak bisa dianggap remeh. Sebab, intimidasi menjurus kekerasan digunakan sebagai instrumen untuk membungkam perbedaan pendapat.

Dalam semangat Reformasi Mei, kita ingat bahwa jaminan kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan bagian penting visi reformasi. Ketika hak konstitusional warga negara tersebut dalam ancaman, maka ancaman tersebut tidak bisa diletakkan semata sebagai masalah personal. Kepublikan dan demokrasi kita terlukai.

Karena itu, kami yang tergabung dalam NURANI ’98 menyatakan sikap sebagai berikut :

1.Teror atas kebebasan mengemukakan pendapat dan pikiran merupakan kejahatan atas nilai reformasi. Keberatan atau ketidaksetujuan atas satu pendapat dan pikiran harus diungkapkan dengan cara beradab. Kebebasan pandangan perlu dijamin dan didorong oleh segenap elemen negara agar pikiran tetap hidup dan demokrasi tidak mati.

2.Jika terdapat pikiran atau pendapat yang bertentangan mengandung fitnah, diskriminasi SARA, hoaks dan bentuk-bentuk lain pelanggaran aturan perundang-undangan, seharusnya hal itu diselesaikan melalui mekanisme hukum. Teror terhadap kebebasan berpendapat itu sama kejinya dengan ujaran kebencian, dan upaya saling balas terhadapnya hanya mendegradasi sistem hukum dan keadaban sosial.

3.Terkait dengan dua peristiwa dalam satu minggu ini, kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan penyelidikan, termasuk untuk menemukan pelaku teror berikut motifnya. Bukan saja karena di dalamnya terindikasi unsur tindak pidana, tetapi juga agar tidak terjadi saling tuding dan fitnah atas peristiwa ini.

4.Pemerintah harus memastikan bahwa jaminan kebebasan berpendapat dan mengemukakan pikiran itu terlindungi dan terawat baik. Menjamin tetap terawatnya kebebasan –sebagai bagian pokok demokrasi– adalah tugas pemerintah sepanjang masa, terlepas bahwa pemerintahan mungkin berganti pada periode berlainan.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat. Atas perhatian dan partisipasinya, kami ucapkan banyak terima kasih.

Pun kepada kawan-kawan yang ikut serta dalam gerakan reformasi ’98 agar sama-sama memastikan hal ini tidak boleh lagi terjadi. Khususnya kepada kawan-kawan yang sudah masuk dalam lingkaran elite politik, baik di tingkat nasional maupun daerah, kiranya bersatu sikap dan pandangan agar alam kebebasan yang sama-sama kita perjuangkan pada 1998 lalu tidak terdegradasi karena alasan apa pun.

Jakarta, 30 Mei 2020.

1.Ray Rangkuti (Aktivis ’98/UIN Ciputat)
2.Arif Susanto (Aktivis’98/Akademisi).
3.Danardono Siradjudin (Presidium FKSMJ 96-97).
4.Jeirry Sumampow.
5.Ubaidillah Badrun (Akademisi/UNJ).
6.Kaka Suminta.
7.A. Wakil Kamal (aktivis ‘98/Ketua Presidium ISMAHI 1996/98).
8.Sarbini (Aktivis ’98/FKSMJ).
9.Andi Key Kristianto (LSAdi ’98).
10.Asep Wahyuwijaya (Sesjen ISMAHI 1996-1998).
11.Iwan Gunawan (Aktivis ’98/Jakarta).
12.Anthony FK’98/Perbanas).
13.Suryo AB (Aktivis’98/Dosen).
14.Boy Rendra ( Aktivis’98/Untag Jakarta).
15.Jimmy Radjah (FK’98/Untag Jakarta).
16.Basel (Aktvs 98/UNJ).
17.Sopan Ibnu Sahlan ( Aktiv 98/UNSAT).
18.Lutfi Nasution ( Aktivis 98/FKSMJ).
19.Asep Supriyatna ( Aktivis 98/Bandung).
20.Adjat Sudrajat (Aktivis 98/Perbanas).
21.Rahmat Zaelani Kiki (Aktivis ’98/Ciputat).
22.Sebastian Salang (Aktivis ’98/Jakarta).
23.M. Jusril (Aktivis ’98/Ass sekjen Ismahi 96/97).
24.Abdur Rohman/Omen (Aktivis ’98/FKSMJ).
25.Kusfiardi (Aktivis ’98/Yogjakarta).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top