Oki Satrio : Gempur Kritisi UU Panas Bumi No 21 Tahun 2014 dan Siap Jaga Gunung Cermai - strategi.id
Nusantara

Oki Satrio : Gempur Kritisi UU Panas Bumi No 21 Tahun 2014 dan Siap Jaga Gunung Cermai

oki satrio Gempur Gunung Cermai

Strategi.id- Kuningan merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang terkenal dengan Gunung Ciremainya. Gunung Ciremai seringkali menjadi tempat tujuan bagi para pendaki Gunung. Disamping itu, wilayah lereng Gunung Ciremai juga menjadi lahan pertanian bagi mata pencaharian warga sekitar dan menjadi sumber air untuk wilayah Kuningan dan Cirebon.

Sebelumnya, Gunung Ciremai merupakan kawasan Hutan Lindung di bawah pengawasan Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani).

baca juga : Seren Taun 2018: Hidup Berdampingan Dalam Kebhinekaan

Kemudian pada tahun 2004 pemerintah secara sepihak melalui SK Menhut menetapkan Gunung Ciremai dari status Hutan Lindung menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hal ini sempat mendapatkan protes dari masyarakat Kuningan sampai akhirnya reda kembali.

Pada tahun 2011, Menteri ESDM melakukan evaluasi terhadap potensi panas bumi yang terkandung di dalam Gunung Ciremai hingga akhirnya memutuskan untuk menetapkan Gunung Ciremai sebagai Wilayah Kerja Pertambangan (WKP). Pada tahun 2013, pemerintah Jawa Barat melakukan lelang terhadap WKP Gunung Ciremai yang dimenangkan oleh PT. Jasa Daya Chevron.

Sejak Menteri ESDM menetapkan Gunung Ciremai sebagai WKP dan menetapkan TNGC, wilayah disekitar lereng Gunung Ciremai yang sebelumnya dikelola oleh warga sebagai lahan pertanian sekarang berada dibawah pengelolaan dan pengawasan TNGC.

TNGC sendiri SERING diduga-duga menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk mengeksploitasi Gunung Ciremai, karena setelah wilayah yang ada disekitar lereng Gunung Ciremai menjadi tanggung jawab TNGC, wilayah- wilayah tersebut ditetapkan sebagai zonasi titik-titik pengeboran panas bumi oleh kEMENTRIAN Esdm.

baca juga : FK ’98: Massa yang Datang Rembuk Bukan Bayaran

Akibat dari ditutupnya wilayah-wilayah tersebut, ada beberapa kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat. Hasil produksi sayur mayur yang ada diwilayah sekitar lereng Gunung Ciremai menurun drastis bahkan hampir tidak ada karena warga kehilangan lahan pertaniannya dan sebagai akibat dari kondisi tersebut, saat ini banyak masyarakat sekitar lereng Gunung ciremai kehilangan mata pencahariannya hingga menjadi pengangguran. Padahal sebelumnya, saat lahan pertanian warga di sekitar lereng Gunung Ciremai masih dibawah pengelolaan Perhutani, warga masih diperbolehkan untuk mengelola lahan pertanian tersebut.

Wilayah sekitar lereng Gunung Ciremai menjadi wilayah penghasil wortel dan kol yang melimpah dan dikirim ke Jakarta dan Surabaya. Namun saat ini, setelah lahan pertanian ditutup oleh TNGC, hasil produksi menurun sehingga terpaksa membeli sayuran dari Jawa.

Selain hilangnya produksi sayur mayur dari Kuningan, TNGC rupanya telah beberapa kali melakukan kriminalisasi terhadap warga yang ada disekitar lereng Gunung Ciremai. Salah satu kasusnya adalah ketika ada seorang warga desa yang ada di lereng Gunung Ciremai terpaksa ditahan polisi karena dilaporkan telah mencuri kayu di wilayah yang berada dalam pengawasan TNGC tersebut.

Hal ini telah memancing kemarahan masyarakat beserta tokoh-tokohnya, sampai akhirnya terjadi gerakan penolakan terhadap rencana eksplorasi panas bumi yang dikoordinatori oleh Gerakan Masa Pejuang Rakyat (GEMPUR). Pada tanggal 3 November 2016, bersama dengan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia) serta masyarakat melakukan aksi demonstrasi di depan kantor pemerintah daerah untuk mendesak Bupati Kuningan agar membatalkan rencana eksplorasi panas bumi dan membubarkan TNGC .

Penolakan ini membawa tiga isu penting yaitu pertama rencana eksplorasi panas bumi yang akan dilakukan di Gunung Ciremai dapat merusak lingkungan sekitar Gunung Cermai. Berikutnya

Gunung Ciremai merupakan tempat wisata untuk para pendaki Gunung yang telah menjadi daya tarik dari Kuningan. Teman teman Gempur berpendapat apabila Gunung Ciremai dijadikan sebagai wilayah kerja pertambangan, maka Kuningan tidak akan lagi memiliki daya tarik yang selama ini telah menjadi ciri khas Kabupaten Kuningan. dan yang terakhir bahwa proyek eksplorasi panas bumi di Gunung Ciremai ini hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, seperti swasta dan aktor-aktor tertentu yang memiliki kepentingan. Sementara masyarakat tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa seperti yang selama ini terjadi pada kondisi daerah-daerah yang menjadi wilayah kerja pertambangan.

Mendengar isu mengenai Geothermal kembali di Gempur untuk turun gunung menjadi penjaga terakhir Gunung Cermai.

Isu ini muncul ketika Ketua Kadin Kuningan H Uba Subari bahwa dengan adanya Geotermal meningkatkan PAD Kabupaten Kuningan.

Baca Juga : Pasca Dilantik, Murad Akan Menutup Perusahan Nakal Di Tambang Gunung Botak

Tokoh Gempur Oki Satrio menangapi pernyataan ini dengan pedas yang menyatakan bahwa dirinya meragukan Ketua Kadin Kuningan tersebut tidak membaca kembali UU Mengenai Pengelolaaan Geothermal yang baru.

“Revisi UU Panas Bumi tahun 2014 secara tegas disebutkan tidak ada lagi pembagian hasil buat daerah dan provinsi penghasil yang ada daerah yang menjadi wilayah hanya mendapat bonus yang sifatnyanya dan berlakunya masih Abstrak” ujar Oki Satrio melalu pesan singkatnya Jumat ( 13/9/19).

Oki juga menambahkan dalam UU Panas Bumi yang lama pemeritah daerah masih menerima hasil 30 % dari keuntungan kegiatan Panas Bumi di daerah tersebut.

baca juga : Menjalankan Misi Kementrian BUMN RUPS-LB PGN Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris

Dirinya juga melihat bahwa “bonus: dalam kata pendapatan daerah menurut UU Panas Bumi no 21 tahun 2014 sangatlah mengandung unsur menutup nutupi atau tidak transparan mengenaii peranan Masyarakat dan Pemerintah Daerah setempat.

Berbeda sekali dengan UU Panas Bumi sebelumnya no 27 tahun 2003 walaupun dalam kontek Gunung Cermai bukanlah hal tersebut yang menjadi pedoman kami dalam bergerak melawan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top