Panca Sila, Hidup Matinya Negeri Ini - strategi.id
Dialektika

Panca Sila, Hidup Matinya Negeri Ini

Strategi.id – Dunia persilatan politik sejak 2014 telah memunculkan rivalitas politik antar dua kontestan, Jokowi vs Prabowo yang dari waktu ke waktu semakin lama semakin menajam hingga memantik terjadinya ledakan fisi nuklir politik di Pilpres 17 April 2019.

Fisi nuklir yang merupakan reaksi termonuklir, adalah sebuah reaksi dimana terjadi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fisi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sangat berbahaya bagi manusia.

Baca Juga : Bamsoet Minta Perbaikan Tes PNS Atas Temuan 19,4% PNS Anti Pancasila

Demikian pula dengan Pilpres 2019 dimana tubrukan antar dua kontestan yang menjadi inti atom mengakibatkan pembelahan inti atom yang ditengarai oleh munculnya berbagai kelompok pendukung yang menghasilkan radiasi kebencian dan perseteruan penuh caci maki dan hujat menghujat antar dua kelompok pendukung.

Aroma kecurangan pemilu yang dilakukan oleh kedua belah pihak seolah mengukuhkan premis yang berlaku di jagad perpolitikan, the winner takes it all, dimana permainan berujung pada situasi zero sum game. Siapapun pemenangnya akan menang mutlak, sebanding dengan siapapun yang kalah juga akan kalah mutlak.

Medan peperangan yang diatasnamakan demokrasi berubah menjadi killing field dimana semua diniscayakan melawan semua dan siapa saja boleh melakukan apa saja demi memenangkan pertarungan gaya bebas dengan hanya ada satu aturan main, no rules.

Baca Juga : Preambule UUD 1945, Declaration of Indonesian Independence Page 1

Walhasil, paska pengumuman resmi pada 21 Mei 2019 yang dilakukan sehari lebih cepat dari waktu yang ditetapkan langsung saja memantik reaksi keras dari kubu pihak yang kalah, Prabowo tentunya.

Aksi massa ribuan orang terjadi dengan titik serang Bawaslu sebagai pihak yang dianggap paling bertanggung jawab atas rendahnya kualitas demokrasi dengan melakukan pembiaran atas kecurangan yang memenangkan petahana.

Meski aksi massa berhasil dipadamkan dan situasi keamanan dapat dipulihkan, tak urung kerugian ekonomi yang timbul diperkirakan bisa mencapai Rp. 1,5 T.

Tak cuma itu, jatuhnya korban jiwa sejumlah delapan orang menjadi semacam tumbal dari sebuah praktek politik yang disebut demokrasi.

Pemilu 2019 bukan hanya menyisakan kontestasi Pilpres yang bersimbah darah, namun juga pemilihan legislatif yang dijangkiti oleh pragmatisme politik transaksional bersimbah rupiah di berbagai level tingkatan kabupaten/kota hingga tingkat pusat.

Pragmatisme politik transaksional yang terjadi memperparah kerusakan mental dan moral anak bangsa ke titik nadir terendah, mental budak.

Baca Juga : Perang Dingin Globalisme Vs Proteksionisme

Tak selesai sampai disitu, Pilpres 2019 berpotensi menyimpan benih social disorder, social distrust dan social disobedience yang secara laten berpotensi memicu terjadinya proses Balkanisasi.

Gerakan pemisahan diri dari Indonesia akan menggelinding bagaikan snowball effect menerjang berbagai wilayah dimana petahana terbukti kalah. Demokrasi telah bermutasi menjadi demonkrasi yang penuh kebiadaban dan angkara murka dan terbukti telah memangsa ibunya sendiri, bangsa Indonesia.

Praktek demonkrasi dalam Pemilu 2019 merupakan bom nuklir politik yang dirancang untuk menghasilkan radiasi kebencian, kemarahan dan kekacauan yang meluluhlantakkan kohesifitas sosial dari sebuah bangsa yang tercerabut dari nilai-nilai keluhuran perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara.

Maka siapapun pemenang dari praktek demonkrasi yang tengah berlangsung saat ini tentu bukanlah bangsa Indonesia. Bangsa yang mengikrarkan dirinya melalui Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928 untuk bertanah air, berbangsa dan berbahasa yang satu, Indonesia.

Juga bangsa yang pada 17 Agustus 1945 menyatakan Proklamasi kemerdekaannya dalam kalimat yang singkat, “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Baca Juga : 90 Tahun Sumpah Pemuda, Bangsa Yang Ingkar Sumpah

Pemenangnya, pastinya adalah mereka yang by design merancang praktek demonkrasi melalui proses Pemilu yang berlangsung untuk menganulir Proklamasi Kemerdekaan dengan menistakan apa yang telah diamanatkan secara konstitusional dalam Preambule UUD 1945 sebagai perwujudan dari Deklarasi Kemerdekaan Indonesia yang secara tegas dan jelas mendasarkan perikehidupannya pada keluhuran nilai-nilai Panca Sila.

Pada konteks itu, upacara peringatan kelahiran Panca Sila 1 Juni 1945 yang baru saja kemarin diperingati semestinya menjadi penanda sekaligus tengara untuk mengingatkan segenap anak bangsa atas hidup matinya masa depan perikehidupan berlandaskan pada nilai-nilai Kebangsaan yang ber-Perikemanusiaan, Musyawarah mufakat dan Kesejahteraan yang berkeadilan sosial berdasarkan Ketuhanan Maha Esa yang berkebudayaan dan berkeberadaban.

Baca Juga : Kisah Cinta Ani Yudhoyono dan SBY, Begini Awalnya

Hanya dengan itu demokrasi akan menemukan kembali keluhurannya dan tidak lagi menjadi alat dari kuasa angkara murka yang sarat dengan hawa gelap kejahatan yang demonik.

Penulis R Dandhi Mahendra Uttunggadewa , Pengamat Sosial Budaya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top