Panca Sila: Sudah Skripsi, Belum Ujian Praktikum – strategi.id
Dialektika

Panca Sila: Sudah Skripsi, Belum Ujian Praktikum

Strategi.id - Panca Sila: Sudah Skripsi, Belum Ujian Praktikum

Strategi.id – Negara ini, seperti ditulis sejarah telah selesai membahas Panca Sila dari aspek filsafat historis dan filsafat materialismenya. Diawal kemerdekaannya, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), meski dikepung oleh keinginan dan cita-cita mendirikan negara dengan syariat Islam, dorongan yang ingin menjadikannya sebagai negara yang berhaluan komunis internasional (komintern) dan atau menjadi beberapa negara bagian (federation state) berdasarkan perspektif kapitalisme global.

Dinamika dan pergumulan ideologi yang diwarnai kekecewaan, ketidakpuasan dan potensi ancaman memisahkan diri terhadap eksistensi negara kesatuan. Melalui musyawarah yang dilandasi oleh kebesaran jiwa dan mengedepankan kepentingan bersama untuk memelihara dan merawat kemerdekaan Indonesia untuk mencapai tujuan nasional. Pada akhirnya para Pendiri Bangsa mampu bermufakat dengan pikiran dan sikap negarawan. Pancasila melewati ujian pertamanya sesaat sebelum ditetapkan sebagai dasar negara dan falsafah bangsa.

Kini, setalah melewati masa-masa pergolakan mempertahankan kemerdekaan, menghadapi gerakan makar, konflik dalam pembangunan politik dan ekonomi hingga kecelakaan-kecelakaan sejarah dalam transisi kepemimpinan nasional.

Panca Sila tak pernah usai menjadi polemik kebangsaan. Selain terlalu mahalnya ongkos sosial membangun Indonesia namun tak kunjung mewujudkan kesejahteeraan. Gugatan terhadap keberadaan Panca Sila yang terbelenggu oleh gurita kapitalisme, dalam bayang-bayang cengkeraman komunisme yang laten atau juga menyeruaknya hasrat syariat Islam. Kini semua bercampur aduk berkecamuk dalam pentas kebangsaan Indonesia, seolah menafikan keberadaan Panca Sila. Anasir dan berbagai konspirasi itu justru tumbuh subur lebih karena, negara gagal melakukan transformasi nilai-nilai Panca Sila sebagai habit kebangsaan kita. Negara tak berhasil memframing ke-Indonesiaan kita dalam roh Pancasila, keadilan NKRI, dan UUD 1945 yang memihak rakyat. Secara integral kholistik, negara gagal membangun karakter nasional bangsa (nation and character building).

Kenapa negara gagal membumikan Panca Sila di segenap tumpah darah Indonesia?. Mengapa negara tak berdaya melaksanakan Panca Sila yang sudah menjadi konsensus nasional dalam negara kita?. Kenapa juga Panca Sila hanya ada sebagai simbol, sekedar sebagai hiasan dan figura di dinding kantor-kantor pemerintahan dan gedung sekolah?. Atau sekedar ada dalam pendidikan moral dan penataran?. Miris ya lagi, mengapa Panca Sila cuma dimaknai dan diinsafi sebagai jargon-jargon nasionalisme saja, sekedar teori dan hapalan?.

Karena negara diatur dan dikelola oleh orang-orang yang tidak ingin Panca Sila hidup dan bertumbuhkembang menjadi jiwanya dan lakunya bangsa Indonesia. Negara dikungkung oleh segelintir orang dan kelompok tertentu yang lebih suka menjadi abdi dalem non Panca Sila.
Selama kepentingan segelintir orang dan kelompok itu mewakili kepentingan dan tujuan kepentingan nasional, maka Panca Sila hanya akan dipakai untuk memenuhi keinginan dan keuntungan selain bangsa Indonesia. Keuntungan baik pihak asing maupun komparadornya, yakni orang-orang Indonesia sendiri yang mengadaikan dan menjual Indonesia.

Jadi, ada baiknya peringatan kelahiran Panca Sila tidak lagi dirayakan secara seremonial, artificial dan semantik semata. Jangan lagi larut dalam romantisme sejarah maupun dialektika idiologisnya. Panca Sila adalah nilai adiluhung yang bersumber dari kedalaman tradisi dan sanubari rakyat nusantara jauh sebelum wujud dan penamaan Indonesia dilahirkan. Seperti kata Bung Karno yang mungkin juga disepakati oleh pendiri bangsa lainnya dan yang ikut merumuskannya juga. Panca Sila digali dari jiwanya bangsa Indonesia. Sebagai sebuah nilai yang universal bagi kebhinnekaan dan kemajemukan Indonesia dan juga menjadi ideologi alternatif dari pergulatan dunia yang didominasi dan dalam hegemoni kapitalisme dan komunisme dunia (Panca Sila – “to build the world a new”).

Sementara, sejauh perjalanan bangsa ini, Panca Sila belum pernah teruji dalam tatanan pelaksanaan pembangunan negara bangsa. Pembangunan dalam pengertian yang menempatkan Panca Sila sebagai tuntunan dan panduan baik dalam konteks nilai maupun implementasi. Bukan sekedar tinjauan teori dan politik terhadap kesepakatan nilai dari konsensus kebangsaan itu. Peristiwa hingga goncangan politik yang mendera terkait keberadaan Panca Sila, misal seperti pemberontakan PKI tahun 1965 tidak mutlak menjadi tolak ukur kebangkitan Panca Sila, bahkan bisa menjadi titik balik terhadap pelaksanaan Panca Sila walaupun menggunakan idiom pelaksanaan Panca Sila secara murni dan konsekuensi. Begitu pula dengan gerakan reformasi yang ingin mengembalikan Panca Sila dan UUD 1945 dalam kehidupan kenegaraan , malah semakin blunder dan seperti mencapai anti klimaks jejak langkahnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita menghilangkan perdebatan tentang Panca Sila yang tak berujung atau sekedar merayakannya tanpa makna. Saatnya semua elemen dan potensi kekuatan bangsa untuk merealisasikannya. Menjadikan nilai-nilainya sebagai tindakan nyata. Mulailah menjadikan Panca Sila sebagai gerakan massal bagi Indonesia. Bagi para pejabat dan pemimpin, bagi para intelektual dan tokoh bangsa, pagi para politisi, ulama dan profesional, dan bagi semua anak bangsa. Rangsanglah Panca Sila agar tetap hidup dan bertumbuh. Mulai dari kebersamaan, gotong royong, rasa keadilan sosial, keteladanan pemimpin juga perlindungan dan kehormatan bagi rakyat, negara dan bangsa.
Semoga.

Penulis: Yusuf Blegur (Pemerhati Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top