Pandemi COVID-19; Quo Vadis Globalisasi? - strategi.id
Dialektika

Pandemi COVID-19; Quo Vadis Globalisasi?

Strategi.id - Pandemi COVID-19; Quo Vadis Globalisasi?

Strategi.id – Tatkala situasi dalam negeri Indonesia masih berkutat dengan kekalutan akibat lakon goro-goro yang diinisiasi oleh virus Corona, China justru telah berhasil memulihkan diri dengan cepat. Sementara Amerika dan negara-negara Eropa masih menghadapi situasi yang juga tidak lebih baik dari Indonesia.

Tidak hanya menyoal banyaknya jumlah korban jiwa yang terdampak secara langsung akibat virus Corona. Namun dampak ekonomi yang diakibatkan oleh virus Corona justru menjadi ancaman laten yang tidak kalah berbahayanya.

Di tingkat mikro, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan segala aturan yang diberlakukan telah melumpuhkan -kalaupun tidak bisa disebut mematikan-pelbagai jenis kegiatan ekonomi di berbagai level baik dari UMKM hingga sekelas korporasi.

Baca Juga : Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2021 Diprediksi Tumbuh 4,5-5,5%

Di tingkat makro ekonomi, perniagaan antar negara juga mengalami penurunan yang signifikan akibat diperketatnya aturan ekspor-impor untuk melokalisir penyebaran virus.

Dalam situasi seperti ini tentu hampir semua telunjuk sepakat untuk menuding China sebagai penyebabnya.

Apa lagi kemudian terbukti China lebih dulu mampu memulihkan diri dengan cepat dan mengambil keuntungan untuk mencuri start lebih awal ketika negara-negara lain masih berkutat dengan persoalan-persoalan domestik dalam negerinya sebagai akibat yang ditimbulkan oleh virus Corona.

Secara global, China benar-benar dalam posisi yang diuntungkan di tengah sengitnya perang dagang yang terjadi antara Amerika versus China.

Bahkan akibat virus Corona, banyak negara sangat bergantung pada pasokan alat-alat kesehatan dari China termasuk juga kebutuhan akan informasi tentang bagaimana “kiat” keberhasilannya mengatasi virus Corona.

Baca Juga: Virus Corona: Alami atau Realita yang Dikonstruksikan?

Tak bisa dipungkiri, akibat kelumpuhan ekonomi secara global di satu sisi, serta di sisi lain pulihnya ekonomi China paska COVID-19; dalam jangka pendek memaksa terjadinya perubahan pada wajah peta geopolitik-ekonomi dunia.

Hal ini membuat para elit global – kerap dijuluki gold collar class – pembuat kebijakan ekonomi dunia kembali harus berpikir ulang tentang agenda globalisasi yang telah mereka canangkan sejak pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss pada tahun 1996.

Agenda-agenda semacam perdagangan bebas dimana di dalamnya diberlakukan pasar bebas serta arus modal investasi yang juga mengalir bebas secara global tanpa mengenal batas wilayah negara, alih-alih justru makin memperkuat China dan melemahkan ketahanan ekonomi Amerika dan negara-negara Eropa di tengah rivalitas dagang antar negara yang semakin sengit.

Aliran arus modal investasi baik dari Amerika maupun negara-negara Eropa yang dengan penuh semangat masuk ke China dalam waktu sekejap membuat China bertiwikrama menjadi raksasa ekonomi dunia yang dengan sengitnya mampu berkompetisi melawan Amerika.

Secara dialektis, dalam situasi seperti itu, bukan tidak mungkin golongan gold collar class justru akan menginisiasi proses deglobalisasi sehingga memicu kembali pertarungan klasik antara kelompok yang tetap berpegang pada sistem negara bangsa (To Build the World A New) versus kelompok yang menginginkan berlakunya sistem satu dunia tanpa batas (The New World Order).

Akibat pandemi Corona, perang dagang antara Amerika versus China akan masuk pada babak baru dengan spektrum yang jauh lebih luas dan terbuka serta pastinya lebih ofensif.

baca juga : Menyaksikan Adegan Indonesia

Apa yang disampaikan Yongmaan Park, Ketua KADIN Korea Selatan, menyoal ketertarikannya untuk merelokasi pabrik elektroniknya dari China ke Uttar Pradesh, India; serta pernyataan dukungan dari pemerintah Jepang untuk mensubsidi perusahaan-perusahaan Jepang agar merelokasi pabrik-pabriknya keluar dari China; termasuk juga sejumlah perusahaan Amerika yang bergerak di bidang pertanian, elektronik, kedokteran, logistik, pertahanan, penerbangan, pengolahan makanan, dll. seperti antara lain Lockheed Martin, Adobe, Honeywell, Boston Scientific and Cisco Systems serta juga penyedia jasa layanan pengiriman global seperti UPS and FedEx juga sudah mempertimbangkan untuk merelokasi perusahaannya ke India dan ke beberapa negara Asia Tenggara.

Secara perlahan proses deglobalisasi memang tak terelakkan ketika pergerakan arus modal dengan lincahnya terbang dari satu negara ke negara lain hingga melemahkan ekonomi negara yang ditinggalkannya sekaligus menguatkan ekonomi negara yang didatanginya.

Pola pergerakan arus modal justru berbanding terbalik dengan pergerakan virus Corona yang malah melemahkan ekonomi negara yang didatanginya dan menguatkan ekonomi negara yang ditinggalkannya. Walaupun sejauh ini baru China yang bisa memetik keuntungan dari adanya virus Corona.


Dalam jangka panjang, proses deglobalisasi berpotensi mendorong terjadinya proses “lockdown” terhadap modal untuk menghentikan pergerakan arus modal agar tidak keluar dari negara asalnya dengan memberlakukan “work from home” bagi modal demi menumbuhkan kekuatan ekonomi lokal.

Dengan demikian konsep negara bangsa akan kembali menguat dengan semangat lokalitasnya untuk berdikari di bidang ekonomi.

Atau sebaliknya, belajar dari kesalahan investasi di China, jika pun nantinya arus modal investasi sekedar akan dialihkan ke negara lain seperti halnya India ataupun negara-negara Asia Tenggara, maka pilihannya adalah juga dengan memastikan bahwa pergerakan arus modal bukan sebatas hanya investasi ekonomi tetapi yang jauh lebih penting justru adalah investasi politik.


Artinya, dalam konteks geopolitik, memindahkan modal investasi dan merelokasi kegiatan bisnis dari satu negara ke negara lain bukan lagi sekadar didasarkan atas pertimbangan upah buruh yang kecil, kemudahan regulasi, keringanan pajak, dukungan fasilitas infrastruktur maupun stabilitas keamanan dan politik; namun yang lebih utama justru bagaimana investasi politik mampu memastikan bahwa investasi ekonomi yang dilakukan di suatu negara tidak membuat negara tersebut berbalik memangsa negara investornya.

Ironisnya, arus pergerakan modal investasi berlangsung di tengah situasi dunia yang mengalami ledakan populasi dengan jumlah penduduk sudah hampir mencapai 8 milyar orang yang oleh para ilusionis disebut sebagai bonus demografi.

Peningkatan jumlah penduduk dunia terus berlangsung sementara luas daratan tidak bertambah dengan tingkat kelayakan huni yang tidak merata dimana kekayaan alam terpusat di wilayah-wilayah ekuator.


Peningkatan jumlah penduduk dunia berbanding lurus dengan laju peningkatan kebutuhan pangan, papan dan sandang sebagai kebutuhan primer. Segala bentuk kegiatan guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut dilakukan di atas lahan daratan yang itu-itu juga.

Pada konteks itu, semulia apapun agenda globalisasi dikemas dalam bentuk program-program dari mulai sejak Millennium Development Goals (MDGs) hingga Sustainable Development Goals (SDGs), namun tetap saja tidak mampu mencegah terjadinya konflik antar negara yang lebih mengedepankan kepentingan nasionalnya masing-masing.

Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa luas lahan daratan yang tersedia menjadi terlalu sempit bagi pergerakan arus modal yang liar dan brutal penuh nafsu angkara murka.

Belum lagi perkembangan kemajuan teknologi intelegensi artifisial (artificial intellegence) yang dengan pongahnya mampu menggantikan keterlibatan manusia dengan mesin dalam proses produksi atas nama efisiensi sehingga membuat manusia tidak saja kehilangan lahan tanahnya tetapi juga sekaligus kehilangan penghidupannya.


Pandemi COVID-19 yang saat ini tengah mengglobal tidak lebih hanyalah pesan untuk mengingatkan seluruh umat manusia bahwa proses globalisasi yang sedang berlangsung sejatinya juga merupakan sebuah pandemi —“pandemi dehumanisasi” (dehumanization pandemic)— yang disebabkan oleh pergerakan arus modal sebagai virusnya.


Suka ataupun tidak, pada satu titik tahapan pencapaian tertentu, para elit global —gold collar class— dengan semua agenda globalisasinya akan berhadapan vis a vis secara diametral dengan alam sekaligus dengan peri kemanusiaan.

Ketika keseimbangan dan kesetimbangan alam menjadi kacau oleh kegiatan pengrusakan alam dan lingkungan hidup atas nama investasi, serta peri kemanusiaan terinjak-injak kemerdekaannya akibat keterjajahan oleh arus pergerakan modal atas nama teknologi; niscaya alam akan bergerak secara naluriah dalam kesejatiannya untuk mencari titik keseimbangan dan kesetimbangan yang baru.

Di titik itulah globalisasi akan sampai di ujung akhir permainannya. TAMMAT.

Penulis: Mahendra Dandhi Uttungadewa aktif sebagai Pengamat Budaya dan Mantan Aktivis FKSMJ’98 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top