Panitia Sebut Rembuk Nasional Tidak Diintervensi dan Tak Ada Pembagian Uang – strategi.id
Nusantara

Panitia Sebut Rembuk Nasional Tidak Diintervensi dan Tak Ada Pembagian Uang

Strategi.id. Ketua Panitia Pelaksana Rembuk Nasional Aktivis 98, Sayed Junaidi Rizaldi membantah perhelatan rembuk yang dihadiri Presiden Joko Widodo di JIExpo, Kemayoran, Sabtu (7/7/2018) lalu ada yang membagi-bagikan uang kepada peserta acara.

“Yang pasti berita itu nggak benar. Itu cerita dalam cerita. Itu sama saja misalnya cerita ada temannya dulu dia nyolong mangga sama Arief Poyuono. Di mana ada gula pasti ada semut. Nggak mampu cari panggung di sana, cari di sini,” ujar Sayed Junaidi Rizaldi, saat dikonfirmasi, Kamis (12/7/2018).

Sayed juga membantah, jika sejak awal Rembuk Nasional itu bertujuan untuk mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi. Dukungan kepada Jokowi, disebut Sayed, merupakan hasil musyawarah yang dilakukan oleh 600 perwakilan aktivis.

“Ada peserta yang rembuk di lantai 6, salah satu poinnya jadi itu. Bukan sekonyong-konyong kita bikin acara untuk dukung Jokowi. Mereka berembuk, hampir 600 orang. Perwakilan daerah 10 orang, ada dari perwakilan kampus, sekitar 63-64 kampus. Maka ada pimpinan sidang, ada moderator,” tuturnya.

Sayed pun mengingatkan, Aktivis ’98 bukan hanya terdiri atas mahasiswa sehingga masyarakat dari latar belakang apa saja bisa hadir dalam acara yang digelar Aktivis ’98.

“Masyarakat hadir sah-sah saja, gerakan ’98 bukan hanya mahasiswa. Gerakan ini lahir dari penderitaan rakyat. Itu gerakan moral,” kata Sayed.

Dia pun menyebut gerakan ’98 sama seperti ketika masa perjuangan 1945, yang berbuah pada kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Aksi pada 1998 itu, kata Sayed, mampu menumbangkan rezim Presiden Soeharto yang otoriter.

“Melahirkan demokrasi di negeri ini. Sekarang orang bebas bicara. Tapi ternyata merdeka dan demokrasi belum cukup. Ada ancaman baru, ideologi transnasional yang melawan kearifan daerah, intoleransi, radikalisme yang berbuah pada aksi teror, membunuh orang yang tidak bersalah,” sebut dia.

Karena itu, Rembuk Nasional Aktivis ’98 dilakukan. Acara rembuk itu melahirkan sejumlah poin, mulai meminta korban reformasi mendapat gelar pahlawan, meminta agar ada Hari Bhinneka Tunggal Ika, hingga dukungan kepada Jokowi agar bisa menjadi presiden dua periode.

“Perkara ada Jokowi dan Prabowo Subianto (Ketum Gerindra) keduanya sama-sama anak bangsa. Kalau mereka mau bikin (aksi tandingan), ya silakan bikin. Kan mereka aktivis. Parameter mereka itu presiden harus jenderal,” ucap Sayed.

Sementara, salah satu pimpinan sidang dalam Rembuk Nasional Aktivis 98, Sarbini mengatakan, poin-poin dalam rekomendasi yang disampaikan kepada Presiden Joko Widodo seluruhnya atas dasar masukan dan saran dari peserta rembuk dan tidak ada intervensi dari panitia maupun pimpinan sidang.

“Rembuk berlangsung guyub. Memang ada perdebatan di beberapa poin. Jadi, tidak benar kalau sejak awal ada dukungan kepada Jokowi,” kata Sarbini.

Menurut Sarbini, jika sebelumnya ada yang tidak sepakat dengan rekomendasi pasti akan diperdebatkan di rembuk.

“Kita musyawarah mufakat, semua poinnya disepakati bersama dan dihadiri aktivis dari berbagai daerah,” tegasnya.

Sebelumnya, beredar dari pesan broadcast WhatsApp, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono mengklaim ada salah satu peserta acara yang mendapat uang dalam acara Rembuk Nasional Aktivis ’98 tersebut.

Arief mengungkapkan dia heran pada teman masa kecilnya bernama Udin. Temannya itu pada 1998 disebut hanya tukang parkir dan kernet. Si Udin, menurut Poyuono, hanya merupakan lulusan SD, namun dia hadir dalam acara Rembuk Nasional Aktivis ’98.

“Udin namanya, kawan kecilnya Arief Poyuono di Jalan Sindang Jakarta Utara, tinggal di lorong Jalan Deli Gang 28 Koja dekat rumah KH Ma’ruf Amin. Kok bisa ya Udin jadi Aktivis ’98 dan ikut rembuk Aktivis ’98 dukung Joko Widodo,” kata Arief, kepada wartawan.

Menurut Arief, aksi Aktivis ’98 mendukung Jokowi sangat membingungkan. Dia menduga aksi itu digerakkan uang. Bahkan, Udin teman kecilnya dibayar untuk ikut aksi.

“Jadi bingung saya sama kawan-kawan yang klaim Aktivis ’98 yang bikin rembuk Aktivis ’98,” sebut dia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top