Papua Kaya Akan Alam, Rendah Dalam Pendidikan – strategi.id
Corong

Papua Kaya Akan Alam, Rendah Dalam Pendidikan

Strategi.id - Papua Kaya Akan Alam Rendah Dalam Pendidikan

Strategi.id – Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda dapat mengubah dunia. Banyak hal diperoleh melalui pendidikan sebab sejatinya dengan pendidikan membuat seseorang mengetahui hal apapun.

Namun tidak semua daerah di Indonesia memiliki akses pendidikan yang baik. Salah satunya adalah daerah Papua, kaya alam namun minim pendidikannya.

Daerah Papua bahkan dikategorikan sebagai daerah tertinggal, dengan kriteria yang meliputi aksesibilitas, keuangan daerah, karakteristik daerah, faktor SDM, dan sarana prasarana yang kurang memadai.

Kondisi pendidikan merupakan salah satu persoalan utama di daerah tertinggal yang membutuhkan perhatian khusus.

Masalah pendidikan ini dipicu oleh tingginya angka putus sekolah, sarana prasarana yang belum memadai, minimnya tenaga pengajar, dan rendahnya mutu pelayanan pendidikan.

Namun dengan begitu, tidak semua masyarakat atau pemimpin tutup mata dengan masalah ini. Ada sosok seorang pendeta keturunan Tionghoa yang peduli dengan masyarakat Papua, khususnya di bidang Pendidikan.

Pria keturunan Tionghoa adalah Daniel Alexander, ia telah lama mengabdikan hidupnya untuk membantu anak-anak di Nabire Papua mendapatkan pendidikan.

Pria kelahiran Surabaya, 22 Maret 1958 yang akrab dipanggil Papi Daniel ini mendirikan sekolah asrama pertama di Bumi Cendrawasih pada tahun 1993 lalu.

Pada tahun 1991, Daniel pertama kali mendirikan SMA Kristen di Wamena melalui Yayasan Pelayanan Desa Terpadu atau Yayasan Pesat.

Upayanya membangun pendidikan di tanah Papua tak selamanya lancar. Ia sempat mengalami kendala kala mendirikan SMA Kristen.

Memasuki tahun kedua, sekolah itu tutup lantaran guru-guru yang berasal dari Jawa tak lagi mampu mengajar.

Ia kemudian memanggil seorang konsultan pendidikan dari IKIP Surabaya untuk menyelidiki permasalahan pendidikan yang dialami.

Selang beberapa tahun kemudian, Daniel berhasil memembangun pendidikan di Nabire Papua. Mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK dan STMIK di Nabire.

Tak hanya urusan sekolah, ia juga memdirikan asrama untuk orang-orang pedalaman. Seperti asrama Gilgal Khusus anak usia 5-12 tahun, Asrama Anugrah khusus anak usia 13- 17 tahun, masih banyak lagi asrama yang beliau dirikan.

Karena berkat kepedulian beliau, anak-anak di Papua ini jauh lebih baik untuk pendidikannya. Serta niat yang gigih untuk anak yang tinggal diasrama ingin merubah Papua menjadi lebih baik.
Lukas Sondegau mengungkapkan “untuk membangun bahwa daerah saya tertinggal dari mulai pembangun, kesehatan, dan pendidikan.

Namun dengan itu semua mereka masih tetap bersemangat untuk belajar. Karena kalau bukan dari kita siapa lagi

“Saya ingin memberikan yang terbaik untuk melakukan perubahan di tempat tinggal saya (Papua) agar bisa menjadi maju dan lebih baik lagi”, ujarnya

Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.

Penulis Oleh: Arief Rahman Hakim
(Profesi Akademisi)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top