Pasca Hari Dongeng Sedunia, JARANAN Kerahkan Lagi Juru Dongengnya – strategi.id
Nusantara

Pasca Hari Dongeng Sedunia, JARANAN Kerahkan Lagi Juru Dongengnya

Strategi.id - Pasca Hari Dongeng Sedunia, JARANAN Kerahkan Lagi Juru Dongengnya
Strategi.id - Pasca Hari Dongeng Sedunia, JARANAN Kerahkan Lagi Juru Dongengnya

Strategi.id – Jaringan Anak Nasional (JARANAN) menerjunkan kembali empat juru dongeng terrbaiknya ke empat RPTRA di Jakarta Utara sehari pasca Perayaan Hari Dongeng Sedunia (World Storytelling Day) yang berlangsung Rabu (20/3/19).

Juru dongeng dari Tim Dongeng Literasi-Jaringan Anak Nasional (Tidolit-JARANAN) yang diturunkan Kamis (21/3/19), yakni Mardiansyah (Kak Mardi), Aryati (Kak Yayat), Aditya Prayitno (Kak Adit), dan Fauziah (Kak Ziah).

Baca Juga : Tahun 2019, Tahun Konsolidasi Dongeng Nasional (Si Donal)

“Pasca Hari Dongeng Sedunia 20 Maret 2019 lalu, kami akan tetap mengambil peran menggemuruhkan kegiatan mendongeng kepada sebanyak-banyaknya anak-anak, terutama di Jakarta Utara, ” kata Direktur Eksekutif JARANAN yang juga konsultan keayahbundaan dan perlindungan anak.

Kak Mardi yang diturunkan di RPTRA Pulo Besar, Sunter Jaya, mendongeng dihadapan puluhan anak dari PAUD Matahari 1, PAUD Matahari 2, RA AL JABBAAR, dan TK/TPA Jamiyyatul Ulul Albab. Dengan ekspresif dan interaktif, ia membawakan dongeng berjudul Negeri Buku-Buku.

Tersebutlah negeri tenteram dengan anak-anaknya yang semuanya pandai. Penduduk negeri itu selalu membaca buku, sehingga dikenal sebagai Negeri Buku-buku. Negeri itu berbatasan dengan Negeri Sintimilihir yang dipimpin Raja sombong yang dibantu tukang sihirnya.

Raja Negeri Sintimilihir amat iri dan ingin menghancurkan Negeri Buku-Buku. Dengan kekuatan sihirnya, ia
mencari anak-anak pandai Negeri Buku-Buku untuk dijadikan murid tukang sihirnya.

Anak-anak itu tahu kelicikan dan kejahatan raja sombong itu. Mereka kompak melawannya dengan segenap kepandaian. Akhirnya raja jahat itu dikalahkan anak anak tersebut. Sang raja sombong dan jahat dari Negeri Sintimilihir itu kabur tunggang-langgang.

“Jadi adik-adik semua, mari kita perbanyak membaca buku agar kalian mendapat pengetahuan yang lebih luas dan berguna bagi diri kalian dan masa depan kalian,” kata Kak Mardi menutup ceritanya.

Kak Yayat beraksi di RPTRA Malaka Asri, Rorotan Cilincing. Murid-murid PAUD Delima, PAUD Mawar 2 dan PAUD Al Bandaniyah khusuk menyaksikan penampilannya yang memikat. Tak seperti biasa, kali ini Kak Yayat membawa satu keluarga boneka dongeng yang menjadi tokoh-tokoh ceritanya.

Dalam ceritanya, ada satu keluarga bahagia dan kaya raya yang punya pelbagai usaha. Ketika kedua anaknya, yakni Adi dan Ida tumbuh dewasa, ayahnya meninggal dunia. Sebelum wafat ayahnya berwasiat pada Adi dan Ida agar meneruskan usaha keluarga. Dan tak lupa memberi sedekah kepada yang membutuhkan.

Namun ketika usaha itu maju pesat dan kekayaan bertambah banyak, ternyata Adi dan Ida lupa pesan ayahnya. Mereka menjadi kikir, abai bersedekah, kerap mengusir dan mengejek pengemis dan orang yang butuh bantuannya. Sebab menganggap hartanya itu jerih payahnya, yang dikumpulkan dalam kotak kotak kayu besar di rumah sampai terisi penuh.

Baca Juga : Anak-Anak RPTRA Kapuas dan Green Rengas dikunjungi Pendongeng Tidolit

Di suatu malam, saat keduanya tidur, sengatan petir menyambar rumahnya. Kebakaran besar terjadi. Keduanya panik dan tak dapat selamatkan hartanya. Keduanya pun tak lagi punya apa-apa.

“Ibunya lalu menyadarkan keduanya atas perbuatan mengabaikan wasiat ayahnya. Sehingga Tuhan murka dan memberi hukuman kebakaran. Adi dan Ida pun menangis, bertaubat, memohon ampunan Tuhan. Serta berjanji tak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi,” simpul Kak Yayat.

Sementara Kak Adit mendongeng di RPTRA Anoa Sukapura Cilincing. “Berpetualang di dunia Buku” menjadi judul dongengnya di depan 75 anak-anak PAUD Anggrek yang diajaknya berimajinasi positif di ula RPTRA.

Kak Adit berceritanya tentang Boni, sosok beruang yang saat sedang membaca buku tiba-tiba ia masuk ke dalam dunia buku. Mirip cerita fiksi dalam film Hollywood.

Di dalam petuangannya ke dalam dunia buku, tokoh-tokohnya belajar sambil bernyanyi, diantaranya, tentang panca indra, alfabet, dan bentuk-bentuk bangun datar. Semua disampaikan Kak Adit dengan serunya, menghibur, memantik keingintahuan dan rasa petualangan anak-anak.

Terakhir Kak Ziah yang mendongeng di RPTRA Kita Bersaudara. Pendongeng yang dalam setiap aksinya selalu memakai topeng kaca mata warna merah menyala itu membawakan dongeng berjudul “Kucing yang Malang”. Anak-anak pun menyimak hingga cerita berakhir.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top