Pasca Hati yang Kembali Disucikan; Idulfitri 2018 – strategi.id
Budaya

Pasca Hati yang Kembali Disucikan; Idulfitri 2018

Presiden Jokowi menerima silaturahi lebaran idulfitri para "tetangga", komunitas pengayuh becak di sekitar Paledang, Bogor( Foto: Biro Pers Setpres/is)

Refleksi Idulfitri ; Pasca Hati yang Kembali Disucikan – Ramadan telah berlalu. Sebuah bulan yang sungguh penuh berkah, rahmat dan ampunan bagi setiap pribadi muslim yang mampu memaknai dan menjalani ibadah Ramadan dengan benar.

Bulan Ramadan dihadirkan Tuhan kepada umat beriman sebagai bulan latihan spiritual yang akan menjadi modal baginya guna menapaki terang cahaya jalan kebaikan di sebelas bulan berikutnya.

Di bulan Ramadan umat muslim berlatih  menempa diri untuk menjadi pribadi tercerahkan secara spiritual, yang punya kesadaran berketuhanan (takwa) menuju kesempurnaan, seiring terkikisnya keserakahan, serta  mewujudnya  kesederhanaan, kesalehan sosial, dan segala bentuk perilaku budi pekerti luhur  yang memang diajarkan oleh ajaran Islam yang otentik dan progresif.

Karena itulah sudah sejak lama, begitu tahu Ramadan akan berakhir, tidak sedikit umat muslim yang meratapi kepergiannya. Sebab belum tentu dirinya  berjumpa lagi dengan Ramadhan-Ramadan  berikutnya.

Lalu dengan hadirnya Hari Raya Idulfitri, dimana umat muslim yang berpuasa menyambut hari kemenangannya dalam melawan dan mengendalikan  segala hawa nafsunya lewat puasa Ramadan sebulan penuh. Di Hari Raya Idulfitri ini umat muslim harus bergembira, tak boleh ada yang kesusahan. Lebih jauh dari itu sesungguhnya Idulfitri juga punya makna konsolidasi dan solidaritas bagi seluruh umat Islam sedunia.

Kemudian pasca Ramadan dan Pasca Idulfitri ini, tentunya tantangan besar, berat, dan sulit bakal dihadapi umat Islam yang telah mengalami proses tempaan menuju perbaikan akhlak di bulan Ramadan. Tantangan itu terkait dengan pola-pola hubungan di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dijalani oleh tiap-tiap muslim yang hatinya telah disucikan oleh momentum Idulfitri.

Sebab, kemungkinan hadirnya tendensi-tendensi ke arah perilaku buruk, sebagai proses dan hasil bujuk rayu dan kerja-kerja super militan dari setan,  yang dapat mengarah pada bakal rusaknya spirit kesucian setiap pribadi muslim pasca idul fitri, bagaimanapun harus dilawan setiap muslim dengan seteguh-teguhnya, sekuat-kuatnya, dan sehormat-hormatnya.

Lantas, bagaimana cara melawan tendensi-tendensi di dalam diri yang bisa menyeret setiap pribadi muslim tercebur atau kembali terjerembab ke dalam sikap dan perilaku buruk dan tercela?

Di sinilah kemudian setiap pribadi muslim harus sekuat daya dan upaya untuk terus-menerus menghadirkan dan memompa spirit Ramadan yang otentik, moralitas Ramadan yang murni,  dalam kehidupan sehari-hari justru pasca Idulfitri ini. Tidak mudah memang dan bakal penuh tantangan. Akan tetapi sepertinya itulah jalan terang yang tersedia dan harus dirambah diluar jalan gelap arahan setan. Semoga kita semua sanggup menapakinya, dan senantiasa dibimbing olehNya menuju jalan kesempurnaan takwa. Amin.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top