PDI Perjuangan Diganjar Puan? - strategi.id
Corong

PDI Perjuangan Diganjar Puan?

Strategi.id - PDI Perjuangan Diganjar Puan?

Strategi.id – Layaknya yang sering diucapkan Bung Karno diksi-diksi seperti “Vivere Coloso” (menyerempet bahaya, penuh resiko), “Samenbundeling Van Alle Krachten Van The Natie” (menggabungkan semua potensi kekuatan), Machtsvorming (menghimpun dalam satu wadah), dll. Jargon sekaligus propaganda yang membakar semangat itu, sering disampaikan oleh Bung Karno sebagai suatu pesan dan nasehat strategis dan taktis (stratag) dalam menghadapi dinamika politik baik di dalam negeri maupun internasional.

Dari pelajaran itu, sebisanya kita bisa mengambil hikmah dari suatu peristiwa atau kejadian baik politik, ekonomi, sosial budaya, hankam dsb. Bahwa ada konstelasi dan konfigurasi dalam dunia politik yang bisa diciptakan (social engineering) maupun terjadi secara alami. Secara sederhana ada istilah menunggu dan menciptakan momentum.

Terkait fenomena Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah dan Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI. Sebaiknya lingkaran dalam dan luar PDI Perjuangan harus utuh memahami isu dan pegerakan secara tekstual dan kontekstual. Mutlak, harus mendapatkan petunjuk dan instruksi langsung dari pengambil kebijakan atau pusat pengaruh (“center of fluents”). Penting bagi para kader dan stage holder partai untuk bisa mengolah isu juga melakukan analisis informasi yang sistemik dan terintegrasi.

Dalam hal PDI Perjuangan, kita semua tahu bahwa dinamika kepartaian memiliki platform taat azas dan taat organisasi kepada pemimpin tertinggi partai. Sering disebut loyalitas tegak lurus. Loyalitas pada pemimpin. Sosok Ibu Megawati Soekarno Putri, yang menjadi dominan dalam kebijakan partai maupun menyangkut soal pemerintahan. Termasuk aspek dan kaidah demokrasi di dalamya.

Jadi butuh kesabaran dan kejernihan memahami dan mendalami setiap gradual dan progress politik didalamnya. Baik masalah internal partai maupun agenda eksternal partai politik. Pun demikian, Korelasinya dengan distribusi peran kader baik dalam ranah legislatif, eksekutif maupun yudikatif.

Satu, contoh dari berbagai kecenderungan analisa dalam soal Ganjar-Puan. Bisa saja memang terjadi dinamika dalam partai, ada akselerasi dan manuver personal, atau jadi “news value” yang kemudian dimanfaatkan media yang juga punya kepentingan.

Dalam perspektif PDI Pejuangan, Ganjar dan Puan, keduanya bukanlah sosok yang harus dikomparasikan apalagi sampai dikonfrontasikan. Jika itu terus didorong, maka yang terjadi adalah “blunder” secara kepartaian dan ideologis, baik dalam internal maupun eksternal partai. Mengingat kapasitas keduanya adalah kader partai yang sudah menjadi representasi pemerintahan atau negara. Menyeret keduanya dalam ranah friksi juga berdampak pada kinerja pemerintahan. Kalau itu terjadi, potensi kerugian juga akan dialami pemerintahan bukan hanya PDI Perjuangan.

Namun dari semua itu. Bisa juga bahwa hal ini merupakan salah satu strategi partai yang ingin mengangkat elektabilitas salah satu figur atau keduanya yang merupakan kader partai. Secara kultur, ada semacam aksioma bahwa di republik ini orang yang tertindas atau terdzalimi akan mendapatkan simpati, empat dan akhirnya daya dukung dari rakyat atau publik. PDI Perjuangan umumnya, dan sosok Ibu Megawati Soekarno Putri khususnya, harus diakui secara historis dan ideologis pernah menjadi irisan tersebut. Hal itu pasti diketahui juga oleh elit partai. Siapa yang tahu?. Toh selama ini Ibu Megawati belum bicara soal transisi kepemimpinannya maupun kontelasi pilpres 2024 secara langsung. Statemen terbuka kepartaian juga lebih fokus pada mendukung Jokowi menghadapi krisis pandemi.

Jadi, siapapun yang merasa sebagai kader, simpatisan dan relawan atau semua unsur yang memiliki keberpihakan. Sebaiknya tidak perlu bersikap reaksioner dan menambah kegaduhan politik. Ada semangat revolusioner ada juga kesabaran revolusioner. Sambil menunggu kebijakan yang representatif, memahami masalah dan bekerja sesuai disiplin dan kemampuannya, itu jauh lebih penting.

“Thinking and rethinking”!, seperti kata Bung Karno.

Penulis Oleh: Yusuf Blegur (Pekerja Sosial dan Pemikir Rakyat Jelata).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top