Pernyataan Faisal Assegaf Soal Pembubaran PKS Tak Wakili Aktivis 98 - strategi.id
Nusantara

Pernyataan Faisal Assegaf Soal Pembubaran PKS Tak Wakili Aktivis 98

Pembubaran PKS

Kicauan politik tentang pembubaran PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang disenandungkan Faisal Assegaf di forum pertemuan 1.000 aktivis 98 di Hotel Sahid beberapa waktu lalu diniali persis seperti rengekan bocah nakal yang sedang memaksa orang tuanya agar memberinya mainan yang diincarnya.

Aktivis FKSMJ 98, Mahendra Uttunggadewa bahkan menyebut, Faisal dan Ngabalin dalam bahasa ngepop layak disebut 11-12. Di mana, keduanya sama sama berangkat dari rahim perlawanan yang menentang kepemimpinan Presiden Jokowi.

“Tetapi hari ini bermimikri seperti bunglon yang kemudian berubah warna menempel di kekuasaan Jokowi,” kata dia melalui keterangan pers, Kamis (7/6).

Perilaku seperti ini, kata pria yang akrab disapa Dandi itu, nampaknya manjur bagi mereka yang ingin mengais kekuasaan.

“Terlepas apakah mereka memang disusupkan ke sana untuk menyerang balik kubu lawasnya dengan gonggongan ganasnya menjadi energi bagi PKS agar bisa mengkonsolidasikan diri, ataukah sekedar untuk memperlihatkan loyalitasnya pada majikan barunya. Keduanya bisa jadi benar adanya,” ungkap Dandi.

Namun yang pasti, lanjut Dandi, kicauan Faisal tentang Pembubaran PKS tidak bisa diklaim mewakili seluruh aktivis 98. Pasalnya, masih banyak aktivis 98 yang bernalar waras dan berakal sehat untuk tidak ikut terjebak permainan politik ala Brutus yang penuh khianat.

“Tentu masalahnya bukan sekadar pro atau kontra terhadap pembubaran PKS, itu terlalu remeh temeh bagi aktivis 98. Bagi aktivis 98 yang lebih fundamental justru hilangnya nilai-nilai perikehidupan ber-Tanah Air, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila seperti yang telah diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945,” tuturnya.

Dandi mengatakan, berlangsungnya sistem politik yang asyik masyuk berdemokrasi liberal serta bercumbu rayu dengan sistem ekonomi liberal justru telah membuat negara berkhianat terhadap bangsa.

“Akibatnya, bangsa yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, juga bangsa yang telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia seperti yang tercantum dalam kalimat pertama teks proklamasi, “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”, telah kehilangan daulat, harkat dan martabatnya di negerinya sendiri,” tegasnya.

Menurut Dandi, apa yang dilakukan Faisal Assegaf justru bisa jadi parameter untuk membuat garis demarkasi, mana aktivis 98 yang gila kekuasaan, dan mana aktivis 98 yang masih konsisten terus berjuang untuk menuntaskan hutang sejarah 98.

“Sejarah telah mencatat bahwa di setiap kancah perjuangan selalu ada pengkhianatan, setelah 20 tahun, waktu juga yang membuktikan siapa para pengkhianat itu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top