Pemilu Idol - strategi.id
Dialektika

Pemilu Idol

Gambar: Ilustrasi

Seperti festival Indonesian Idol, Pemilu kita kurang lebih punya format yang sama. Semua WNI punya hak pilih. Tak ada lagi tim juri, semisal MPR, yang menentukan Presiden penerima mandat, juga partai penentu anggota legislatif. Kini masyarakat itu sendiri yang menjadi penonton sekaligus juri.

Sebagaimana Indonesian Idol, tidak semua penonton memahami lagu, musik, dan vokal yang baik. Yang mereka tahu hanya mana yang mereka suka. Sebagai masyarakat dengan sejarah 32 tahun tak memiliki pendidikan politik — juga contoh kepemimpinan, wajar jika mereka tak memiliki kompetensi untuk menilai kompetensi para politisi. Apalagi konsepsi.

Dengan konfigurasi juri yang seperti itu, memang sulit untuk merumuskan kriteria pemenang atas kriteria pilihan publik. Kecuali dengan ukuran purba. Pilihan hidup manusia secara purba hanya didasarkan pada keyakinan (spiritual) dan pada kesadaran materialnya (empirik).

Di hadapan juri yang seperti itulah bisa kita lihat bagaimana kontestan Pemilu pasti berkisar di antara; figur yang memiliki popularitas, memiliki sentimen kelompok mayoritas, dan banyaknya duit. Hanya itu.

Jika Anda memiliki popularitas, maka akan Anda gunakan popularitas itu untuk mendulang suara pemilih Anda. Jika Anda memiliki agama mayoritas, maka akan Anda gunakan agama untuk mendulang suara bagi aAnda. Jika Anda memiliki banyak uang, maka akan Anda gunakan uang untuk membeli suara bagi Anda.

Dua Paslon

Tapi mari berpikir positif dalam memotret Pilpres saja, misalnya. Anggap tak ada money politics.

2014, sebelum menjadi paslon 01 di Pilpres 2019, Jokowi lebih memilih menggunakan popularitas. Sebagai wali kota terbaik — bahkan masuk dalam deretan 5 besar wali kota terbaik dunia, Jokowi membangun popularitasnya.

Kini paslon 01 bukan hanya menggunakan popularitas Jokowi, juga menggunakan hasil kerja pemerintahannya. Sesuatu yang lebih dari sekadar citra.

Bagaimana dengan paslon 02? Sejak Pilpres 2014 hingga 2019 ini tak banyak berbeda. Mereka ambigu.

Jika mau dibilang paslon 02 menggunakan popularitas Prabowo, mengapa jargon yang digunakan adalah Nasionalis dan Pancasilais? Sesuatu yang lebih popular melekat pada Megawati dengan Soekarno-nya. Padahal popularitas Prabowo justru terletak pada karier Beliau sebagai Jenderal TNI dan mantu Soeharto.

Di akar rumput, Paslon 02 justru menggunakan sentimen agama mayoritas sebagai alat konsolidasi. Jika permintaan pasar pemilih sudah terkondisikan sentimen agama, maka mana yang lebih punya nilai jual, Paslon Prabowo-Sandi atau salah satu partai agama? Tentu publik tak pernah mengenal Prabowo dan Sandiaga Uno sebagai aktivis agama apalagi tokoh agama.

Lantas di mana pula peran tokoh berkompeten seperti Mahfud MD, Rizal Ramli, Rocky Gerung, dan Sudirman Said? Seperti panelis dalam Indonesian Idol, hanya menjadi “penyedap rasa” bagi konsumen yang tak mementingkan rasa kecuali “suka”.

Jadi, jika masih ada yang menyindir pendukung paslon dengan narasi “akal sehat” atau agama, itu mungkin sebuah ilusi dari ketidak-pahaman atas fenomena sosiologis hari ini. Apakah itu berangkat dari keyakinan maupun kesadaran material, “kalau gue suka, lu mau apa?”

Sentot Soerjopranoto
(Pendiri dan Ketua I PARAINDRA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top