Pemuda Indonesia Zaman Now, Jangan Mudah Dihasut dan Terpecah Belah! – strategi.id
Dialektika

Pemuda Indonesia Zaman Now, Jangan Mudah Dihasut dan Terpecah Belah!

Strategi.id - STOVIA. School tot Opleiding van Indische Artsen. Ini adalah sekolah yang didirikan pada masa kolonial Belanda untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia ( foto : is )

Strategi.id- Jasmerah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Sejarah membuat manusia menjadi bijak, dalam mengambil keputusan di hari yang akan datang. Pemuda Indonesia perlu belajar dari perjalanan kehidupan Bangsa dan Negaranya.

Kadang, sejarah mengalami pengulangan dalam bentuk, waktu dan ruang yang berbeda. Kondisi sosial politik hari ini, jika dicermati dengan baik, akan mengingatkan kita pada kondisi politik Hindia-Belanda pada awal abad ke-20.

Kala itu kebangkitan nasionalis yang bersifat sektarian, nasionalis keagamaan, keagamaan, nasionalis komunis dan komunis murni/ orthodox/radikal mulai tumbuh di bumi Nusantara.

Pergerakan untuk mengupayakan Indonesia Merdeka, mulai bermunculan bersamaan dengan lahirnya sejumlah organisasi dengan beragam ideologi, konsep dan gagasan.

Meski demikian, bisa dikatakan sejumlah organisasi pergerakan, federasi atau pun partai, memiliki irisan satu sama lain.

Seseorang bisa memiliki dua keanggotaan dalam suatu organisasi. Sebagai contoh, Semaun sebagai anggota Sarekat Islam (SI), pada waktu yang bersamaan juga merupakan pengurus di ISDV.

Demikian juga sejumlah tokoh-tokoh pergerakan Indonesia pada awal abad ke-20. Perdebatan sering terjadi dalam kongres yang diselengarakan sejumlah organisasi, dan yang paling sengit adalah perdebatan dalam kongres-kongres SI. Perdebatan paling sering terjadi antara SI Cabang Semarang dengan SI Cabang Yogyakarta.

Perdebatan sering memuculkan tindakan saling serang dan saling tuding antar kedua Cabang SI tersebut. Puncak saling tuding antar Semarang dan Yogyakarta terjadi pada akhir 1920-an.

Pada 1921, gesekan faksi-faksi di dalam SI semakin memanas, dan situasi itu hanya menguntungkan pihak penjajah Belanda.

Belanda memanfaatkan memanasnya hubungan SI Cabang Semarang dan SI Cabang Yogyakarta, untuk kembali menjalankan politik pecah belah mereka, guna mengambil keuntungan dari tindakan tersebut.

Penggalan sejarah perjalanan Bangsa Indonesia diwarnai dengan adanya upaya dari bangsa asing untuk memecah belah Bangsa Indonesia, dan mengambil keuntungan dari situ.

Namun, sejarah mencatat, kita memiliki anak-anak muda yang cukup berani dan teguh pada pendirian untuk mencapai Indonesia Merdeka dalam persatuan.

Tepat 90 tahun lalu, perwakilan pemuda dari seluruh penjuru Nusantara, dengan latar belakang suku, agama dan budaya yang berbeda berkumpul dalam Kongres Pemuda II.

Dalam kongres tersebut, mereka berikrar menyatakan bertanah air satu, berbangsa satu dan berhasa satu Indonesia.

Penting bagi pemuda dan pemudi zaman now belajar dari keberanian dan tekad mereka untuk berikrar “Kita adalah Satu Bangsa, Indonesia!”.

Bukan sekadar ucapan, tapi diiringi dengan tindakan nyata dalam pergaulan sehari-hari. Apalagi jelang tahun politik, yang cenderung membuat orang saling benci dan saling mejelek-jelekan karena berbeda pilihan politik.

Kondisi Indonesia saat ini, kurang lebih serupa dengan Indonesia pada awal abad ke-21. Ada oknum-oknum yang berupaya mengadu domba kita, dan memanfaatkan persaingan jelang kontestasi politik 2019.

Tujuannya, ya untuk kepentingan pribadi dan golongan mereka. Mereka sengaja menciptakan iklim persaingan yang tidak sehat, dengan menyebarkan berita bohong/hoax yang menimbulkan kebencian di hati sesama anak bangsa.

Tanpa pikir panjang, mereka rela melihat sesama anak bangsa saling serang dan saling tuduh. Akibatnya, persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia terancam.

Di layar kaca, di media elektronik, media cetak dan media sosial, aroma persaingan ditonjolkan. Seolah kelompok satu lebih hebat dari yang lain. Bertarung seolah satu kelompok paling Indonesia, sementara kelompok lain antek asing. Jangan-jangan, kelompok yang mengaku paling nasionalis, justru antek asing?

Nah, sangat disesalkan, ada oknum pemuda/pemudi yang mau ditarik ke dalam konflik politik yang sejatinya justru membuat Rakyat semakin bingung.

Di sejumlah media, mereka menunjukan seolah mereka paling hebat dibandingkan yang lainnya. Jika betarung gagasan, itu oke oke saja, tapi kelihatannya mereka hanya berupaya saling menjatuhkan satu sama lain.

Apakah mereka terhasut dalam konflik yang mungkin sengaja diciptakan oknum tertentu? Atau apa mungkin mereka juga bagian dari oknum-oknum tersebut?

Ini bukan tuduhan, sekadar bertanya dan silahkan dijawab dalam hati masing-masing. Dan semoga bisa menjadi alat untuk koreksi diri kita masing-masing.

Sumpah Pemuda sudah berumur 90 tahun. Ibarat manusia, Sumpah Pemuda tak lagi muda. Mungkin harus ada Sumpah Pemuda Indonesia zaman now. Selain mengikrakan persatuan, penting juga untuk mengikrarkan bahwa “Kita Putera dan Puteri Indonesia menolak segala bentuk hasutan yang membawa kita pada perpecahan”.

Karena walau pun berbeda suku, bahasa dan pilihan politik, kita tetap bersaudara. Satu Tanah Air Indonesia, Satu Bangsa Indonesia dan Satu Bahasa Indonesia!

Belajar dari sejarah masa lalu, berabad-abad kita dijajah karena mudah dipecah belah, apakah mau kita menjadi bangsa yang mengalami kemunduran di tengah kemajuan zaman karena politik pecah belah di erah moderen?

Sejarah mengajar kita menjadi bijak, oleh karena itu berkaca dari sejarah, sehingga kita tidak mengulang lagi kesalahan di masa lalu yang membuat bangsa kita tidak maju-maju. Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-90!

Penulis Asto Taruy , Mahasiswa Pascasarjana dan Pengamat Sosial Politik Papua

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top