Pendidikan Akil Baligh untuk Para Guru digelar di Sudin PPAPP Jaktim – strategi.id
Nusantara

Pendidikan Akil Baligh untuk Para Guru digelar di Sudin PPAPP Jaktim

Strategi.id -Pendidikan Akil Baligh untuk Para Guru digelar di Sudin PPAPP Jaktim

Strategi.id – Mengingat di masyarakat tidak sedikit orangtua murid yang mengalami disfungsi perannya sebagai orangtua, bahkan abai terhadap pentingnya menginjeksi pemahaman yang benar, utuh, dan meluhurkan tentang masalah seks, seksualitas atau kesehatan reproduksi kepada anaknya saat jelang usia akil baligh, maka para guru perlu mengambil peran itu demi menyelamatkan pemahaman anak didiknya dari kemungkinan munculnya pemahaman dan perilaku keliru dan menjerumuskan.

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Nanang Djamaludin, menyampaikan pesan itu ketika memberikan pembekalan di hadapan 150 guru SMP dan SMA/SMK se-Jakarta Timur di ruang Aula Sudin PPAPP Jakarta Timur, kemarin, (30/8/2018). Kegiatan yang digelar Sudin PPAPP Jaktim itu bertajuk
“Peningkatan Pemahaman Masalah Kesehatan Reproduksi Bagi Tenaga Pendidik Tingkat Kotamadya Jakarta Timur”.

Nanang yang juga konsultan keayahbundaan dan perlindungan anak itu menyampaikan materi berjudul “Pentingnya Pendidikan Pra dan Pasca Akil Baligh agar Anak tumbuh SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Riang dan Terampil).

Seharusnya, menurut Nanang, peran menginjeksi pemahaman kesehatan reproduksi yang benar, utuh, dan meluhurkan melalui cara-cara yang penuh keakraban dan persahabatan dengan anak itu dilakukan masing-masing orangtua dari anak bersangkutan. Guru tinggal menguatkan saja dengan pelbagai perspektif yang menunjang. Namun lantaran banyak orangtua yang abai melakukan hal itu kepada darah dagingnya sendiri, maka sebagai profesi yang melekat dengan keluhuran budi, maka guru perlu mengambil peran menginjeksi pemahaman yang benar dan utuh tentang kesehatan reproduksi terhadap anak yang ternyata diketahui tidak pernah dibekali pemahaman oleh orangtuanya yang teledor itu. Hal itu sebagai upaya menghindarkan peserta didik dari pemahaman dan perilaku keliru tentang seks dan seksualitas yang diperoleh lewat sumber-sumber sesat dan menjerumuskan.

“Tentu kondisi itu bukan kondisi ideal bagi guru dengan mengambil peran tambahan yang seharusnya dilakukan oleh orangtua murid yang ada secara fisik tapi disfungsi secara peran. Tentu saja perlahan tapi pasti ke depannya harus diupayakan dialog dan kerjasama lebih intens antara orangtua dan guru terkait materi dan metode memberi pembekalan yang tepat tentang pendidikan jelang dan pasca akil baligh kepada seorang anak oleh orangtua di dalam keluarga, ” paparnya.

Terkait hal itu, Nanang juga mendorong agar Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemendikbud yang sudah terbentuk sejak tahun 2015 lalu bisa beranjak dari sunyinya kerja-kerja, kinerja dan program-programnya di level akar rumput agar bisa benar-benar konkrit menjembatani terwujudnya pola hubungan yang hangat, produktif dan konstruktif antara orangtua dan guru, dalam rangka menyamakan misi dan gerak langkah pendidikan di ranah keluarga dan juga di ranah sekolah. Tak terkecuali dalam kaitannnya menyangkut pendidikan pra dan pasca akil baligh bagi anak di dalam keluarga.

“Buat apa dibentuk nomenklatur baru Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga yang memiliki tujuan mulia menjembatani dan menyinkronkan antara proses pendidikan di sekolah dengan di dalam keluarga jika ternyata program-programnya belum juga menyentuh dan dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat secara luas dan komunitas pendidikan. Mubazir,” kata Nanang dalam obrolan terpisah seusai acara dengan strategi.id.

Pembicara lain dalam kegiatan itu adalah dr. Yusuf dari RSIA Restu. Ia menyoroti tentang pentingnya menjaga kesehatan organ-organ intim dari perilaku seks yang berisiko. Sebab banyak penyakit menular berbahaya yang ditularkan melalui perilaku seks yang bergonta-ganti pasangan.

Sementara itu beberapa guru yang menjadi hadir di acara itu berbagi cerita dan testimoni saat menghadapi murid-muridnya dengan kecenderungan perilaku seksual yang buruk. Sekaligus mereka minta diberikan solusi cara mengatasinya oleh para pembicara.

Dari cerita para guru itu ternyata ada murid yang telah kecanduan melakukan live streaming video vulgar tanpa busana. Ada yang kecanduan masturbasi. Ada pula cerita tentang seorang murid yang hamil.

Secara keseluruhan acara berlangsung menarik, interaktif, dan menerbitkan cakrawala baru bagi yang hadir. Dan tentu saja layak dilakukan di wilayah kota lain.

Acara diakhiri dengan pengucapan bersama ikrar sehati oleh para guru yang hadir untuk saling mendukung dan menguatkan dalam kerja-kerja pendidikan di wilayah Jaktim. Nanang Djamaludin memandu pembacaan ikrar tersebut yang membuat banyak guru terharu. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top