Penyesalan SBY, dan Keikhlasan Jokowi - strategi.id
Dialektika

Penyesalan SBY, dan Keikhlasan Jokowi

Strategi.id - Penyesalan SBY, dan Keiklashan Jokowi ( Foto : Ist)

Strategi.id – Ilmu ikhlas merupakan salah satu ilmu yang dipelajari oleh manusia sepanjang umur hidupnya. Ikhlas juga sering menjadi salah satu kriteria seseorang dikatakan layak disebut sebagai pemimpin besar. Keikhlasan identik dengan memafkan kesalahan orang di masa lalu, dan melupakan hal baik yang kita lakukan di masa lalu. Salah satu pemimpin besar dunia yang memperaktikan ilmu ikhlas dalam hidupnya adalah Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan.

Seminggu belakangan, kita kembali melihat sulitnya ilmu ikhlas dipraktikan, bahkan oleh mereka yang telah menjalani proses kehidupan sedemikian rupa dan sempat diposisikan oleh sebagaian orang sebagai seorang negarawan. Salah satu contohnya, bisa kita lihat pada saat konflik di internal Partai Demokrat (PD). Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikabarkan menyesali keputusannya pada masa lalu, yang pernah memberikan jabatan Panglima TNI kepada Moeldoko.

Hal itu diutarakan sebagai bentuk kekesalannya karena Moeldoko diputuskan sebagai Ketua Umum PD versi Konfrensi Luar Biasa (KLB) Sumatera Utara, menggeser Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum PD. SBY seolah memposisikan dirinya paling berjasa dalam karir Moeldoko, baik sebagai seorang militer maupun membuka jalan menuju puncak karir politik.

Moeldoko dianggap sebagai anak macan yang dahulu pernah dibesarkan oleh SBY, dan kemudian menerkam orang yang membesarkannya. Padahal, jikalau kita kembali ke ilmu ikhlas, SBY seharusnya tidak perlu lagi mengungkit dan menyesali apa yang pernah dilakukannya untuk Moeldoko. Lebih lagi, jika melihat apa yang dialami SBY, AHY dan PD-nya, seperti karma yang terbalaskan. SBY diangkat oleh Presiden ke-4 Megawati Soekarnoputeri sebagai Menkopolhukam. Namun jelang Pilpres 2004, SBY bermanuver melawan Mega dalam perhelatan pemilu langsung pertama di Indonesia itu.

Jikalau sekarang Moeldoko balik melawan SBY dan AHY dalam perebutan PD, itu bisa dikatakan sebagai karma. Namun, hal semacam itu wajar terjadi dalam dunia politik yang menganut semboyan, “tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi,” oleh karena itu, dalam politik dilarang ‘baper’. Namun baik sebagai orang yang melawan ataupun dilawan, SBY tetap saja mampu memposisikan diri sebagai korban dari kedzaliman orang yang dilawan atau melawannya.

Berbeda dengan SBY, Presiden ke-7 Joko(wi) Widodo merupakan sosok yang bisa dikatakan ikhlas dalam menjalani hidup dan kepemimpinannya. Sederet nama yang pernah diangkatnya menjadi Menteri pada pemerintahaannya, seperti, Anis Baswedan, Sudirman Said, dan Fery Mursyidan Baldan, sempat bersama-sama melawan dan melontarkan kritik pedas kepada Jokowi, tetapi mantan Walikota Solo itu tak pernah sekalipun mengungkit-ungkit jabatan yang peranah diberikannya kepada para mantan pembantunya itu.

SBY dan Jokowi sama-sama telah melali jalan panjang kehidupan, dan pernah menduduki posisi tertingggi di Indonesia. Namun keduanya punya sikap yang berbeda dalam menghadapi mantan anak buah yang kemudian memposisikan diri sebagai oposisi atau “melawan”. SBY menyesali pernah memberikan jabatan strategis, Jokowi ikhlas hadapi mantan bawahannya yang kini beroposisi.

Penulis : Asto Notonegoro (Penulis Strategi.id)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top