Pepesthen Korona dan Bencana Kemanusian - strategi.id
Dialektika

Pepesthen Korona dan Bencana Kemanusian

Strategi.id-Pepesthen Korona dan Bencana Kemanusian (Foto : Ist)
Strategi.id-Pepesthen Korona dan Bencana Kemanusian

“Ora ana kasekten sing madhani pepesthen, awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake”

Tiada kesaktian manusia yang menyamai kepastian Sang Maha Pencipta, karena tiada yang dapat menggagalkan kepastianNYA

Strategi.id- Kata pepesthen dalam bahasa Jawa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi sebagai peristiwa yang akan dan memang semestinya terjadi. Pepesthen sudah barang tentu bukan diniatkan untuk memutlakkan sesuatu yang masih bisa bertingkah anomali.

Pepesthen juga bukan suatu bentuk ekspresi kekalahan tanpa juang dan tanpa daya untuk menerima suatu peristiwa terjadi begitu saja sebagai sebuah nasib. Pepesthen sebagai kemutlakkan adalah prerogatif Sang Maha Pencipta, Gusti Kang Makaryo Jagad.

Baca Juga :“To Be Or Not To Be”, Indonesia Harus Selamat Melawan Covid 19

Pepesthen dari kata dasar pasti. Sesuatu yang pasti dalam rangkaian hukum dialektika kesemestaan yang terikat oleh ruang, waktu, peristiwa, energi dan kosmis. Suatu peristiwa tidak pernah muncul secara otonom berdiri sendiri. Ia tetap merupakan bagian proses dialektika dari peristiwa-peristiwa sebelumnya di masa lampau.

Belajar sejarah bukanlah sekadar mengingat angka tahun, dimana dan nama pelaku dari sebuah peristiwa di masa lalu. Lebih dari itu untuk mengamati dengan cermat dan menyimak dengan saksama bagaimana proses dialektika sejarah berlangsung membentuk pola berulang dari waktu ke waktu dengan bobot dan intensitas yang bertambah dan bertumbuh akibat snowball effect.

Setiap peristiwa berlangsung secara natural (hukum kesemestaan) itu pasti. Faktor pemicunya bisa karena faktor alam (nonmanusia), tetapi juga bisa saja karena dipicu oleh faktor manusianya.

Baca juga : Jack Ma Sumbang Masker dan Alat Test Buat Mengatasi Korona di Indonesia

Dan keduanya terjadi sesuai dengan dorongan dan kecenderungan naturalnya masing-masing.

Jika alam yang menjadi pemicunya, maka alam bertindak sesuai dengan sifat asal naturalnya. Demikian pula jika manusia yang menjadi pemicunya. Manusia juga bertindak sesuai dengan sifat asal naturalnya.

Masalah utamanya justru ada pada apa yang sesungguhnya dipahami secara natural yang menjadi dasar dari baik apakah suatu peristiwa dipicu oleh faktor alam ataupun oleh faktor manusianya.

Baca Juga : BUMN RNI Import Alat Uji Covid -19 dan Sudah Di Indonesia

Situasi natural seperti apa yang sesungguhnya mendorong alam ataupun manusia melahirkan sebuah peristiwa.

Masalah menjadi semakin rumit tatkala situasi dan kondisi natur yang melungkupi alam dan manusia dimana mereka tinggal hidup bersama, tanpa sadar justru dibentuk oleh proses dialektika antara manusia dengan alamnya.

Alam dan manusia memang tidak dibekali dengan kuasa untuk menciptakan natur. Namun keduanya punya kemampuan untuk bisa melakukan rekayasa baik secara evolutif maupun secara revolutif untuk mampu menjaga kelangsungan hidupnya.

Baca juga : Ditemukan Interferon Alpha 2B Obat Melawan Korona?

Siapa merekayasa apa dan apa merekayasa siapa menghasilkan kontestasi yang sengit antara manusia dengan alam. Natur dipaksa untuk berkembang menjadi sesuatu yang tidak lagi natural, sehingga alam dan manusia juga akhirnya tidak lagi hidup secara natural sesuai sifat asal dirinya.

Pada konteks kekinian, dimana jumlah penduduk dunia hampir mencapai jumlah 8 milyar orang, dan masih terus akan bertambah di tengah tidak berlambahnya luas daratan, tentu menambah seru proses pergumulan dialektika antara manusia dengan alam.

Keterbatasan alam untuk menyediakan kebutuhan hidup bagi manusia akan mendorong terjadinya pertarungan sesama manusia untuk memperebutkan sumber-sumber kekayaan alam.

Alam yang selama ini selalu berperan sebagai juru seleksi yang otonom, kredibel dan berintegritas, sedang diuji reputasinya untuk tetap bersikap netral tanpa berpihak.

Baca Juga : Anies; Gubernur Rasa Monas

Sementara di sisi lain tak bisa dipungkiri, dialektika sejarah kerapkali mengisahkan betapa dahsyatnya dorongan ambisi untuk memenangkan survival of the fittest selalu saja melahirkan adanya segolongan kaum yang merasa memiliki previlese unuk menentukan siapa saja yang tetap boleh bertahan hidup, dan siapa pula yang harus punah.

Alam direkayasa untuk berpihak kepada kaum mereka agar seolah setiap peristiwa terlegitimasi dan terjustifikasi sebagai proses alam yang terjadi secara natural.

Teknologi canggih tingkat tinggi dari berbagai disiplin sains dan ilmu pengetahuan sengaja dikembangkan untuk menjadikan alam menjadi komprador dari kepentingan mereka.

Mulai dari rekayasa bioteknologi dengan menciptakan berbagai virus, hingga teknologi gempa buatan. Semuanya diciptakan tidak lebih hanya sebagai senjata pemusnah massal untuk menentukan siapa yang masih boleh tinggal hidup di bumi.

baca juga :Siti Fadilah Yakin Ahli Indonesia Bisa Deteksi Virus Corona

Di atas semua data-data statistik yang selama ini diketengahkan sebagai preferensi atas nama kebencanaan, toh tetap pada akhirnya tak bisa disangkali bahwa sesungguhnya sedang terjadi proses genosida yang berlangsung atas nama kebencanaan.

Yang tak pernah disadari adalah bahwa siapapun nantinya yang tersisa hidup dari proses penuh rekayasa yang diatasnamakan seleksi alam, sejatinya mereka telah mati. Mati kemanusiaannya.

Kabar baiknya bagi kita, itu semua terjadi sebagai suatu pepesthen dari thesis yang saat ini berperistiwa dalam proses dialektika kesemestaan. Namun kabar buruknya bagi mereka, natur punya kekendaknya sendiri yang tidak tunduk terhadap rekayasa alam dan manusia sehebat dan sesakti apapun.

Sebagaimana pepesthen, tinggal kita tunggu saja apa antithesis yang akan dihadirkan natur secara natural terhadap situasi kegelapan zaman yang penuh dengan tipu daya dan rekayasa.

Baca Juga : Toyota Innova di Malaysia Tambah Fitur, Indonesia Kapan?

So, perlawanan terhadap virus corona sangat ditentukan oleh sejauh mana sesiapapun dari kita terus bergerak untuk menyebarkan nilai dan sikap hidup berkemanusiaan yang adil dan beradab sebagai anti virusnya.

Toh peperangan sesungguhnya bukan melawan virus corona, tetapi melawan mereka yang memusnahkan kemanusiaan dengan menciptakan virus corona dan senjata pemusnah massal lainnya.

Sekali lagi, ”there’s nothing new under the sun…”

Penulis; Mahendra Dhandi Uttunggadewa, Pemerhati Sosial Politik

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top