Perang Dingin Globalisme Vs Proteksionisme – strategi.id
Dialektika

Perang Dingin Globalisme Vs Proteksionisme

strategi.id- macron-trump-berjabat tangan ( Foto : https://www.independent.co.uk / is )
strategi.id - Perang Dingin Globalisme Vs Proteksionisme, Macron-Trump-berjabat tangan ( Foto : https://www.independent.co.uk / is )

Strategi.id- Perjalanan Trump ke Perancis berakhir tragis. Kebiasaan Presiden Amerika Serikat (AS) membully pemimpin dunia yang tidak disukainya membuatnya semakin terkucil dan kerdil. Trump barangkali bangga dengan nasionalismenya. Namun Amerika Serikat yang selalu memposisikan diri sebagai Leviathan sangat membutuhkan mitra yang gigih dan loyal. Sayangnya, Uni Eropa – sahabat terbaiknya – kini mengacuhkannya.

Demikian sekelumit paparan David A. Adelman – pengajar tamu Pusat Studi Keamanan Nasional (Center on National Security) di Fordham Law School sebagaimana dimuat di NBC News, Selasa (13/11) ini. Karena memang sedang ada “perang dingin” antara penyokong globalisasi dan pendukung proteksionisme. Macron, Markel dan sejumlah pemimpin Uni Eropa dikenal sebagai penyokong globalisasi. Sebaliknya Trump dikenal sebagai tokoh pembangkit proteksionisme yang sesungguhnya sudah lama terkubur di negaranya.

Baca Juga : Sihir Materialisme Dalam Mitos dan Fantasi Kepahlawanan

Sejauh ini ide globalisasi memenangkan pengaruhnya di Perancis, Jerman, dan sejumlah negara maju di Uni Eropa – kecuali Italia yang dalam Pemilu terakhir dimenangkan oleh kelompok Eurosceptic. Sedangkan di Amerika Serikat sendiri berdasarkan hasil Pemilu Sela awal November, kendati Presiden Donald Trump masih memegang kendali di Senat, namun partainya kalah telak dalam pemilihan anggota DPR. Program-program Trump yang anti imigran akan banyak terhambat. Proyek mercu suar membangun tembok perbatasan dengan Meksiko pun terancam kandas.
Dalam artikelnya, Adelman menyoroti kehadiran ketiga pemimpin negara Baltik yang berkunjung ke Elysee Paris – istananya Presiden Macron – sepulang dari kunjungannya ke Washington DC pada bulan April lalu. Sebagaimana digambarkan jurnalis The Guardian Ben Jacobs, sessi jumpa pers antara Trump dan ketiga pemimpin Baltik itu berjalan hambar dan tergesa-gesa.

Ketiga pemimpin – masing-masing dari Estonia, Latvia dan Lithuania itu pun mengadukan “nasibnya” kepada Macron di istananya. Mereka ungkap cerita konyol yang sebenarnya tidak patut dilakukan oleh seorang Presiden AS. Sebut saja tentang caci maki Trump tentang peran ketiga negara itu dalam konflik Yugoslovakia di masa lalu. Kebetulan istrinya – Melania Trump – berasal dari sana. Trump mencaci ketiga pemimpin yang juga anggota NATO – dan anehnya Trump menyarankan agar ketiganya bergaul dengan Rusia yang berkali-kali mengancam mereka.

Macron terkesan dengan cerita itu. Dia mengisahkannya kembali kepada pemimpin-pemimpin dunia yang datang ke istananya. Media terkemuka di Perancis, Le Monde, menyebut Trump sebagai biang pencari masalah yang bodoh – sebuah pandangan yang kembali dibuktikan saat pemimpin dunia berkumpul di Perancis dalam rangka memperingati 100 tahun gencatan senjata yang mengakhiri Perang Dunia I. Pertemuan yang mestinya menjadi Panggung AS untuk mengokohkan perannya dalam Aliansi Trans Atlantik justru berubah menjadi panggung yang memudarkan reputasi AS.

Baca Juga : Kim Vs Trump, Era Baru Perang Dingin – Kilas Balik (Bagian 1)

Bencana dimulai ketika Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan lewat tweet. Trump mengecam presiden Perancis secara serampangan. Dalam tweetnya, Trump menulis “Presiden Macron dari Perancis baru saja menyarankan agar Eropa membangun militernya sendiri untuk melindungi dirinya dari AS, China dan Rusia. Sangat menghina, tapi mungkin Eropa pertama-tama harus membayar bagian yang adil dari NATO, yang sangat disubsidi oleh AS”. Padahal yang dimaksud Macron adalah perlunya membangun kekuatan pertahanan Eropa. Dalam hal ini Macron menyerukan lebih banyak cybersecurity – bukan tentara – untuk melindungi diri dari AS, China dan Rusia.
Tweet itu mempengaruhi kondisinya saat menginjakkan kaki di Paris. SIkapnya selama tinggal di Perancis menjadi aneh. Pertama, tiba-tiba dia memutuskan untuk mengurungkan jadwal takziah ke makam prajurit AS di Belleau Wood – tempat 1800 prajurit AS yang telah mengorbankan jiwa raganya dimakamkan. Ketidak-hadiran Trump ke pemakaman prajurit AS itu sendiri menjadi perbincangan kolega-koleganya di Gedung Putih.

Baca Juga : Kim Vs Trump, Era Baru Perang Dingin – Perang Generasi V (Bagian2)

Kedua, Trump sering terlihat uring-uringan saat makan siang dan makan malam. Trump merasa jengkel karena datang paling awal tapi merasa tidak dihargai atau menjadi pusat perhatian di antara 60 kepala negara yang hadir menjadi tamu Presiden Macron. Terlebih Presiden Perancis Emmanuel Macron membuat acara Parade Bastille terlihat mewah. Pentagon sendiri terkesima dengan acara itu dan menganggarkan USD 92 juta untuk perayaan Hari Veteran di Washington DC.

Ketiga, hal yang mungkin menjadi bahan cemoohan dunia adalah kedatangan Trump pada upacara hari Minggu di Arc de Triomphe dalam iring-iringan kecil para punggawanya, berpisah dari kepala negara lainnya yang tampak akrab berbaris dan bergandengan tangan menaiki Champs-Elysees yang dijaga security secara ketat. Namun Gedung Putih berkilah, tidak ikut sertanya Trump karena masalah keamanan. Satu-satunya pemimpin dunia yang tidak ikut berbaris – selain Trump – adalah Presiden Rusia Vladimir Putin.

Selama ini Macron dan Trump memang dujuluki media sebagai “bromance”. Sebagaimana dikutip dari Cambridge Dictionary, Bromance berarti a close, friendly, but not sexual relationship between two men – dekat, bersahabat tapi tidak ada ikatan sexual di antara kedua pria. Namun selama keduanya berada di satu kota, perbedaan keduanya sangat mencolok. Trump yang proteksionis dan Macron yang globalis masing-masing hanya bicara atas nama kepentingannya.

Tatkala Trump tampak merajuk dan menyendiri di kamarnya, Macron dan Kanselir Jerman Angela Markel pergi ke hutan di Compiègne – sebuah tempat di mana Jerman dan Sekutu menandatangani perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri Perang Dunia I pada tanggal 11 November 1918. Dalam momen itu Macron mentweet foto dirinya bersama Markel.

Televisi Perancis merekam banyak adegan dari kedua pemimpin Eropa yang bergerak di tugu peringatan – sebuah replika gerbong kereta tempat perjanjian itu ditandatangani. Pada satu momen, Markel yang lahir dan dibesarkan di wilayah komunis Jerman Timur merengkuh tangan Macron dan meremasnya. Sitauasinya berlangsung sangat emosional. Macron pun merangkulnya.
Trump yang tidak hadir di sana, untuk menebus rasa bersalahnya membatalkan kunjungan ke makam prajurit AS di Belleau Wood, tampak tergesa-gesa mendatangi tempat pemakaman prajurit AS lainnya di Suresnes pada hari Minggu. Ketika pemimpin dunia lainnya berkumpul pada sore hari untuk memulai tiga hari Forum Perdamaian Paris, Trump sudah dalam perjalanan kembali ke AS.

Baca Juga : Episode Panjang “Piala Dunia” Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Bagian 1)

Mengapa Trump melewatkan acara yang mestinya dianggap penting oleh siapa pun Presiden AS? Karena forum ini mewakili semua yang tidak pernah dilakukan oleh Donald Trump. Aroma globalisasi begitu kuat dalam forum ini, sedangkan Trump bergerak kea rah proteksi. Sebagaimana yang diungkap oleh penyelenggara, “Kerjasama internasional adalah kunci untuk mengatasi tantangan global. Tema globalisme juga tercermin dalam pidato Macron di Arc de Triomphe dan pesan Forum Perdamaian Markel.

Sangat ironis memang, tema globalisme itu sendiri merupakan konsep yang dikhotbahkan oleh Presiden AS Woodrow Wilson selama konferensi perdamaian 1919 yang berujung Perjanjian Versailles. “Amerika perlu tetap terlibat dengan dunia,” tutur Wilson. Namun sayangnya, tidak lama kemudian pecah Perang Dunia II dengan tingkat kehancuran yang lebih parah ketimbang Perang Dunia I.

Cerita Trump Vs Macron di atas dapat dijadikan cermin untuk pemetaan geopolitik dan geostrategi kita di dunia Internasional. Selain itu – sebagaimana diingatkan Macron – kita juga perlu memperkuat pertahanan cybersecurity untuk menangkal cyber attack yang kini hadir secara massif di sejumlah negara – termasuk di antaranya Indonesia yang kaya penduduk, sumber daya alam dan terletak di wilayah strategis.

Penulis Marlin Dinamikanto

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top