Perdebatan Ukuran Tempe Tidak Substantif; Cari Solusi, Bukan Sensasi – strategi.id
Dialektika

Perdebatan Ukuran Tempe Tidak Substantif; Cari Solusi, Bukan Sensasi

Strategi.id - Perdebatan Ukuran Tempe Tidak Substantif; Cari Solusi, Bukan Sensasi

Strategi.id – Tempe jadi semakin populer, karena dibawa-bawa ke dalam kontestasi Pilpres 2019. Cawapres Nomor Urut 02, Sandiaga Slahudin Uno mengaku mendengar keluhan dari emak-emak. Emak-emak curhat ke Sandi mengenai tempe setipis kartu ATM. Diduga melambungnya nilai tukar Dollar Amerika Serikat, berdampak pada kenaikan harga bahan baku tempe (kedelai impor) yang kemudian menjadikan tempe setipis ATM.

Pernyataan Sandi mendapat beragam respon, baik dari kubunya, maupun kubu Jokow-Ma’ruf. Relawan Jokowi-Ma’ruf sontak berupaya membuktikan ucapan Sandi salah besar. Mereka ada yang berfoto memegang tempe berukuran tebal, bahkan ada yang berupaya membuat festival masak-masak menggunakan tempe berukuran normal. Tujuannya, mengcounter ucapan Sandi. Kubu Prabowo-Sandi berdalih, itu merupakan curhatan dari emak-emak yang ditemui Mantan Wagub DKI Jakarta itu.

Untuk membuktikan omongan Sandi, Jokowi turun lansung melakukan pengecekan di Pasar Bogor, Jawa Barat. Sang Petahanan membuktikan, tidak ada tempe yang setipis kartu ATM. Belusukan memang menjadi ciri khas Jokowi. Sebagian besar masyarakat sepakat, Jokowi merupakan pemimpin pascareformasi yang mempopulerkan gaya belusukan. Belusukan dilakukan Jokowi sejak dirinya menjabat Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga kini menjabat sebagai RI 1.

Pascabelusukan yang dilakukan Jokowi ke Pasar Bogor, Sandi kembali mengajak Jokowi belusukan ke sejumlah pasar guna melihat sejumlah variasi ukuran tempe. Suatu hal yang aneh, Sandi mengajak pemimpin yang hobby belusukan untuk melakukan kegiatan yang jadi rutinitasnya di waktu segang. Ibarat kata kidz zaman now, “sandi ngajarin ikan berenang”. Suatu hal yang menurut saya kurang substantive.

Hentikan mencari sensasi dalam kontestasi Pilpres 2019. Cobalah merumuskan ide, gagasan dan solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat kita. Sejauh ini, yang lebih menonjol dari kedua kubu yang berlomba dalam kontestasi Pilpres 2019 adalah sensasi. Sementara prestasi dari keduanya, seolah tersapu oleh sensasi demi mencapai popularitas. Tempe yang menjadi salah satu makan favorit masyarakat Indonesia, tak luput dari upaya untuk mencari sensasi.

Menurut saya dari pada keduanya sibuk rebut masalah pembuktian ukuran tempe, lebih baik dicari solusi supaya Indonesia tidak lagi menjadi importer terbesar untuk kedelai. Aneh, makanan favorit masyarakat kita, tapi bahan bakunya saja impor. Bagi kedua kubu, baik Jokowi-Ma’ruf atau Prabowo-Sandi cobalah menghentikan pembahasan mencari sensasi soal ukuran tempe, dan mulai memikirkan solusi apa yang harus dilakukan untuk terlepas dari ketergantungan impor bahan baku utama pembuatan tempe.

Sandi merupakan lulusan terbaik dari universitas di luar negeri, pengusaha muda hebat yang dibanggakan oleh sebagian masyarakat. Sayang jika sekadar mengangkat masalah tempe setipis kartu ATM, mengapa dirinya tak mencoba merumuskan kebijakan pengembangan keledai lokal sebagai bahan baku tempe? Juga melihat potensi lain yang memungkinkan Rakyat kita tergantung pada bahan baku impor. Misalnya budaya mengkonsumsi mie yang rata-rata bahan utamanya adalah gandum. Di mana kita bisa temukan kebun gandum di Indonesia? Mungkin tidak ada.

Coba lah Sandi merumuskan bagaimana solusinya agar kita lepas dari ketergantungan impor, dan bila perlu terlepas dari ketergantungan akan dollar, yang katanya berdampak pada produk tempe yang setipis kartu ATM. Jujur saja, Pemerintahan Jokowi sejauh yang saya lihat sudah berupaya untuk melepaskan diri dari transaksi menggunakan dollar. Salah satu buktinya adalah kesepakatan Tiga Negara ASEAN (Indonesia, Malaysia dan Thailand) untuk menggunakan mata uang masing-masing negara dalam bertransaksi dan berdagang.

Bagi kedua tim pemenangan, relawan dan juga simpatisan, hentikan mencari sensasi, dan mulailah rumuskan solusi dan tonjolkan prestasi. Negeri ini tidak akan maju, sejahtera serta bahagia Rakyatnya jika calon pemimpinnya hanya mencari sensasi. Kedua kubu pasti punya tujuan baik untuk memimpin Rakyat menuju Indonesia Raya yang sesungguhnya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top