Iklan

Kategori: Corong

Peringatan Hari Anak Nasional; Anak Siapa?

Strategi.id- Melalui pergulatan pemikiran di kalangan kaum pergerakan kemerdekaan yang dilakukan secara periodik setiap Selasa Kliwon sejak tahun 1920, dua tahun kemudian lahirlah apa yang kemudian dikenal sebagai Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Kristalisasi dari proses yang berlangsung selama dua tahun tersebut dirangkum dalam sebuah risalah yang bernas dengan judul Azas-azas Taman Siswa 1922. Azas-azas yang bernisbat pada dua perihal sebagai subyek utama, perihal anak dan perihal pendidikan. Ada tujuh azas keutamaan yang tertulis di dalam risalah tersebut.

Baca Juga : Bahaya Laten ORBA: Stempel Komunis!

Pertama, hak seseorang untuk mengatur diri sendiri dengan mengindahkan kehidupan dalam masyarakat yang harmonis, itulah asas utama kita. “Tertib dan damai” itulah tujuan kita yang tertinggi. Tidak akan ada ketertiban jika tidak ada kedamaian. Sebaliknya tidak akan ada kedamaian, selama orang dirintangi dalam mengembangkan hidupnya yang wajar. Tumbuh menurut kodrat, -suatu syarat mutlak bagi pertumbuhan yang wajar- mengutamakan perkembangan diri menurut kodratnya.

Oleh karenanya kita menolak faham pendidikan dalam arti dengan sengaja membentuk watak anak melalui sarana “perintah – paksaan – ketertiban”. Kita menganut cara pendidikan berdasarkan pengabdian, yang merupakan syarat bagi perkembangan wajar kemampuan anak lahir dan batin. “Cara” yang demikian inilah kita sebut “Sistem Among.”

Kedua, dalam sistem ini maka pengajaran tidak lain daripada cara mendidik anak untuk menjadi manusia yang merdeka dalam perbuatan. Disamping mengajarkan pengetahuan yang perlu bermanfaat, maka si guru berkewajiban untuk membina kemampuan anak agar (dapat) mencari sendiri dan memanfaatkan pengetahuan itu. Inilah yang diutamakan “Pengajaran Among.” Pengetahuan yang npenting dan bermanfaat ialah yang dapat memenuhi tuntunan keperluan hidup lahir batin manusia, sebagai warga masyarakat.

Ketiga, kita sebagai bangsa, hidup dalam keadaan kebingungan didalam menghadapi masa depan. Tertipu oleh kebutuhan buatan yang dikarenakan hasil pengaruh kebudayaan asing, (yang dlm mencapainya) sukar dipenuhi dengan alat-alat kita sendiri, maka sebenarnya kita sering kali turut mengganggu kedamaian hidup kita sendiri.

Akibatnya, kita senantiasa merasa tidak puas. Akibat lain ialah, bahwa kita mengembangkan secara berat sebelah daya pikir kita, yang menjadikan kita manusia yang tidak merdeka dalam bidang ekonomi serta mengasingkan kita dari bangsa sendiri. Karena itu maka dalam keadaan yang membingungkan ini, hendaknya sejarah kebudayaan kitalah yang dijadikan titik tolak kemajuan kita. Hanya atas dasar peradaban sendirilah maka kita dapat membangun secara damai. Dalam bentuk yang mencerminkan kepribadian nasional kita, hendaknya bangsa kita tampil ke depan dalam pentas-arena internasional.

Keempat, pengajaran yang bagaimanapun tingginya tak akan bermanfaat, jika hanya dicapai oleh satu-dua lapisan masyarakat saja. Pengajaran itu harus menyebar ke masyarakat yang lebih luas. Kekuatan suatu negara ialah kekuatan jumlah warganya. Maka cita-cita kita ialah perluasan pengajaran rakyat. Peningkatan mutu pengajaran janganlah sampai mengorbankan perluasan penyebarannya.

Baca Juga : Dr Emrus: Pencopotan 3 Jenderal Bukti Polri Tidak Pandang Bulu

Kelima, melangsungkan tiap-tiap Asas memerlukan kemerdekaan. karena itu maka kita tidak menyandarkan diri pada bantuan dan sokongan orang lain, yang dapat mengurangi kemerdekaan kita. Kita bersedia menerima bantuan dari pihak lain, namun kita tetap menolak sesuatu bantuan yang dapat menjerat kita. Demikianlah kita memerdekakan diri dari segala hubungan yang mengikat, dan memupuk diri kita berkepercayaan kepada kemampuan diri sendiri.

Keenam, karena kita bersandar pada kemampuan diri sendiri, maka cara hidup kita haruslah sederhana. Tidak ada suatu usaha yang akan bertahan lama, jika ia tidak dapat menghidupi diri sendiri. Oleh karenanya, maka dalam segala usaha kita harus dapat membiayai diri sendiri (Zelfbedruiping : berdikari).

Ketujuh, bebas dari segala ikatan lahir maupun batin, dengan hati suci kita mendekati Sang Anak. Kita tidak meminta hak, melainkan menyerahkan dan mengabdikan diri kepada Sang Anak.

Di dalam ketujuh asas tersebut, anak dan pendidikan ibarat sekeping mata uang dengan dua sisi berbeda yang tak terpisahkan. Sekeping mata uang peradaban yang digunakan untuk berbelanja kemerdekaan.

Kemerdekaan yang membikin setiap anak bertumbuh kembang tanpa penindasan dan penjajahan yang bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Dan pastinya kemerdekaan yang sama sekali bukan bermakna kebebasan liberal, liar tanpa batas.

Kemerdekaan yang dimana internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar dalam buminya nasionalisme. Sebaliknya, nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme.

Kemerdekaan sebagai sebuah Taman Sari yang tertata dengan asri dan indah dimana semua mahluk di dalamnya hidup tanpa penindasan dan penjajahan.

Taman Sari yang berisi anak-anak yang terlahir dari Perguruan Nasional Taman Siswa. Sebuah proses pendidikan secara berjenjang dimana setiap anak mengawali langkahnya dari Taman Indria (TK), lalu berturut-turut dilanjutkan Taman Muda (SD), Taman Madya (SMP), Taman Dewasa (SMA) hingga sampai ke Taman Guru (Universitas).

Sebuah proses pendidikan yang misinya memerdekakan segenap anak bangsa sejak dari pikirannya untuk menjadi agen-agen perubahan –agent of change- dari sebuah peradaban yang “berketuhanan yang maha esa” dan “berkemanusiaan yang adil dan beradab” dalam missi “To Build The World Anew.”

Jika saja tanggal 2 Mei yang merupakan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara kemudian ditetapkan untuk diperingati sebagai Hari Pendidikan nasional, maka tanggal 3 Juli 1922 sebagai hari kelahiran Perguruan Nasional Taman Siswa sudah sepatutnya-seperlunya-sepantasnya-setepatnya-selayaknya- diabadikan dan ditetapkan untuk diperingati sebagai Hari Anak Indonesia.

Tanggal 3 Juli menjadi sebuah momentum kebangsaan yang diperingati setiap tahun untuk mengenang sebuah proses dialektika sejarah yang ikut melahirkan sebuah gagasan besar sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pergerakan kemerdekaan Indonesia, sebuah karya peradaban tentang masa depan Anak Indonesia.

Alih-alih diperingati, ironisnya segala perihal terkait Perguruan Nasional Taman Siswa, termasuk juga proses sejarah kelahirannya, seolah menguap hilang tandas tak berbekas dari memori kolektif jutaan orang Indonesia yang acapkali mudah terjangkit amnesia. Dengan mudahnya memori lama dipelintir bahkan dihapus, lalu diganti dengan memori baru sesuai kepentingan penguasa baru demi memuaskan ego megalomania kekuasaannya.

Pada konteks itu, menjadi benar adagium yang kerapkali disitir dari ungkapan Winston Churchill, “History has been written by the victors.” Orde Baru dibawah komando Soeharto sebagai Presiden, secara ahistoris menetapkan Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984.

Bagi bangsa Indonesia , Penetapan tanggal 23 Juli untuk diperingati sebagai Hari Anak Nasional pastinya tidak mewakili momentum kesejarahan apapun yang pantas untuk dikenang dan diperingati. Tetapi tentunya tidak bagi Soeharto yang otoritarian dan despotik.

Bagi Soeharto, setidaknya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 yang dikeluarkannya pada tanggal 19 Juli 1984 menjadi kado ulang tahun terindah bagi Bambang Trihatmojo yang ketika itu merayakan ulang tahunnya ke 31 pada tanggal 23 Juli 1984, tepat empat hari setelah diterbitkannya.

Sebagai seorang ayah, Soeharto hanya perlu menggunakan sedikit kekuasaannya yang sangat otoritarian untuk memaksa secara halus seluruh rakyat Indonesia ikut merayakan ulang tahun anaknya, Bambang Trihatmojo, atas nama Peringatan Hari Anak Nasional.

Tentu kita semua sepakat untuk mengakhiri dan menghentikan sisa-sisa proses pembodohan warisan Orde Baru yang masih berlangsung hingga saat ini di setiap sendi peri kehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara.

Kita hanya bisa berharap bahwa benar sebagai Presiden tentunya seorang Joko Widodo bukan jadi bagian dari mereka yang terkena amnesia sejarah, dan terlebih lagi bukan pula bagian dari rezim Orde Baru.

Baca juga : Ada 2 Isu Dalam Aksi Demo 16 Juli 2020 Dengan Potensi Konflik Horizontal

Sehingga masih tersisa harapan semoga saja Presiden Joko widodo berkenan meluangkan waktu di masa periode kedua pemerintahannya untuk mengembalikan buah karya adiluhung yang terkandung dalam azas-azas Taman Siswa 1922 dengan menetapkan Hari Kelahiran Perguruan Nasional Taman Siswa tanggal 3 Juli sebagai Hari Anak Nasional dalam sebuah Keputusan Presiden Republik Indonesia.

Itu saja, tak lebih!

Penulis : Mahendra Dhaandi Uttunggadewa,Budayawan dan Pemerhati Sosial Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

Diwartakan Oleh:
Danar Priyantoro
  • Berita Terbaru

    Ketua DPD RI LaNyalla Mattalitti dapat Gelar Tetue Bebuyutan Rambang Kuang

    Strategi.id - Kunjungan kerja Ketua DPD RI ke Sumatera Selatan dalam rangka sosialisasi tentang Rancangan…

    21 September 2020

    Kapolda Riau Kerahkan Satgas Pemburu Teking Covid-19 Operasi Yustisi

    Strategi.id - Bertempat di Kantor Walikota Pekanbaru Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru pada Minggu (20/09/20), Kapolda…

    21 September 2020

    Polres Batu Bara Terus Lakukan Razia Yustisi di Kota Tanjung Tiram

    Strategi.id - Polres Batu bara Terus lakukan Razia Yustisi Kota Tanjung tiram Kabupaten Batu bara…

    20 September 2020

    Gerombolan Separatis Teroris Papua Makin Beringas Menjelang Sidang Umum PBB

    Strategi.id - Aksi teror gerombolan separatis teroris Papua terhadap masyarakat, TNI dan Polri terus berlanjut…

    20 September 2020

    Malam Hari, Polres Tapsel Tetap Laksanakan Patroli Adaptasi Kebiasaan Baru

    Strategi.id - Tidak mau Covid-19 berkembang di tengah masyarakat Tapsel dan Paluta, hingga malam hari…

    20 September 2020

    Hiasi Masa Kecil Anak Perbatasan, Satgas Pamtas RI-PNG Gelar Nonton Bersama (NOBAR) Di Tapal Batas

    Strategi.id - Jauh dari hiruk pikuknya kota-kota besar dimana anak anak pada umumnya dapat menonton…

    20 September 2020

    This website uses cookies.