Perkuat Supervisi Pemerintah terhadap TK dan PAUD! – strategi.id
Dialektika

Perkuat Supervisi Pemerintah terhadap TK dan PAUD!

Strategi.id - Perkuat Supervisi Pemerintah terhadap TK dan PAUD!

Strategi.id – Ketika viral video murid-murid TK dan Paud dari Probolinggo Jawa Timur berpawai HUT RI ke-73 dengan  memakai jubah hitam dan menenteng  replika senjata otomatis yang kerap disematkan pada kelompok jihadis-takfiri, langsung berkelebatan di dalam memori saya beberapa peristiwa terkait simbol-simbol kelompok militan konservatif itu dengan anak-anak, diantaranya:

Pertama, foto-foto dan video propaganda murid TK dan Paud yang banyak berseliweran di medsos antara tahun  2015-2017  yang memperlihatkan cara ISIS mendidik anak-anak kecil di daerah yang dikuasai dengan  latihan keras beladiri, penyerangan, dan penggunaan senjata.

Kedua, kabar tewasnya Hatf Saiful Rasul, bocah 11 tahun asal Indonesia, pada September 2017. Ia diketahui bersama beberapa teman dan guru sekolahnya di daerah Bogor berangkat ke Suriah untuk menjadi petarung ISIS.

Ketiga, serangkaian serangan teror Bom bunuh diri di beberapa lokasi di Surabaya pada pertengahan Mei 2018 lalu yang melibatkan satu keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dua anak laki-lakinya yang masih remaja, dan dua anak perempuannya yang masih kecil.

Lewat media diketahui TK di Probolinggo yang berpawai dengan bercadar dan bersenjata otomatis mainan itu adalah sekolah yang dikelola asosiasi para istri Angkatan Darat (Persit) yang kabarnya di bawah pengawasan  Kodim setempat, yang selama ini dipersepsi bakal waspada pada kelompok militan jihadis-takfiri.

Meski telah diklarifikasi oleh Kepala Sekokah TK dan juga kepala komando militer setempat bahwa tema yang diusung adalah meningkatkan Imtaq, namun jika memang begitu bukankah atribut yang digunakan bisa saja memakai simbol-simbol nasional, seperti busana umumnya maupun busana daerah, dan bukan identitas yang melekat pada kelompok militan.

Mendikbud Muhadjir Effendi yang mengunjungi Probolinggo setelah ramai pemberitaan kasus itu merasa tidak melihat ada yang keliru dengan tema perjuangan umat muslim dalam kemerdekaan Indonesia yang diusung pada pawai TK tersebut, lantaran ada bendera merah putih dilibatkan sebagai properti pawai itu, seraya ia pun menyesali pengunggah pertama video yang viral itu sebagai mendistorsi pesan pada tema pawai tersebut.

Muhadjir juga mewanti-wanti agar ke depan pihak sekolah lebih jeli memakai simbol-simbol terkait dengan tema dengan tidak menggunakan simbol-simbol yang dapat ditafsirkan keliru oleh masyarakat luas.

Namun, sebagai Menteri seharusnya Muhadjir tidak sesederhana itu melihat persoalan yang muncul di permukaan. Ia harus lebih progresif lagi dalam menyusun langkah-langkah pembenahan.

Hal ini mengingat jumlah TK yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia mencapai lebih dari 88.000 pada tahun 2016-2017 berdasarkan data Kemendikbud. Dan ada lebih 105.000 kelompok bermain dan sejenisnya itu baru yang terdata, entah jika digabung  mengatakan yang belum terdata.

Besarnya jumlah TK dan kelompok bermain itu ternyata supervisi dari pemerintah selama ini sangatlah lemah. Jika pun ada pengawasan cuma berkutat melulu pada soal-soal administratif, seperti ketersediaan jumlah dan rasio guru, ketersediaan fasilitas, perlengkapan bermain anak.

Sementara persoalan muatan kurikulum TK dan kelompok bermain yang mampu menjamin tidak bakal diselundupkannya muatan materi pembelajaran yang keliru dan dapat membentuk pemahaman kekerasan ala kelompok jihadis-takfiri pada diri anak, tidak menjadi perhatian utama kemendikbud dan dinas pendidikan di pelbagai daerah selama ini.

Sehingga di jenjang pendidikan TK dan kelompok bermain inilah yang amat rentan disusupi pikiran-pikiran sesat ke dalam diri anak.

Mengingat reticular activating system (RAS) pada otak anak TK atau PAUD belum berkembang baik dalam melakukan sensor terhadap segala informasi yang masuk, maka segala pikiran yang baik maupun pikiran sesat sekalipun, akan dengan mudah “diinstalkan” ke dalam sistem memori dan pemahaman anak tanpa hambatan berarti. Cuma lima hal saja yang dibutuhkan, yakni:

  1. Pikiran itu disampaikan oleh figur otomatis seperti guru atau otangtua;
  2. Pikiran itu disampaikan dengan kadar emosi yang tinggi;
  3. Pikiran itu direpetisi sesering mungkin;
  4. Pikiran itu dikuatkan dengan sumber-sumber lain (bacaan, film, dsb);
  5. Pikiran itu dikaitkan dengan faktor emosi yang signifikans.

Mengerikan bukan, jika yang dimasukkan ke dalam memori dan sistim pemahaman anak adalah pikiran-pikiran sesat?

Untuk itu, ayo pak Mendikbud dan para Kepala Dinas Pendidikan di daerah, bergegaslah memperkuat supervisi kalian terhadap kurikulum TK dan PAUD!

Salam Anak Nusantara.

Penulis Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top