Persiapan Seren Taun 2018 Masyarakat Adat Sunda Wiwitan – strategi.id
Budaya

Persiapan Seren Taun 2018 Masyarakat Adat Sunda Wiwitan

Strategi.id - Saren Taun Masyarakat Sunda
Stategi.id - Persiapan Saren Taun 2018 Masyarakat Adat Sunda Wiwitan

Startegi.id -Masyarakat adat sunda wiwitan Paseban Tri Panca Tunggal, Kelurahan/Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, akan melakukan Upacar Adat Seren Taun pada tanggal 29 Agustus 2018 sampai 3 September 2018. Tradisi Syukuran yang diselengarakan setiap tanggal  22 Rayagung 1951 S  merupakan bulan terakir dalam penanggalan kalender Sunda.

Acara yang Mengambil tema ” Memperkokoh Adat Uutuk Memperkuat Karakter Bangsa”, merupakan Upacara adat seren taun syukuran masyarakat agraris sunda. Acara masyarakat adat tersebut masih tepelihara dan rutin digelar setahun sekali pada tanggal 22 Rayagung Tahun Saka. Prosesi upacara itu berpusat di halaman dan gedung Paseban Tri Panca Tunggal.Acara ini sudah dipersiapkan jauh jauh hari dan persiapannya sudah sampai 80%. Masyarakat Gotong Royong Mempersiapkan Acara ini.

 

Strategi.id - persiapan saren taun

Ketua Yayasan Tri Mulya Tri Wikarma yang juga Ketua Pelaksana acara Seren Taun masyarakat sunda wiwitan Cigugur Dewi Kanti mengatakan, masyarakat adat sunda Cigugur bertekad untuk terus melestarikan dan melakukan upaya perlindungan terhadap hukum-hukum adat warisan dari para leluhurnya.

“Betapa pun sulitnya mempertahankan tradisi dan adat di negeri ini, tetap kami tekuni, kami nikmati, pahit getirnya, manisnya kami tetap lakukan dan kami hadapi. Terkhusus pada persiapan penyelenggaraan seren tahun ini, kami merasakan begitu banyak tantangan, dan bagi kami itu tidak akan mengendorkan apa yang tadi kami katakan,” ujar Dewi Kanti.

Masyarakat adat yang sudah ada jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri, tuturnya, tidak akan melebihi sebuah ketentuan yang sudah diwariskan oleh leluhur. “Yaitu, tuntunan yang sudah diwariskan berupa manuskrip yang sudah jadi tata aturan kehidupan kami,” katanya.

Namun dengan berdirinya NKRI masyarakat adat pun menghargai sepenuhnya hukum-hukum negara sebagai bagian pembentuk kewarganegaran NKRI. Tidak sedikt pun niat melawan negara atau melalaikan hukum negara.

Dia menyebutkan, acara seren tahun masyarakat adat sunda Cigugur kali ini mengangkat tema memperkokoh adat untuk memperkuat karakter bangsa. “Bagi kami tidak ada yang melebihi kenyataan bahwa adatlah sebagai akar dan pohon penguat dari karakter bangsa. Kita sekarang melihat bahwa karakter bangsa banyak disharmonisasi karena akar-akar kebudayaan itu hanya dilihat sebagai tontonan yang diperuntukan untuk kepariwisataan,” ujarnya.

Rd Okki Satrio sebagai Dewan Pengarah mengharapkan bahwa Acara Seren Taun ini adalah sebagai pengingat akan keberagaman yang ada di Negeri Indonesia ini. Keberadaan adat istiadat dari peningalan adi luhur Bangsa Indonesia dalam banyak hal khususnya semangat Gotong Royong haruslah dilestarikan dan dikembangakn di Bumi Pertiwi ini.

Bahaya Radikalisme, Intoleransi dan Terorisme yang menghantui masyarakat Indonesia beberapa waktu terakir ini, haruslah kita Tangkal dan Musnakan di Bumi Pertiwi. NKRI dan segala turunan dan warisan budaya nya harus selalu kita jaga untuk tetap menegakan dan menjaga cita cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pungkas Rd. Okki.

Seren Taun sendiri adalah upacara panen padi yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan dalam bidang pertanian selama setahun yang telah berlalu dan harapan untuk setahun yang akan datang.

Lebih spesifik lagi, upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung . Ada dua lumbung; yaitu lumbung utama(leuit indung) ; serta lumbung pangiring atau leuit leutik (lumbung kecil). Leuit indung digunakan sebagai sebagai tempat menyimpan padi ibu yang ditutupi kain putih dan pare bapak yang ditutupi kain hitam. Padi di kedua lumbung itu untuk dijadikan bibit atau benih pada musim tanam yang akan datang. Leuit pangiring menjadi tempat menyimpan padi yang tidak tertampung di leuit indung.

Dalam Upacara Seren Taun inilah dituturkan kisah klasik pantun serta sastra sunda yang menceritakan tentang perjalanan Sang Hyang Asri atau Dewi Sri merupakan utusan dari Jabaning Langit diturunkan ke bumi untuk memberikan kesuburan tanah bagi petani.

Upacara Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak ( Menjemput Padi ), pada tanggal 18 Rayagung yang dilanjutkan dengan upacara penumbukan padi dan sebagai puncak acaranya pada tanggal 22 Rayagung. Ngajayak dalam bahasa sunda berarti menerima dan menyambut, sedangkan bilangan 18 yang dalam bahasa sunda diucapkan dalapan welas berkonotasi welas asih yang artinya cinta kasih serta kemurahan Tuhan yang telah menganugerahkan segala kehidupan bagi umat-Nya di segenap penjuru bumi.

Puncak acara Seren Taun berupa penumbukan padi pada tanggal 22 Rayagung juga memiliki makna tersendiri. Bilangan 22 dimaknai sebagai rangkaian bilangan 20 dan 2. Padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih. Bilangan 20 merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia.

Baik laki-aki ataupun perempuan memiliki 20 sifat wujud manusia, adalah : 1. getih atau darah, 2. daging, 3. bulu, 4. kuku, 5. rambut, 6. kulit, 7. urat, 8. polo atau otak, 9. bayah atau paru, 10. ari atau hati, 11. kalilipa atau limpa, 12. mamaras atau maras, 13. hamperu ataun empedu, 14. tulang, 15. sumsum, 16. lamad atau lemak, 17. gegembung atau lambung. 18. peujit atau usus. 19. ginjal dan 20. jantung.

Ke 20 sifat diatas menyatukan organ dan sel tubuh dengan fungsi yang beraneka ragam, atau dengan kata lain tubuh atau jasmani dipandang sebagai suatu struktur hidup yang memiliki proses seperti hukum adikodrati. Hukum adikodrati ini kemudian menjelma menjadi jirim ( raga ), jisim ( nurani ) dan pengakuan ( aku ). Sedangkan bilangan 2 mengacu pada pengertian bahwa kehidupan siang dan malam, suka duka, baik buruk dan sebaginya.

Dalam upacara seren taun yang menjadi objek utama adalah PADI. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah sunda lain pada umumnya merupakan daerah pertanian yang berbagai kisah klasik satra sunda, seperti kisah Pwah Aci Sahyang Asri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning Langit yang turun ke bumi. Dalam upacara seren taun inilah dituturkan kembali kisah-kisah klasik pantun sunda yang bercerita tentang perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri. Selain itu, padi merupakan sumber bahan makanan utama yang memiliki pengaruh langsung pada ke-20 sifat wujud manusia diatas.

Di kawasan Cigugur, di kaki Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, upacara Seren Taun dipusatkan di pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840.

Tiga tahapan ritual dalam upacara Seren Taun.

Pertama adalah Damar Sewu; Sebagai gambaran manusia dalam menjalani kehidupan baik sosial maupun pribadi.

Damar sewu atau seribu damarmerupakan acara pembuka dalam upacara seren taun. damar sewu biasa diadakan pada malam hari (sekitar jam 7 malam) damar sewu dimulai dengan penyalaan obor besar yang ada di halaman gedung paseban tri panca tunggal oleh seorang pemuda yang menunggangi kuda sambil membawa obor. setelah obor besar menyala dilanjutkan dengan menyalakan obor obor lain yang berada di sepanjang jalan desa cigugur. pada upacara damar sewu ini desa cigugur akan diterangi oleh damar yang jumlahnya sangat banyak.

Hasil gambar untuk damar sewu seren taun

Kedua adalah Tari Buyung; Gerakannya Menggambarkan Penyelarasan Manusia Dengan Alam. Dalam tarian itu, manusia diajak untuk lebih dekat dengan alam dan mencintainya sebagai sahabat yang harus terus berjalan bersama.

Setiap gerakan dalam tari Buyung memiliki makna . Menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat relevansinya dengan ungkapan “di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”. Buyung adalah sejenis alat yang terbuat dari logam maupun tanah liat yang digunakan oleh sebagian wanita desa pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai, danau, mata air, atau di kolam.

Membawa buyung di atas kepala sangat memerlukan keseimbangan. Hal ini berarti bahwa dalam kehidupan ini perlu adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Pergelaran tari buyung dengan formasi Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu memiliki makna yang menyiratkan bahwa masyarakat petani Sunda adalah masyarakat yang religius. Sang Hyang Maha Kuasa diyakini sebagai segala asal-usul sumber hidup dan kehidupan. Sementara manusia merupakan mahluk penghuni bumi yang paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan Sang Hyang Maha Kuasa lainnya.

Alam penuh dengan energi. Alam selalu bereaksi dengan tingkah laku manusia, dan ikut mempengaruhi karakter manusia. Eksistensi dalam alam makrokosmos dilihat sebagai sesuatu yang tersusun secara hierarkis. Sehingga, secara moral manusia dituntut untuk menyelaraskan hidupnya dengan alam, yaitu antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam raya) untuk membuahkan kesadaran mengenai penghayatan iman terhadap keagungan Sang Hyang Maha Pencipta.

Hasil gambar untuk tari buyung seren taun

Dan yang ketiga Pesta Dadung; Sebagai Upaya meruwat antara energi positif dan negatif akan keseimbangan alam.

Pesta Dadung merupakan upacara sakral masyarakat dilaksanakan di Mayasih (kawasan gunung batu) yang merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan antara positif dan negatif di alam, jadi pesta dadung merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak mengganggu kehidupan manusia. Setelah pesta Dadung berakhir, bisanya akan ditanami pohon dikawasan tersebut

Hasil gambar untuk pesta dadung seren taun

Puncak Acara: Arak-arakan dari 4 penjuru

Puncak upacara Seren Taun serupa festival. Arak-arakan masyarakat terdiri dari 4 formasi barisan muda-mudi, ibu-ibu, bapak-bapak, dan rombongan atraksi kesenian yang membawa hasil panen dari empat penjuru Cigugur. Barisan terdepan, dua orang pemudi membawa padi, buah-buahan, dan umbi-umbian yang diikuti oleh seorang pemuda membawa payung janur bersusun tiga.

Di belakangnya, ada 11 orang pemudi membawa padi bibit dengan dipayungi para jejaka. Jumlah sebelas melambangkan simbol saling mengasihi (welas asih). Baris ketiga, terdapat rombongan ibu-ibu yang membawa padi di atas kepala (nyuhun); sedangkan baris keempat, rombongan bapak-bapak memikul padi dengan rengkong dan pikulan biasa.

 

Seren Taun kali ini rencananya  akan dihadiri sejumlah kelompok masyarakat adat dari seluruh Indonesia dan Pejabat Pemerintahan baik dari Pusat maupun Daerah.  Suka cita dan kekhidmatan Seren Taun tak hanya dirasakan oleh masyarakat Cigugur, namun juga dirasa memberikan makna bagi siapa saja yang menyaksikannya.

So jangan Lewatkan acara ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top