Pertahankan dan Terapkan Konsep Kampung Tangguh atau Polisi RW, Salah Satu Solusi Menjaga Kamtibmas - strategi.id
Dialektika

Pertahankan dan Terapkan Konsep Kampung Tangguh atau Polisi RW, Salah Satu Solusi Menjaga Kamtibmas

Strategi.id - Pertahankan dan Terapkan Konsep Kampung Tangguh atau Polisi RW, Salah Satu Solusi Menjaga Kamtibmas

Strategi.id – Pandemi COVID-19 (virus corona) pada 2020 lalu, mendorong dibentuknya kampung tangguh di sejumlah daerah. Kampung tangguh dipelopori oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) serta didukung oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dengan nama Kampung Tangguh Semeru. Kemudian diadopsi secara nasional dan dinamai Kampung Tangguh Nusantara. Tujuannya adalah untuk mendisiplinkan warga agar benar-benar mengikuti protokol kesehatan (prokes), menekan dan meurunkan tingkat penyebaran COVID-19, menyelesaikan dampak sosial dari COVID-19, menjaga keamanan dan ketertiban wilayah, serta mengantisipasi dampak sosial akibat pandemi COVID-19.

Kampung tangguh melibatkan seluruh elemen masyarakat, secara bergotong royong menjaga lingkungan atau desanya sebagai upaya memutus laju penyebaran COVID-19 dan dampak yang ditimbulkannya. Konsep ini merupakan implementasi dari ekstrasi nilai-nilai Pancasila, dasar dan ideologi negara, juga pandangan hidup Bangsa Indonesia. Konsep dasar serupa dengan kampung tangguh digagas oleh Kapolsek Tanah Abang AKBP. Suyudi Ario Seto pada 2013 lalu, dan dilanjutkan di wilayah Polrest Metro Jakarta Pusat saat Suyudi menjabat sebagai Kapolrest di wilayah tersebut pada 2017.

Melihat perkembangan kondisi keamanan lokal maupun nasional, konsep kampung tangguh atau Polisi RW/Kawasan perlu dipertimbangkan untuk tetap dipertahankan dan dilaksanakan pascapandemi COVID-19 berlalu. Ancaman terorisme, peredaran narkoba, dan kejahatan konvensional lainnya (pencurian, begal, pelanggaran lalu lintas dan sejenisnya). Pemaksimalan Bhabinkamtibmas dan peran serta masyarakat diperlukan dalam melaksanakan konsep kampung tangguh atau polisi rw/kawasan. Jika dimungkinkan, Bhabinkamtibmas bisa disebar sampai ke tingkat RW. Namun, jikalau ada keterbatasan SDM, pelibatan masyarakat perlu digalang dalam menjaga kemanan kampung, RW atau kawasannya.

Penyebaran Bhabinkamtibmas sampai ke tingkatan kampung, RW atau kawasan, juga pelibatan masyarakat mampu menjadi kekuatan untuk melakukan deteksi dini penyebaran paham radikal terorisme dan peredaran narkoba. Juga mencegah atau mewaspadai tindakan kejahatan pencurian, begal, dan pelanggaran lalu lintas. Bhabinkamtibmas mungkin bisa langsung melakukan penindakan pelanggaran dan tindak kejahatan, sementara itu masyarakat yang hendak berpartisipasi perlu dibekali dengan kemampuan dan akses komunikasi kepada aparat kepolisian di wilayah itu.

Masyarakat biasa mungkin tidak bisa melakukan tilang terhadap pelanggar lalu lintas, tetapi bisa saling mengingatkan dengan sesame masyarakat lain agar tertib lalu lintas. Pada dasarnya, sesama anak bangsa memiliki keinginan untuk saling menjaga dan memperingati, tetapi karena kurangnya bekal pengetahuan, pemahaman dan dibangkitkan rasa kebersamaannya, masyarakat seperti tidak saling peduli antara satu sama lain. Pembentukan SDM dari sumber di luar aparat kepolisian, sebagai bantuan tugas kepolisian perlu dipertimbangkan.

Kampung Tangguh dan Polisi RW/Kawasan perlu dipertimbangkan untuk tetap dijalankan, menurut pengamat kepolisian perlu dukungan SDM dan pendanaan di awal untuk menjalankan ide brilian tersebut. Selanjutnya, ketika masyarakat sudah merasakan manfaat dari konsep tersebut, dukungan dari mereka akan datang. Jika tercipta gotong royong antara polisi dengan masyarakat, terimplementasilah ekstrasi dari nilai-nilai Pancasila serta implementasi dari Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Pasal 30. Semoga Negara Bangsa Indonesia tetap terjaga keamanannya.

Penulis Oleh: Amos Tauruy (Pemerhati Ekopolin dan Sosial).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top