Peta Politik dan Cawapres Dalam Visi Seorang Jokowi - strategi.id
Dialektika

Peta Politik dan Cawapres Dalam Visi Seorang Jokowi

Peta Politik dan Cawapres Dalam Visi Seorang Jokowi (Foto : Strategi.id)

Strategi.id – Ada dua irisan konstelasi sekaligus kepentingan yang menyelimuti dinamika penentuan cawapres mendekati perayaan hari ulang tahun ke 73 RI. Pertama adalah kekuatan Orde Baru yang telah bermutasi pada intrumen-instrumen politik baru dan kematangan eksistensi politik figur-figur lawasnya.

Partai Politik baru selain Golkar yang menjadi “induk semang” sekaligus motor penggerak, tumbuh menjamur di era pasca reformasi. Kiprah jenderal aktif dan purnawirawan yang ada didalamnya. Tidak kalah penting, tentunya mesin politik yang menyebar dan bersemayam di sebagian besar birokrasi pemerintahan. Dengan kekayaan bertumpuk dan pelbagai pengusaan sektor strategis.

Itulah kekuatan ORBA yang lahir dari politik dinasti Soeharto yang didukung Amerika dan sekutunya, yang sampai sekarang gagah berani dan gegap gempita mewarnai negeri. Kedua, Semangat laten dari turunan pikiran dan warisan politik Soekarno yang berwatak kental sosialis.

Sama seperti ORBA, entitas politik yang sering dijuluki kekuatan Soekarnois dan korban ORBA itu juga bermutasi dalam partai politik meski hanya berubah nama, eksistensi pada sebagian figur lama dan sedikit sebarannya di birokrasi. Sayangnya kekuatan politik itu masih sangatlah lemah walaupun beberapa kali berkesempatan berkuasa.

Selain mudah dan seringnya disusupi kekuatan ORBA juga mental pragmatis elitnya, tidak adanya pemimpin yang kuat dan berkarakter, serta lemahnya koneksi poros politik internasional dari negara adidaya tertentu yang sebangun seidiologis.

Menjadi elemen kedua ini sebatas kekuatan “underdog” dan terkesan sebatas pengumpul pundi-pundi ekonomi layaknya ORBA.

Selebihnya selain dari kedua mainstream realitas politik negeri Panca Sila itu, tidak lebih merupakan partisan politik yang “oportunis dan having fun” seolah-olah politisi dan abdi negara. Kiblat politiknya selalu berorientasi pada atmosfer dukung mendukung dan sub koordinat siapa yang berkuasa.

Sementara, kekuatan umat islam yang historis dan radikal itu, selalu menampilkan sisi-sisi ironis. sering menjadi korban dari rentannya pakem patron klien. Dari aspek politik dan permasalahan kenegaraan, umat islam sering menjadi “kuda tunggangan” dan tereksploitasi dari kekuasaan politisi.

Walaupun belum lama ini ada kemunculan gerakan islam yang fenomenal melalui Aksi 212, tetaplah gerakan itu disinyalir dan cenderung bagian dari konpirasi politik praktis. Mungkin karena lemah iman pemimpin umat islam dan tidak solidnya kekuatan umat islam yang ‘branded’ itu, selalu menyebabkan islam terpinggirkan dan terisolasi dari kehadiran politik dan kekuasaan formal negara.

Menunggu Politik Hitam Putih Jokowi

Maraknya akrobatik elit dan partai politik. Menyebabkan publik dipaksa menikmati suguhan tontonan perebutan jabatan dan penguasaan atas sumber-sumber ekonomi yang berbungkus agenda kerakyatan.

Jelang pilpres 2019, situasi politik dan pertahanan keamanan negara kali ini agak berbeda dengan perhelatan pilpres-pilpres sebelumnya. Boleh dibilang kepemimpinan Jokowi hingga dipenghujung satu periodenya, bukan hanya menimbulkan “shock culture” bagi elit politik, melainkan juga pada sebagian besar rakyat yang lama menghirup nafas dari “subsidi oksigen” ORBA.

Kini, seorang Jokowi yang tergopoh-gopoh pelan tapi jalan terus menapak. Berusaha melakukan transformasi dan transisi nilai-nilai lama yang menghambat dan mengerdilkan Indonesia. Harus menghadapi tantangan dan gejolak luar biasa yang fragmentasinya datang dari dalam negeri dan dunia internasional. Saatnya keberanian Jokowi mengambil sikap tegas dan memutuskan untuk dekonstruksi dan rekonstruksi Keindonesiaan yang baru.

Mengelola partisipasi pilpres 2019 khususnya penentuan cawapres pendampingnya, harus bisa menjadi bagian dari trigger revolusi mental yang digadang-gadangnya untuk Trisaktinya Indonesia.

Pilihan politik Jokowi memang terbatas dan dilematis. Pilihan pertama dan menjadi mainstream adalah Jokowi dihadapkan pada sosok cawapres yang menjadi irisan ORBA dalam representasi kader Golkar dan atau figur militer dalam hal ini Angkatan Darat.

Seperti dalam pemilu-pemilu presiden dan wapres sebelumnya, jabatan orang nomor satu atau dua di republik itu, tetaplah menjadi panggung tetap dari sosok kental dan pengaruh ORBA. Kalau tidak Angkatan darat ya kader Golkar. Termasuk pendamping Jokowi di jabatan presiden periode pertamanya. Kalau pilihan itu tetap dilakukan, Jokowi dan pemerintahannya akan tersandera dan terbelenggu dari membangun kembali Indonesia yang seutuhnya seperti apa yang dgaungkannya melalui nawacita.

Indonesia tetap menjadi stagnan secara substansi meski pemerintahan berjalan relatif stabil dan kondusif. Indonesia akan semakin sulit seperti “jauh api dari panggang” menuju cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sementara pilihan kedua, dengan melirik cawapres non ORBA seperti dari kalangan profesional, intelektual dan representatif islam yang diatas kertas membuat jokowi independen dan leluasa menjalankan roda pemerintahannya. Jokowi akan menemukan kelemahan basis politik dan kekuatan di level akar rumput.

Dampaknya kepemimpinan Jokowi akan terpapar gonjang’ganjing dan prahara politik, keamanan, bahkan stabilitas negara. Bicara islam memang kekuatan besar dan mayoritas, tapi sejarah dan realitasnya rapuh dan tak akan pernah solid. Umat islam sering menjadi”kuda tunggangan” dan eksploitasi dari kekuasaan politisi dan elit negara.

Meskipun belum lama ini muncul gerakan umat islam yang fenomenal melalui Aksi 212, tetap saja geakan itu disinyalir dan cenderung menjadi bagian dari konspirasi politik praktis dalam dan luar negeri. Mungkin saja, akibat kelemahan iman dan visi kebangsaan para pemimpin umat, menyebabkan islam selalu termarjinalkan dan terisolasi dari kekuasaan politik formal negara. Sedangkan partai politik, telah lama menjadi tempat nyaman bagi berhimpunnya oligharki politik dan distorsi kedaulatan rakyat.

Semuanya itu dalam kedua pilihan menjadi simalakama dan keniscayaan politik bagi seorang Jokowi. Tapi, dengan keberanian, kesedrhanaan dan ketulusan jiwa untuk mengabdi pada bangsa dan negara. In shaa Allah Jokowi akan menemukan cawapresnya. Semoga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top