Piala Dunia Dan Kealpaan Nasionalisme – strategi.id
Dialektika

Piala Dunia Dan Kealpaan Nasionalisme

Indonesia lolos Piala Dunia FIFA 1938 di Prancis (foto :andukot.wordpress.com/is)

Strategi.id – Seantero dunia, seolah tersedot perhatiannya pada perhelatan kompetisi sepak bola yang digelar periodik empat tahunan itu. Semua mata terus tertuju mengikuti perkembangan kompetisi paling akbar sejagat, meski masalah-masalah dan beban kehidupan bernegara tidak serta merta hilang dari ranah kesadaran publik internasional.

Piala dunia Rusia 2018 kali ini, menjadi lebih menarik dan lebih historis bukan karena torehan catatan kontestasinya di lapangan hijau yang fenomenal semata, misalnya terjungkalnya tim-tim besar dunia di babak awal, atau mulai meratanya kemampuan sepak bola yang menjadi peserta, atau setidaknya beberapa negara telah menampilkan gaya dan pola permainan yang indah, cepat, dan offensif yang selama ini hanya menjadi hegemoni dan dominasi beberapa negara sepak bola tertentu.

Lebih dari itu, drama piala dunia 2018 juga berlangsung seiring dengan konflik dan ketegangan dunia, mulai dari pertempuran militer dan aksi terorisme di beberapa negara, masalah kebijakan perang dagang, hingga persoalan denuklirisasi yang menghantui dan mengancam stabilitas dan perdamaian internasional. Sorak-sorai dan gempita piala dunia telah bercampur dengan kecemasan dan kengerian situasi dunia yang diselimuti perang dan faktor-faktor lain yang mereduksi humanisme.

Seakan, Imperialisme dan kolonialisme, bersamaan dan bergantian, lewat piala dunia, menyajikan hiburan dan pembantaian, mementaskan pertunjukkan
kesenangan, tawa, tangis dan darah. Sepak bola, ajang unjuk rasa nasionalisme itu seperti tergilas oleh rezim pasukan internasionalisme yang tirani. Sementara, di negeri kita tercinta, juga tidak luput, gejolak tembusnya dollar ke angka 15 ribu rupiah, dipastikan akan cenderung banyak mempengaruhi situasi dalam negeri, walau mungkin baru terasa seraya memudarnya kenangan perhelatan piala dunia.

SIHIR dan SATIRE

Sepak Bola bukan hanya sekedar olahraga paling populer dan digemari di dunia, prestise dan simbol martabat negara, bukan juga hanya karena telah menjadi industri yang gemerlap dengan beredarnya nilai transaksi yang fantastis mendekati sukses pencapaian kapitalisme perdagangan dan industri lainnya yang umum dan strategis didunia, juga tidak kalah menariknya dengan surga pengolahan sumber daya alam ataupun bisnis senjata di dunia, atau glamournya penampilan pemain baik di arena maupun di luar lapangan hijau, bak pesohor dan selebriti dunia.

Sungguh menakjubkan pesona talenta dan panggung yang dibalut kapitalisme itu. Sepak bola memang telah menjadi ikon dunia. Semua mengidolakannya, anak muda dan orang dewasa, laki-laki dan perempuan bahkan anak-anakpun terobsesi, bercita-cita dan memimpikan menjadi pesepakbola internasional yang menyihir itu.

yang dikenal dunia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusianya itu, termasuk negara yang “miskin dan langka” keikutsertaannya dalam ajang sepak bola dunia sejak dahulu kala. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, begitulah skeptisnya Indonesia membangun kesebelasan dari 250 juta penduduk, yang tangguh dan disegani dunia. Tak ubahnya bagai mencari pemimpin yang ideal seperti ratu adil yang digambarkan membawa kemakmuran dan keadilan bagi negerinya.

Begitulah sebuah kesebelasan yang kuat dan berkarakter nasionalis didamba rakyatnya, yang membawa keharuman nama bangsa dan harga diri negara. Ternyata ada semacam “extrimis prejudice” yang menggelitik relung hati dan pikiran yang bisa juga dibawa ke ruang publik lebih serius. Di permukaan, realitas dunia sepak bola tanah air yang carut marut dan ironis itu, ternyata tidak bisa dipisahkan, kalau belum bisa disebut representatif dari suasana batin bangsa dan kenegaraan kita.

Sepak Bola nasional dengan segala keprihatinannya telah menjadi satire bagi patriotisme dan nasionalisme Indonesia. Prestasi jeblok, tawuran suporter, manjemen kompetisi amburadul dan wasit yang tidak independen, wajah sepakbbola tanah air memang belum beranjak dari situ.

KOLEKTIFITAS CERMIN GOTONG-ROYONG

Salah satu faktor fundamental dan menentukan dari ciri khas permainan sepak bola adalah permainan tim atau beregu, bukan individual atau perorangan. Suatu kesebelasan sepak bola dianggap kuat dan sulit dikalahkan, jika memiliki struktur dan skema baik pertahanan dan penyerangan yang baik.

Harmoni dan sinergi dari semua pemain di setiap lini merupakan syarat mutlak yang dibutuhkan kesebelasan untuk menghasilkan permainan yang indah sekaligus mematikan, setidaknya menjadi tim yang ditakuti dan disegani oleh lawan manapun. Irama permainan yang progress dan tidak monoton itu hanya bisa diwujudkan dengan kekuatan kolektif.

Membangun kegotongroyongan, menjaga stamina dan untuk terus menghidupkan daya dobrak untuk mencapai kemenangan tim. Dengan kata lain, membangun kekuatan sepak bola yang tangguh, juga berangkat dari kesadaran dan tekad sebuah upaya membangun kebhinnekaan, kemajemukan, pluralisme dan jargon-jargon realitas perbedaan lainnya namun dalam spirit keselarasan. Seperti mengelola ke-Indonesiaan itu sendiri.

Dalam wujud nyata, kesebelasan yang juara, juga hasil dari membangun keharmonisan dari tiap-tiap pemain yang berlatar belakang etnik atau suku, agama, atau ras lainnya yang disatukan oleh jersey. Oleh kebanggaan timnas, sebuah semangat patriotisme dan nasionalisme negara. Bercermin pada kecemburuan prestasi dan kebanggaan sepak bola kelas dunia yang ditampilkan negara-negara yang sesungguhnya juga tidak berlatar belakang mumpuni dalam hal sumber daya alam dan sumber daya manusia, lebih-lebih berangkat dari idiologi besar negaranya.

Pantaslah Indonesia, merefleksikan dirinya secara sungguh-sungguh, bukan lagi sebagai negara pecundang dalam sepak bola dunia. Menjebol dan membangun ke-Indonesiaan kita lebih jujur dan amanah, merevolusi diri untuk mencapai, bukan hanya semata prestasi dan kebanggaan sepak bola nasional.

Bahkan menjadi titik tolak membangun negara dan bangsa yang maju dan bermartabat sesuai cita-cita proklamasi. Menjadi negara yang disegani dan mampu menjadi pemimpin dalam semangat kesetaraan dan keharmonisan sesama bangsa di dunia ( to built the world a new ).

Kita punya Panca Sila yang diagung-agungkan itu, yang sering diteriakan dengan yel-yel hidup atau mati. Panca Sila itu harga mati, begitulah yang sering terdengar. Buktikan Panca Sila itu hidup dan tidak mati. Dalam sanubari hati, pikiran dan tindakan sebagai satu kesatuan negara dan bangsa.

Kegelisahan dan kecemasan kita akan kebhinnekaan dalam wajah persatuan dan kesatuan bangsa. Sesungguhnya bukanlah dan sekali lagi bukan, disebabkan maraknya propaganda dan anasir isu radikalisme dan fundamentalisme dalam kehidupan kita, justru karena mengasingkan Panca Sila dalam kesehariaan hidup kita.

Kita punya tapi tak memiliki Pancasila. Apalagi menggunakaannya. Kita lebih senang dan gandrung pada sihir yang meniadakan Panca Sila. Mengidolakan dan menjadi loyalis berhala kapital dan material. Menghujat dan anti radikalisme dan fundamentalisme, yang sayangnya nilai terbesar dalam Panca Sila kita adalah dalam kandungan itu. Mulailah dari yang kecil dan sederhana, di penghujung perhelatan piala dunia, semoga kita bisa merekonstruksi struktur berpikir dan mentalitas kebangsaan kita.

Karena bukan sekedar olah raga dan permainan, sepak bola adalah gotong royong yang nyata, persatuan dan kesatuan sudah harus bisa dibangun dan dimulai dari jumlah yang sedikit, dari sebelas ( 11 ) orang. Sebelum kita memimpikan Kemajemukan besar lainnya dan bersedih karena setiap juara piala dunia selalu dari negara yang tidak beridiologi gotong-royong Panca Sila.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top