Pilkada Cuma Pertandingan, Bukan Hidup Mati! – strategi.id
Dialektika

Pilkada Cuma Pertandingan, Bukan Hidup Mati!

pertandingan pilkada
strategi.id

Strategi.id – Ada dua “P” yang menjadi pusat perhatian masyarakat di Indonesia saat ini. Pertama adalah Piala Dunia 2018 di Rusia, kedua adalah Pilkada serentak 2018 yang akan memilih 171 kepala daerah (17 gubernur, 115 bupati, 39 wali kota) di seluruh Indonesia. Karakter pokok dua “P” ini sama, yakni pertandingan dan di dalamnya ada konsekuensi menang-kalah artinya Pilkada Cuma Pertandingan, Bukan Hidup Mati.

Layaknya sebuah pertandingan, maka di piala dunia maupun di pilkada pun dimeriahkan oleh para pendukung. Biasanya, para pendukung ini yang membuat sebuah pertandingan menjadi semakin panas. Di sepak bola, para pendukung meneriakkan dukungannya sejak sebelum pertandingan hingga pertandingan usai. Ada saling ejek antarpendukung hingga terkadang terjadi friksi yang menyebabkan bentrokan fisik.

Tapi begitu pertandingan usai, maka usai sudah semuanya. Yang menang bersorak, yang kalah tertunduk. Tapi semua sadar bahwa ini hanya pertandingan yang pasti ada konsekuensi kalah-menang. Toh berikutnya masih ada pertandingan dalam turnamen dan kompetisi lain yang bisa dimenangkan.

Pilkada sudah dilaksanakan Rabu (27/6/2018) kemarin. Sepanjang hasil penghitungan cepat menggunakan metodologi dan sebaran responden yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, hasil akhir penghitungan suara resmi dari KPUD tidak akan berbeda jauh.

Secara politik, hasil hitung cepat kemarin memang menunjukan betapa partai penguasa seperti PDIP hanya memenangkan empat calonnya dari 17 Pilgub. Hanya di Jawa Tengah partai Banteng ini unggul. Itupun tidak unggul mutlak sesuai prediksi padahal Jateng selalu disebut sebagai kandang banteng,

Di Jawa Barat dan Jawa Timur yang merupakan provinsi lumbung suara nomor satu dan dua di Indonesia, calon mereka keok. Tahun 2017 lalu, dua calon gubernur mereka yang menjabat petahana juga tumbang di provinsi kunci, yakni DKI Jakarta dan Banten.

PKS lebih mengenaskan lagi. Di tiga Pilgub di Pulau Jawa yang totalnya memperebutkan 88 juta suara, calon mereka tidak ada yang memang. Ini adalah warning bagi PDIP sebagai partai penguasa serta PKS yang belakangan dituding menjadi motor intoleransi sehingga muncul gerakan untuk membubarkan partai itu. Ini adalah “hukuman” dari rakyat yang harus dievaluasi secara serius menjelang Pemilu 2019.

Bagi rakyat, harus disadari bahwa Pilkada 2018—juga Pemilu 2019 mendatang, hanya sebagai kontestasi politik, pesta demokrasi. Namanya pesta, hasilnya ya harus disikapi dengan riang. Tidak perlu baper menanggapi kekalahan jagoannya. Toh beberapa calon sudah secara gentle mengakui kekalahan. Memang sih, banyak tudingan yang berseliweran di medsos soal kecurangan si ini, dicurangi oleh si itu, dan lain sebagainya. Tapi itu semua bisa dibaca sebagai argumen pembenaran dari tim agar terlihat bekerja di mata calon yang sudah mengeluarkan waktu, biaya, keringat, dan pikiran.

Rakyat tidak usah melihat itu seolah terjadi pembelahan yang demikian keras dalam Pilkada dan mungkin nanti Pilpres 2019. Sebab mungkin dan elite partai dan para calon itu sendiri mungkin sudah saling berangkulan usai pertandingan merebut kekuasaan atau berkuasa.

Jangan pula melihat pilkada dari sisi ideologis. Di sistem politik hiperliberal ini, tidak ada pembelahan dan kutub ideologis yang berhadapan setiap saat. Data yang beredar memperlihatkan, dari 171 daerah yang melaksanakan pilkada serentak 2018, ternyata mereka saling mendukung dan bekerjasama untuk merebut kekuasaan di daerah padahal secara ideologis selalu dianggap berbeda. PDIP dan Gerindra bekerjasama di 48 wilayah, yaitu di 5 provinsi, 37 kabupaten dan 6 kota. PDIP dan PKS bekerjasama di 33 wilayah, yaitu di 3 provinsi, 24 kabupaten, dan 6 kota. Sedangkan koalisi PDIP, Gerindra, dan PKS terjadi di 21 wilayah, yaitu 2 provinsi, 16 kabupaten, dan 3 kota.

Dari data itu, seharusnya rakyat kita yang sudah cerdas semakin menjadi kritis, bahwa pilkada maupun pilpres mendatang adalah soal pertandingan merebut kekuasaan, bukan soal ideologis. Religiusitas dan primordialitas hanya cara-cara tidak elok yang digunakan untuk kepentingan sesaat memenangkan calonnya.

Jadi jangan pernah menanggap hiruk pikuk politik seakan urusan hidup dan mati. Sekali lagi, itu hanya pertandingan lima tahunan. Sebab baik pendukung calon yang memang maupun yang kalah akan kembali berhadapan dengan realitas kehidupan: kebutuhan hidup yang kian tinggi dan daya beli yang semakin melorot.

Kalau masih ada yang menyebarkan ini itu yang negatif atas kemenangan satu calon, itu adalah kaki tangan, tim hore, maupun provokator entah dari mana yang terus berusaha agar sesama kita selalu gontok-gontokan!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top