Dialektika

Pilpres Ala “Idol”

Strategi.id - Ilustrasi Aktivis
Strategi.id - Ilustrasi Aksi Kembali ke cita cita Trisakti

Strategi.id – Dulu, sewaktu masih ada pemilihan Bintang Radio dan Televisi, juara penyanyi ditentukan team juri yang memiliki kompetensi. Penyanyi dinilai dari kemampuan vocal dan teknik vocal, memilih lagu, penghayatan atas lagu, teknik panggung, juga penampilan. Kriterianya jelas, terukur dan terbatas. Di luar itu, bukan ukuran menjadi juara.

Kini cara itu sudah ditinggalkan. Mungkin karena jurinya dianggap sering curang. Juri juga masih doyan uang toh? Atau cara ini kurang memuaskan karena tidak melibatkan kemauan penonton.

Jadilah kini penonton sekaligus juri. Melalui SMS, semua penonton punya hak suara untuk menentukan juara. Tak perduli dia cuma senang lagu tapi tak ngerti lagu. Ada juga yang –sudah tak suka musik tak bisa pula membedakan antara musik dan bunyi-bunyian-. Semua ikut menentukan juara. Sing penting semua punya hak.

Lantas dengan apa mereka menentukan juara? Berdasar kemampuan? Ada yang berdasar itu. Berdasar kesukaan? Ada. Berdasarkan gender? Ada. Semua “dasar” pokoknya bisa menentukan juara.

Dalam heterogenitas publik, baik itu profesi, umur, gender, suku, domisili, keyakinan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, minat, kesukaan dan sebagainya, kriteria juara menjadi seolah tak terbatas, tak terukur, akhirnya tak jelas. Publik yang beragam menilai berdasar ukurannya sendiri-sendiri yang tentu akan menjadi kian beragam. Begitulah akhirnya kriteria itu menjadi tak terbatas, tak terukur dan seolah tak jelas.

Benarkah kriteria perlombaan seperti itu tak terukur dan tak jelas? Sebenarnya tidak juga. Bukankah mereka yang beragam itu hanyalah satu jenis. Manusia. Tindakan pilihan hidupnya secara purba didasarkan pada keyakinan (spiritual/unreasonable) dan pada kesadaran materialnya (empiric/reasonable) yang bisa dihitung untung ruginya secara materi.

Maka tak boleh heran kita jika ada penyanyi (meski suara dan musiknya tak jelas) demikian popular hanya karena cantik, ganteng atau karena kesalehannya. Suatu ukuran yang tak ada hubungannya dengan dunia musik. Bukankah kita juga pernah memilih presiden karena kegantengannya?

Dalam dunia politik, kesadaran purba manusia itulah yang di era demokrasi ini menjadi objek eksploitasi para opinionmakers.Alat ukur hasil agregasinya adalah lembaga survey dengan kategori tingkat popularitas dan tingkat elektabilitas.

Lantas, dalam kontestasi Pilpres kali ini mengapa kita masih bertanya mengapa? Mengapa bekas tukang meubilair yang dicalonkan? Mengapa orang yang dipecat dari TNI ingin dijadikan Panglima tertinggi? Mengapa orang yang memiliki hutang trilyunan dianggap mampu memajukan kesejahteraan negeri? Mengapa orang yang hanya bisa berdoa dan jalannya sudah gemetar yang harus dipilih?

Rasanya itu sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab. Sebab pertanyaan itu pun sudah bergantian pernah dilontarkan oleh masing-masing kubu.

Saya sendiri justru punya pertanyaan di luar itu. Seperti ditanyakan oleh Theodore KS dan God-bless dalam Balada Sejuta Wajah:

Mengapa oh mengapa,
Sejuta wajah engkau libatkan
Dalam himpitan kegelisahan..
Adakah hari esok makmur sentosa
Bagi wajah-wajah yang menghiba….

Penulis : Ismail Arief aktif sebagai Dir. Lembaga Kajian sosial politik LENTERA

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 + four =

Atas