QUO VADIS Hari Pahlawan – strategi.id
Dialektika

QUO VADIS Hari Pahlawan

Strategi.id - QUO VADIS Hari Pahlawan

Strategi.id – Hari ini tanggal 10 November 2020 adalah hari memperingati para pahlawan secara resmi yang ke-61, jika merujuk regulasi yang menetapkan bahwa tanggal 10 November sebagai hari pahlawan didasari Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno.

Bagaimana kita memaknai hal tersebut sekarang ini ?

Menurut UU No.20 tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa Dan Tanda Kehormatan, serta Peraturan Pemerintah No.35 Tahun 2010, menjelaskan bahwa:

Gelar adalah penghargaan negara yang diberikan Presiden kepada seseorang yang telah gugur atau meninggal dunia atas perjuangan, pengabdian, darmabakti, dan karya yang luar biasa kepada bangsa dan negara.

Tanda Jasa adalah penghargaan negara yang diberikan Presiden kepada seseorang yang berjasa dan berprestasi luar biasa dalam mengembangkan dan memajukan suatu bidang tertentu yang bermanfaat besar bagi bangsa dan negara.

Tanda Kehormatan adalah penghargaan negara yang diberikan Presiden kepada seseorang, kesatuan, institusi pemerintah, atau organisasi atas darmabakti dan kesetiaan yang luar biasa terhadap bangsa dan negara.

Polemik Gatot Nurmantyo

Berdasarkan penjelasan dari Menko Polhukkam, Mahfud MD, bahwa mantan Panglima TNI 2015-2017 Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, salah seorang yang akan diberikan tanda kehormatan oleh Presiden Jokowi berupa Bintang Mahaputera Adiprana, seperti mantan Panglima TNI sebelumnya. Sampai pada titik ini tidak ada masalah.

Adapun persoalan mulai muncul saat ada beberapa anggota presidium KAMI yang menganjurkan sebaiknya pak Gatot Nurmantyo menolak menerima rencana pemberian tanda kehormatan tersebut, yang menurut analisisnya, ini sebuah cara pemerintah untuk “menjinakkan” gerakan KAMI yang menurut mereka mengambil peran sebagai “oposisi” dari Pemerintah.

Tapi kalau bagi masyarakat umum lainnya, yang menjadi pertanyaan adalah soal momentum pemberian tanda kehormatan tersebut yaitu akan diberikan pada saat Rakyat Indonesia memperingati hari Pahlawan, padahal jika melihat kelaziman dari pemberian tanda kehormatan kepada Mantan Panglima TNI lainnya, katakanlah Pak Moeldoko, itu diberikan saat perayaan kemerdekaan RI tgl 17 Agustus, bukan saat peringatan hari Pahlawan.

Kalau sekedar mencari alasan pembenar, soal mengapa hal tersebut diberikan pada peringatan hari Pahlawan bukan saat Peringatan perayaan hari kemerdekaan, tentu tidak sulit mencarinya secara retorika, meski sulit di mengerti dan dipahami secara Substansi dan Esensi dari makna Peringatan hari Pahlawan Nasional itu sendiri.

Pendangkalan Makna
Meski sebetulnya penetapan hari pahlawan tanggal 10 November, bukanlah berarti para pejuang sebelum atau setelah tanggal tersebut tidak bisa dikatagorikan pahlawan, tetapi itu sekedar penetapan momentum yang layak dijadikan simbolik dari sekian banyak dan panjangnya perjuangan para patriot yang ada dinegeri ini melawan penjajah. Dan tentu saja defenisi pahlawan tersebut dapat saja ber-ubah sesuai kemajuan zaman, sains dan teknologi. Namun secara Substansi dan Esensi haruslah tidak berubah.

Untuk itu mestinya kita dapat berpikir bersama, bahwa untuk menempatkan orang atau para tokoh yang di sebut pahlawan itu pada posisi sangat terhormat, tidak bisa di geser atau disatukan dengan aktivitas lainnya, yang sangat berjarak dengan makna kepahlawanan itu sendiri. Jika itu tetap akan dilakukan, maka sangat dimungkinkan dan beralasan jika dimaknai sebuah upaya sadar melakukan pendangkalan makna arti kata pahlawan.

Karena itu dapat dimengerti jika kemudian terungkap kalimat “Quo Vadis Hari Pahlawan ” ?

Penulis: Dr.USMAR. SE, MM
Kepala Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Prof.Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top